Selasa, 16 Juli 2013

Dekat

2 comments
Selama ini aku bertanya-tanya:

kenapa ada orang yang sudah hafidz Quran tapi masih pacaran?

kenapa ada orang yang tertib menjaga shalat 5 waktu tapi masih suka ngintip ramalan?

kenapa ada orang yang sudah bolak-balik haji tapi masih buka-tutup aurat?

serta pertanyaan-pertanyaan kecil tapi besar lainnya.


dan pertanyaan itu terjawab pagi ini, saat aku tengah berselancar di tumblr dan menemukan tulisan mas Kurniawan Gunadi yang berjudul Kedekatan (tulisan asli disini) :

Ceramah sebelum tarawih semalam di Masjid Salman membekaskan beberapa patah kata yang cukup mendalam.
Dekat secara fisik belum tentu dekat secara hati.
Saya bisa masuk ITB jauh-jauh dari provinsi lain. Sementara anak-anak di sekitar ITB, jangankan ITB. SMA saja sudah alhamdulillah. Banyak yang putus sekolah.
Teman-teman bisa masuk di kampus yang didiami saat ini, cobalah lihat ke sekitarnya. Betapa beruntungnya kalian bisa masuk kesana, ditengah-tengah masyarakat sekitarnya yang ternyata bisa dihitung jari berapa yang bisa sekolah.
Sama hal nya kedekatan kita kepada Al Quran, sering membacanya tidak menjamin kita bisa memahami isinya, apalagi mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak sekali pembelajaran, aturan hidup, pedoman, tuntunan, anjuran dan larangan yang secara terang-terang kita langgar, padahal kita rajin membacanya.
Apa yang menyebabkan kedekatan kita menjadi tidak bermakna sama sekali?
Mari kita mengkaji ulang apa yang menyebabkan kita menjadi ragu-ragu pada aturan yang telah Allah berikan sebagai tuntunan hidup kita? Apa yang membuat hati kita terasa jauh dari aturan tersebut dan terus menerus menolaknya.
Kedekatan fisik tidak akan bermakna apa-apa tanpa kehadiran hati. Dan selama hati kita masih terikat pada dunia dengan segala bentuk penolakan berdasar pada keinginan-keinginan kesenangan kita untuk hidup, selama itu pula kedekatan kita kepada-Nya tidak bermakna apa-apa. Sekedar menjalani ritual tanpa ada ruh didalamnya.
Astaghfirullah hal adzim….
Bandung. 16 Juli 2013

Mungkinkah aku juga, sekedar mendekatkan fisik agar terlihat baik, sedang hati tengah melayang tak padat pijakan.

Mungkinkah aku juga, hati yang masih terikat kencang pada dunia, mengabaikan titahNya demi kesenangan semu yang bahkan tak ada yang bersedia menjamin abadi.

Jadi ingat percakapan santai dengan Firdaus tentang tilawah kami masing-masing. Beberapa hari lalu dia bilang sudah akan touch down di juz 8. Aku bilang sama, lalu dia bilang "itu juga plus tadabburnya". Aku lalu berkilah, "bulan ini mau ngejar target tilawah, 2 kali khatam." Soalnya memang di luar Ramadhan juga biasanya mentadabburi, hanya saja,.... yah inilah cacatnya.

Ternyata khatam saja tidak cukup. Tadarrus, tanpa Tadabbur dan Tafakkur? Insya Allah tetap dapat pahala, tapi pemahaman? Apalagi sebagai orang non Arab yang membaca Quran dalam bahasa Arab, sudah barang tentu dirangkai menjadi "baca+pahami+amalkan", sama seperti keharusan trilogi "iman+ilmu+amal".


2 komentar:

  1. Ternyata membaca + tadabbur itu butuh perjuangan ekstra, terutama #sabar lho...!

    Tapi, selama niat sedari awal sudah tertata (harus selesai kapan dan dimana), insyaAllah membaca + tadabbur kita bakalan meluncur bak mobil ferari di jalan tol.. wusshh!

    Apalagi sekarang di bulan #ramadhan, dimana kita semua diberikan kemudahan untuk fokus beribadah.. dijamiin dehh! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiiin... semoga kita dimudahkan ya, dan niat awalnya selalu terjaga.
      Allah dulu, Allah lagi, Allah terus...

      toh, semua ini kita lakukan atas usaha mendekatkan diri padaNya kan ya? :)

      Hapus