Kamis, 16 Mei 2013

Lelaki itu...

Leave a Comment
Ini tentang lelaki yang kepadanya jatuh cinta saya yang pertama.
Ini tentang lelaki paling jujur dan bertanggungjawab yang pernah saya kenal seumur 22 tahun hidup ini.
Bapak.
Bagaimana tidak, saat saya pertama tiba di dunia benderang ini, suara adzan dari mulut beliau lah yang sayup-sayup pertama dikenal oleh pengindera ini.

Bapak saya itu orangnya biasa aja, tapi secara personal, beliau luar biasa.
Pernah suatu kali saya bertanya-tanya, kenapa hampir semua orang yang ada di kota kami mengenal bapak, selalu menyapa... kata bapak, teman saja sedari dulu. Hingga pada suatu hari, saat bapak mengantar saya ke bandara, salah satu supervisor yang baru keluar dari kantor yang melihat bapak langsung datang menghampiri dan menyalami bapak. Setelah ngobrol sebentar, orang itu pamit dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Siapa, pak?" saya bertanya.
"Pak X. Dulu Bapak yang ngajarin, sekarang sudah jadi orang gede."

Saya diam. Mikir. Setau saya bapak ga pernah jadi guru. Sejak dahulu sudah berprofesi sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ah, rupanya banyak hal rahasia yang belum saya ketahui dari lelaki hebat ini...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maret kemarin, keluarga saya pindah keluar dari rumah dinas karena bapak saya sudah hendak pensiun. Rumah baru kami jaraknya hanya sekitar 300m dari rumah dinas tersebut, dan pula masih berada di sekitar asrama tentara. 

Disini, saya sedikit gusar. Apa kabar bapak setelah tidak lagi ngantor? Pasti beliau kesepian...
Diam-diam saya sering menelepon ibu sekedar untuk bertanya apa kabar bapak, sedang apa. 

"Bapak lagi ke masjid."
"Masjid x (asrama dulu)?"
"Nggak dong, sekarang tiap hari ke masjid y, shalat 5 waktu. Biar ada undangan dan hujan sekalipun."

Jawaban ibu membuat saya tercengang dan bangga, bahwa setelah ini pun bapak saya semakin rajin ke masjid. Dulu, saat masih di asrama dan aktif bekerja, bapak saya hampir ga pernah ketinggalan berjamaah di masjid asrama. Subuh, dzuhur dan ashar saat masih jam kantor, lalu pulang jam 16.30, mandi dan menunggu magrib, lalu ke masjid dan tak pulang sampai isya.

Bapak juga sudah menjadi anggota DKM Masjid x selama  puluhan tahun, jadi bendahara masjid  selama dua periode karena ga ada lagi anggota lain yang dicalonkan. Masjid x yang notabenenya adalah masjid asrama, hanya ramai ketika shalat jumat, shalat tarawih, dan hujan saat waktunya shalat Ied.
Selain itu, sepi... paling banyak tak lebih dari 10 orang makmum setiap harinya. Pernah pun, bapak hanya seorang diri di masjid. Takmir masjid entah kemana sehingga tak ada yang mengumandangkan adzan walau sudah masuk waktu shalat. Akhirnya bapak adzan, menunggu, tak seorang pun yang datang. Bapak shalat sendiri lalu pulang.

See? Lelaki seperti itu mana bisa tidak membuat saya jatuh hati... 
Lelaki sederhana yang tak pernah macam-macam, sayang keluarga, dan hatinya selalu terpaut dengan masjid.
Bapak yang selalu ngajak saya lomba siapa yang lebih dahulu khatam bacaan Qurannya setiap Ramadhan. Bapak yang selalu cemas saat saya absen menelpon ke rumah. Bapak yang selalu mengajarkan dari tingkah lakunya bahwa kejujuran adalah barang berharga warisan agama ini yang harus selalu dijaga.
Semoga Allah masih menyimpan cadangan lelaki seperti bapak sebagai jodoh saya nanti :)



Untuk beliau, bapak juara satu di seluruh galaksi Bima Sakti...
Malang, 16 Mei 2013

0 komentar:

Posting Komentar