Kamis, 30 Mei 2013

ini hanya fiksi (8)

Leave a Comment
Bolehkah Aku Tau Nama mu?


Hai, aku Ari. Boleh tau nama mu?

Namaku Ari. Malam Minggu ini aku memutuskan pergi ke bookfair di tengah kota alih-alih tinggal di kontrakan sendirian. Berkutat dengan buku dan komik jauh lebih menyenangkan dibanding ngapel di kostan anak gadis. Aku lebih suka berjam-jam membaca, main PES, nonton bola atau naik gunung bersama sohib-sohibku. 

Namaku Ari. Mahasiswa. Orang bilang aku jomblo, padahal tidak, aku ini masih single. Pacaran itu ribet menurutku, harus lapor-lapor ke orang lain segala macam setiap 5 menit sekali. Hubungan yang tidak dilindungi oleh pemerintah pula, males banget kan? Aku percaya pacaran bukan jalan yang baik untuk mendapatkan pendamping hidup. Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak pernah memikirkan tentang lawan jenis. Aku ini masih normal. Dan, ada seorang perempuan yang belakangan ini selalu mampir ke pikiranku, perempuan yang sangat ingin aku temui lagi, dimana pun dia sekarang berada, meski hanya untuk tau namanya.

Aku tengah berada di salah satu booth penerbit buku ketika melihatnya. Abu-abu. Kerudung dan roknya abu-abunya langsung menarikku ke arahnya bak magnet. Entahlah, dia bersinar. Matanya besar dan tajam. Aku ragu, jangan-jangan dia kesini dengan seseorang. ah tapi akhirnya aku mendekat pula ke padanya. Kini jarakku dan jaraknya tak lebih dari 2 jengkal, aku pun bisa lebih memperhatikannya diam-diam sambil pura-pura membaca buku. Dia begitu khusyuk menjelajahi sebuah ensiklopedia  hingga tak sadar aku beringsut mendekatinya. Seorang penjaga booth menjatuhkan buku tak jauh dari kami, menimbulkan suara gedebuk yang akhirnya membuatnya mengangkat muka mencari sumber suara. Saat itulah dia menatapku yang juga masih menatapnya. Dia tersenyum. Manis sekali. Itu senyuman termanis yang aku dapat seminggu terakhir ini, setelah senyum Dian Sastro yang aku lihat di sebuah iklan teve kemarin sore. Dia masih tersenyum ketika aku tiba-tiba gelagapan, sibuk membalik-balik halaman buku yang pura-pura aku baca.

Namaku Ari. Belum pernah aku segentar ini menghadapi perempuan. Dia kembali asyik dengan ensiklopedianya, dan aku saking gugupnya, hendak menyapa tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkonganku. Mulutku terbuka dan tak ada suara yang keluar. Ini aneh! Aku bergegas meninggalkannya menuju toilet.

"Assalamualaykum. Hai, boleh kenalan?
Hai, aku Ari. Kamu siapa?
Ari Dirgantara. Kamu?"

Aku berlatih berulang-ulang selama 10menit di toilet, berbicara pada dinding. Setelah memastikan suara dan penampilanku ok, aku keluar dan kembali ke booth tadi. Gawat!!! Tidak ada. Dia sudah pergi. Kemana ia? Sudah pulangkah? Pikiranku kalut, baru juga ditinggal sebentar padahal. Aku berputar dan mendapati kerudung abu-abu di deretan kursi depan panggung tak jauh dari booth tadi. Ah, ya... benar itu dia. Dia duduk sendiri membaca. Sebentar lagi acara talkshow dengan salah seorang traveller dimulai. Sang MC sibuk mondar-mandir menyapa para pengunjung. Aku mendekat dan tau-tau duduk sederatan kursi dengannya. Tujuanku duduk hanya ingin melihatnya lagi dan  bertanya siapa namanya, tak peduli dengan si traveller itu. Toh, kenal saja tidak. Deretan kursi itu terdiri dari 5 buah kursi kosong yang berjejer. Dia duduk di ujung kiri dan aku duduk di ujung kanan.

Ini saatnya, aku bertekad dalam hati.

Aku menggeser duduk dua kursi mendekat ke arahnya. Dia menoleh, tersenyum lagi. Dan lagi-lagi kekuatan yang aku kumpulkan di toilet tadi menguap bagai alcohol yang ditaruh di bawah terik matahari. Aku kikuk membalas senyumnya lalu lurus-lurus menatap ke depan.Tak berani berkutik.

Acara talkshow dengan salah seorang traveller dimulai. Dia menutup bukunya dan mulai menyimak obrolan MC dan sang traveller. Senyumnya semakin terkembang dan matanya berbinar-binar. Tampaknya dia sangat mengagumi sang traveller. Aku perhatikan ranselnya yang ditaruh di dekat kakinya, oh, pantas... ranselnya penuh dengan kain-kain tambalan bertuliskan nama-nama tempat tujuan travelling, Indonesia dan juga luar negeri. Semuanya dijahit acak hampir memenuhi tas. Ada beberapa gantungan kunci cinderamata dari Tangkuban Parahu, Malioboro Djogja, KarJaw, dan yang tak terlihat lagi.

Datang seorang ibu dan putranya yang berumur sekitar 10 tahun duduk disebelah kananku. Bisa saja ini aku jadikan alasan untuk menggeser duduk lebih dekat dengan perempuan bersenyum manis ini, tapi entah mengapa urung kulakukan. Aku takut mengganggunya. Beberapa saat kemudian, suami si ibu sampingku datang, berbicara dengan istrinya sembari berdiri. Perempuan itu menoleh ke kanan, ke arahku, tajam, tanpa berkata apa-apa. Aku terkesima, balas menatapnya. Lama, sekitar 2 menit yang aku rasa 2 tahun, lalu aku tersadar dia bukan menatapku, pandangannya melewatiku dan sampai ke bapak-bapak dan istrinya di sebelahku. Aaarrggghh...

Masa' iya dia tak menyadari kuperhatikan sedari tadi? apa sebenarnya dia sadar tapi sengaja mengacuhkanku? aku mulai berasumsi. Ya udahlah, langsung saja kusapa ya. Kebanyakan mikir nih malah ga jadi-jadi nih. Tepat saat itu ponselku berbunyi. Si Radit, teman kontrakanku memanggil.

"Halo.."
"Ri, dimana lo? Cepet pulang lah!"
"Di bookfair. ah, kenapa sih? gue lagi ada misi penting nih."
"Pulang sekarang dah! Kunci kontrakan gue ilang lagi, gue ga bisa masuk nih."
"Kebiasaan! Ga ah.. lo telpon Eko atau Panji sana! atau ga bobol aja deh.. "
"Gila! disangka maling habis lah gue. Eko kan pulang kampung. Panji juga lagi ngapel sama ceweknya. tolong dong, Ri..."
"Kampret lo! Ya udah, gue pulang nih!" aku berusaha mengecilkan suaraku.

Namaku Ari. Akhirnya aku pulang tanpa sempat berkenalan dengan gadis berkerudung abu-abu itu. Setelah hampir 1 jam mengintainya, ujung-ujungnya pun aku tak berani bahkan hanya untuk bertanya siapa namanya. Ini seperti udah nungguin ditraktir temen makan pizza sejak bulan lalu pas hari-H doi sakit, ga jadi nraktir, malah pinjem duit ke kita. Ngenes.

Yasudahlah. Kota tempat tinggalku ini luas, ditinggali oleh ribuan orang... tapi aku berkeyakinan kalo memang jodoh kita akan bertemu lagi kok. Sampai jumpa gadis berkerudung abu-abu, lain kali pasti akan kutanyakan siapa namamu.



Malang,
30 Mei 2013

0 komentar:

Posting Komentar