Jumat, 17 Januari 2014

ini tentang apa?

Leave a Comment
Adalah dia, yang selalu dibenci dan ditakuti oleh teman-teman di rumah tinggal saya. Setiap dia datang.. teman-teman saya yang menonton di ruang tengah langsung ngomel-ngomel, sebagian malah langsung melenggang cepat-cepat pergi masuk kamar dan membanting pintu. Tak ada yang suka padanya, kecuali aku. Entahlah, bukannya aku menyukainya, aku hanya tidak tau apa yang harus dibenci darinya. Hingga suatu hari, kami semua menyadari bahwa dia tengah mengandung, tanpa kami ketahui siapa bapak dari calon anaknya. Bertambah-tambahlah kebencian teman-teman yang lain.

Beberapa saat berlalu, dia melahirkan. Sendiri. Aku sedang tak berada di rumah tinggal saat itu. Tapi kata teman-temanku.. dia memekik keras sekali, seisi rumah mendengarnya. Dan dari hasil persalinan itu lahirlah 4 anak. Lucu sekali.. tapi, tak mengubah perasaan teman-temanku yang terlanjur membencinya.

Well, kita tinggalkan dulu kisah bunda kucing dan keempat anaknya ini.

Kali ini saya ingin diskusi tentang rasa takut. Salah satunya takut kucing itu tadi. Rasa takut yang irasional menurutku. Kenapa orang bisa takut kucing? Men, ditimbang-timbang deh.. kucing itu ga makan orang, ga berbisa, ga nggigit, ga bikin orang mati karena liat matanya *yakali Basilisk*
trus kenapa ini cewek-cewek pada takut?
Dari survey abal-abaltapiserius yang telah saya lakukan sejak tahun 2012, beberapa orang mengaku tidak mempunyai alasan saat takut. Ya takut aja sama kucing. Kemudian saya tarik kesimpulan yakin haqqul yakin kalo penyakit takut kucing ini emang sengaja ditumbuhkan atau diwariskan semenjak kecil. Oleh siapa? Biasanya sih oleh ibu-ibu yang kelewat protektif sama anaknya. Kebiasaan deh, coba liat.. pasti di belahan bumi bagian Jawa atau manapun, selalu ada ibu-ibu yang mulai teriak histeris saat ngeliat anaknya ngedeketin kucing.

Dan, sebagai calon emak-emak juga (wuahahaha..) saya merasa kalo ini ga bener. Mending lah.. kalo ditanamkan takutnya sama kucing, nah, temen saya (cowok) ada yang sejak kecil ditakut-takuti sama polisi. "Awas lho, kalo ga makan ntar ditangkep pak polisi" "Kalo bandel, nanti pak polisinya dateng nangkep kamu". Dalam 1 konteks kalimat 'ancaman' aja itu udah ada 2 hal yang menurut saya ga bener. Pertama, bohong. Kedua, oknum yang dijadikan tersangka atau tokoh jahat. Hasilnya? Bisa ditebak sampe sekarang dia takut asli sama polisi berseragam lengkap. Kasian kan kalo udah bawa-bawa oknum gitu. 

Ketakutan irasional itu menurut saya mengganggu banget lah. Ya ga irasional. 
Makanya men, kalo ntar punya anak.. jangan dibiasain diancam-ancam bohongan gitu deh.. udah bukan jamannya keles. Jangan heran ntar kalo anaknya jago ngibul, lah wong orangtuanya yang ngajarin langsung kok.

Ok, kita lanjutin roman bunda kucing tadi.

Pada suatu hari Ahad yang cerah ceria, beberapa teman berkomplot untuk mengusir induk beranak itu. Tapi sayangnya, saat itu sang induk tengah keluar mencari nafkah untuk anak-anaknya. Jadilah kedua teman saya hanya berhasil menangkap ketiga bayi tanpa dosa itu, seekor lagi lari menyelamatkan diri ke tempat sepatu di garasi. Dibuang anak-anak itu di suatu tempat yang jauh sekali dari rumah kami, tanpa induk. 

Aku sendiri yang kemudian tau peristiwa itu belakangan marah sekali kepada mereka yang tega memisahkan induk beranak itu. Bukannya anak-anak itu masih terlalu kecil? Mereka bahkan hanya masih minum ASI. Bagaimana kalau mereka kelaparan? Bagaimana kalau mereka sampai di jalan raya? Bagaimana kalau mereka bertemu anjing yang jahat? Ah, tak sanggup aku bayangkan. Kejam sekali.


0 komentar:

Posting Komentar