Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

My Next Step

Leave a Comment

Haiiiii... long time to see.... and long time no post :(

ehehehe... jadi, berita besarnya adalah aku telah bergabung dalam keluarga besar SIAware mulai Oktober ini, melalui rangkaian training SIAware24 yang aku ikutin sejak 1 s/d 4 Oktober di Lembang kemarin.
Rasanya? unbelievable... and unwrittenable (hehe)! Aku dapat banyak bangeeeeet pelajaran berharga yang mungkin bakal aku kenang seumur hidup.

Aku jadi mengenal diriku lebih dalam, tau apa yang aku mau dan memahami apa yang aku rasakan. Dan, seperti perjalanan dari gelap ke terang, SIAware membuat aku yakin untuk lebih percaya dan jujur pada diri sendiri, sesuatu yang sulit banget aku bangun dulu-dulu.
Pertanyaan aku kini berganti dari "Apa yang aku pikirkan?" menjadi "Apa yang aku rasakan?"

Bonusnya? 59 teman-teman jujur, baik hati, antusias serta puluhan fasilitator dan senior yang keren.

Testi terakhir tentang SIAware yang selalu aku bilang ke orang-orang pasca SIAware: "ikut SIAware adalah investasi paling menguntungkan yang pernah aku lakukan."

terima kasih, SIAware :)





Read More...

Kamis, 08 Januari 2015

Visit Makassar 2014

Leave a Comment
Halo….
Er, kali ini mau nulis apa ya.. bingung.
Ya udah ga jadi nulis. Tapi, jadi aja deh…  #bloggergalau
Mau nulis tentang catatan perjalanan sewaktu pulang kemarin. Udah kelewat lama sih, tapi ga apa-apa lah ya.. memori manusia kan terbatas. Kalo ga dibantu dengan reminder kaya’ gini bisa jadi bakal terlupakan suatu hari nanti.
Ok here we go.
Sabtu, 13 Desember 2014
Perjalanan ke timur kali ini tidak sendiri, tapi tidak juga dengan suami juga karena belum punya (apa deh) hahaa.. jadi, perjalanan pulang kali ini bareng kakak saya yang abis kursus di Bandung.
Oiya, biasanya kalo mau pulang, saya selalu beli 1 tiket langsung untuk Surabaya-Makassar-Biak, tapi kali ini sengaja beli dua tiket untuk dua kali perjalanan, Surabaya-Makassar, Makassar-Biak. Mau tau Makassar kaya’ apa, alasan halusnya, aslinya sih teteup.. travelling hahahaa :D
Sekitar jam 7.45 WIB pesawat yang kami tumpangi, Citilink, take off menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Karena sebelumnya saya ga tidur semaleman karena dijemput travel masih dini hari jadinya saya ngantuk banget di pesawat, ga ngapa-ngapain, tidur aja selama 1 jam 20 menit perjalanan. Hahaa..
Jam 10.20 WITA kami landed dengan selamat sentausa dan bahagia di Makassar. Langsung menuju rumah temen kakak saya di daerah Maros naik taxi (oiya, hati-hati milih taxi disini, biasanya langsung dikerumunin supir-supir banyak gitu dan taxi nya walaupun pake argo tetep ditembak harga yang jauh lebih mahal). Nah, disini saya baru tau juga kalo bandara Sultan Hasanuddin itu letaknya di perbatasan Makassar dan Maros. Jadi lumayan deket sih.
Sampai di rumah temen kakak saya itu, naruh barang, bersih-bersih diri, makan pagi sekaligus makan siang, lalu menghubungi temen saya yang super baik hati Irfan alias Iponk. 2 jam kemudian dia datang dan  kami lanjutkan menjemput Tris dan Virgin, mereka ini teman-teman baik saya di SMP dan SMA.
Perhentian pertama kami adalah rumah makan apa-lupa di daerah jalan Kasuari. Aduh ampun ya.. selama di mobil Tris ini nawarin berbagai nama makanan khas Sulawesi Selatan… banyak banget, saking banyaknya sampe lupa apa aja namanya ._.
She is the best about culinary deh :p
Di sana kami pesan macem-macem jenis makanan, ada baro’bo (semoga ga salah nulisnya) yang mirip bubur manado, ada yang mirip papeda, perkedel jagung, dan ongol-ongol.
Setelah kenyang, perjalanan kami lanjutkan ke daerah iconik di Makassar. Ga afdol rasanya kalo ke Makassar tapi belum kesini dan belum foto-foto disini. Pantai Losari. Ga usah takut ninggalin shalat pas mau nungguin sunset karena deket situ ada masjid Amirul Mukminin yang disangga di atas laut dan cantik banget walaupun kecil. Dan pasti rame karena pantai Losari juga selalu rame apalagi saat weekend.

Disini ada huruf-huruf penyusun PANTAI LOSARI yang terkenal itu, ada juga huruf-huruf lain yang menunjukkan 6 suku di Sulawesi Selatan ini yaitu: Makassar, Toraja, Mandar,dan lupa (plis maapkeun).

Ahad, 14 Desember 2014
Esoknya kami berencana untuk ke pulau. Belum tau pulau apa, karena di lepas pantai Makassar ini ada beberapa pulau yang bisa dijangkau dengan speedboat. Akhirnya diputuskan ke pulau Gusung, dengan tarif speedboat 100 ribu PP.
Setelah dari Pulau Gusung, kami  mampir ke Coto Nusantara yang kata Iponk enak banget. Beneran lho, meski tempatnya masih tradisional, rame banget pengunjungnya sampai nunggu-nunggu tempat duduk gitu. Setelah kenyang dan kembali rasional, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung di Maros. Sebelumnya uda pernah denger soal Bantimurung ini sih.. banyak kupu-kupu gitu katanya. Iya sih, pas kesana, nyampe tempat parkir aja udah banyak berjejeran pedagang kaki lima yang menjual bermacam-macam awetan kupu-kupu berbagai spesies. 
Masuk TN Bantimurung ini dikenakan biaya 25ribu untuk wisatawan local dan 250ribu untuk wisatawan mancanegara (gilaaaak… jauh banget ya selisihnya). Dan karena kami pergi hari Ahad, sudah bisa dipastikan lagi rame banget. Di dalam TN Bantimurung ini ada museum kupu-kupu, air terjun, dan beberapa danau yang (katanya) banyak banget kupu-kupunya. Tapi karena sudah menjelang sore, kami hanya mengunjungi museum dan air terjun aja. Karena kami pada ga bawa baju ganti, ya niat awalnya liat-liat aja.. saya juga cuma bawa rok aja. Tapi teman kami si Iponk yang baik hati ini tetap memaksa  untuk ikut berbasah-basahan di air terjun dan membolehkan kami naik mobilnya. Aah.. semoga Iponk segera jadi dokter gigi yang baik hati dan berdedikasi, serta dapat  jodoh yang shalihah, aamiiin..
Pulang dari Bantimurung, masih dengan baju basah, kami gathering & ngopy foto-foto dua hari ini serta shalat magrib di kostan Tris di belakang kampus UnHas. Abis itu saya dianterin pulang lagi di daerah Maros, karena harus siap-siap dan packing untuk penerbangan malam harinya ke Biak. Iponk pun bersedia nganterin saya dan kakak ke Bandara jam 00.30 malem itu, padahal saya yakin dia capek banget udah nyupir dan nganterin kami kemana-mana selama dua hari ini. Tengkyuu ya Ponk :D
Senin, 15 Desember 2014
Boarding pesawat Sriwijaya kami jam 2.20 WITA, dan jam 7.15 WIT kami sudah sampai di Bandara Frans Keisepo Biak. Alhamdulillah, akhirnya kembali ke Pulau kecil nan manis ini setelah 3 tahun.
Welcome back, Nursih :D
n.b.:
Bikin catper emang sebaiknya ga ditunda-tunda.. bisi lupa detil perjalanannya.. kaya' catper yang ini :(
Maapkan plis ya..
Read More...

Selasa, 18 November 2014

What's Happened in 3 Months

Leave a Comment
Salam.

Hi, this is Nursih again :)
Tolong maapin karena menghilang dari peredaran blogging dalam 3 bulan ini yah.. so many things happened. (iyah-kaya'-ada-yang-baca-aja-blog-ini-sok-aja-lah)

September benar-benar hectic month lah kemarin.. tapi lega juga akhirnya saya udah menunaikan tugas mulia dari orangtua untuk mengambil kitab suci ke barat mengikuti sidang akhir skripsi. alhamdulillah...
Benar-benar perjuangan kala itu. Baru tau ada pembukaan pendaftaran sidang h-5 dari deadline, trus langsung ngejar dosen sana-sini buat ngebut revisi dan minta acc, akhirnya diperbolehkan maju sidang juga.

Saat d-day sidangnya, kebetulan saya baru tau kalo dosen penguji saya adalah Mr. C dan Mr. A yang udah terkenal ... #uhuk #ifyouknowwhatImean
Alhamdulillah, alhamdullilah, alhamdulillah... ternyata saat itu Mr. A sedang berhalangan datang, sehingga kemudian digantikan oleh Mr. S. sehingga, seenggaknya saya cuma menghadapi satu dosen yang "mendebarkan".
(waktu yang diperlukan untuk membebaskan dari)

Setelah proses revisi dan pendaftaran wisuda yang amat rempong beres, saya langsung berlibur. Hahaha.. tipikal balas dendam banget. Menentramkan fisik, hati, dan pikiran bareng si Rama, temen dari Lombok. Destinasi pertama adalah Kediri. Ngunjungin mbahnya si Rama aja ini sih.. sehari doang. Besoknya langsung caw ke Jogja. Selama ± 5 hari diJogja, kami menginap di kawasan Malioboro, tepatnya di Family Losmen Gang Dagen. Seharinya Rp. 130.000 dengan fasilitas kasur untuk 2 orang, kipas angin dan kamar mandi dalam. Cukup terjangkau lah.. Dapet juga penyewaan motor Rp. 70.000/24 jam buat jalan-jalan.

Dari Jogja, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung. Ga seperti ke Bandung yang kemarin-kemarin, kami ga tinggal di tempat teh Sari. Nyari tempat tinggal di Bandung yang terjangkau cukup sulit yah.. apalagi kami datangnya pas weekend. Sebenarnya saya udah coba cari via gugling juga sik.. tapi ternyata pas didatengin alamatnya, ga nemu.

Akhirnya kami nginep di kostan harian Paragon di Dago Atas (masuk gang depan hotel Sheraton), dengan harga Rp. 225.000/nett. Tapi top banget emang. Harga segitu dapat fasilitas double bed, AC, kamar mandi dalam dengan shower, kulkas mini, dan TV dengan ratusan channel dalam dan luar negeri.

Balik ke Malang, Rama pulang ke Lombok, orangtua saya datang untuk upacara wisuda tanggal 18 Oktober. alhamdulillah.. 

Jadi, untuk kemarin-kemarin sampai detik sekarang tulisan ini di publish, status saya adalah pengangguran berijazah. Hahaaa..
Yasudah laaaah~

Read More...

Selasa, 28 Januari 2014

how to make your own passport

Leave a Comment
Kali ini saya mau bagi-bagi pengalaman setelah mengurus sendiri pembuatan paspor saya pekan lalu. Iya, saya udah punya paspor!!! hehehee... belum tau akan pergi kapan dalam waktu dekat ini.. tapi bagi saya, paspor yang sudah jadi ini adalah salah satu pintu yang terbuka untuk pergi keluar sana. One step closer to go abroad :)

Nah, kalo kalian juga berencana untuk ngurus sendiri paspor, ga usah resah dan gelisah khawatir, bikinnya ga repot-repot banget kok, asal semua dokumen yang diperlukan sudah lengkap dan kalian punya waktu buat nongkrong-nongkrong cantik di kantor imigrasi. Ga perlu lah pake calo-calo gitu..
Yang pasti bakal dibutuhin buat bikin paspor itu cuma 4:
- KTP yang masih berlaku,
- Kartu Keluarga,
- Akta Lahir/Ijazah pendidikan terakhir/Surat Nikah,
- sama duit 260rebu rupiah.

Mungkin kamu bisa ngintip dulu prosedurnya di sini.
Sebelumnya sih saya juga udah nyoba buat daftar online dan mengupload semua copy dokumen ke website imigrasi itu.. tapi ga tau yah... emang webnya udah ga pernah di maintenance atau kantor imigrasi yang udah naik kelas (Kanim di Malang yang terdaftar di webnya itu klas II, sedang Kanim aslinya itu ternyata klas I), jadi ya ujung-ujungnya saya tetep harus datang ngumpulin berkas di kanim langsung.

Pertama, datang ke kanim di daerah kalian dengan membawa KTP, KK, dan akte lahir/ijazah/surat nikah dan fotocopyan nya, materai 6000 dan pulpen hitam. Semua copyan dalam ukuran A4, termasuk KTP. FYI aja ya.. kanim itu selalu rame banget. Tiap hari itu adaaaa aja ratusan orang yang ngurus paspor baru ataupun memperbaharui, entah itu mahasiswa exchange, TKI, calon jamaah haji pas musim, atau rombongan umroh, jadi lebih baik datang pagi-pagi bener kalo ga mau ngantri terlalu lama. Oiya, pastikan semua data termasuk nama kalian yang tertera di KTP, KK dan akte itu semua sama yah.. kalo beda spasi pun ga bisa soalnya.

Nah, begitu sampai di kanim bagian pembuatan paspor, kalian akan mendapat map hijau yang berisi formulir yang harus diisi. Setelah mengisi semua formulir dan menempelkan materai, selipkan copyan dokumen ke map itu dan kembalikan kepada petugas. Nanti akan diberi nomor antrian pemeriksaan dokumen dengan kode "P".

lalu, menunggulaaaah~~

Begitu dipanggil nomor antrian di loket, ada petugas yang akan memeriksa dokumen-dokumen copy dan asli sambil agak-agak kepo nanya-nanya kalian mau ngapain ke luar negeri. Kalo udah, kalian akan diberi kertas untuk pembayaran ke Bank BNI dan diminta kembali ke kanim lusanya untuk foto, cap sidik jari dan wawancara.

Setelah bayar biaya pembuatan paspor, datang lagi ke kanim pada hari yang ditentukan. Ambil nomor antrian dengan kode "K" untuk proses acc pembayaran. Setelah bukti pembayaran kita di acc, kita ngantri lagi buat foto, cap sidik jari dan wawancara. Kode antriannya "F".
Sabar yah.. emang di kanim itu nguji banget kesabaran kita buat ngantri. Kreatip-kreatip kita aja biar nunggu lama ga bikin bosen. Bisa sambil baca buku/tilawah, nulis, dengerin lagu, sarapan kalo belum sempat sarapan paginya, atau ngobrol sama orang yang ngantri juga disebelah.
Boleh nih sambil ngantri sambil benerin penampilan kalian. Males banget kan ya kalo ada foto yang ga kalian banget nempel di paspor selama 5 tahun?

Selanjutnya masuk ke bagian foto, nah.. disini ga begitu lama. Soalnya satu bagian ini udah sekalian foto, cap 10 sidik jari, sama wawancara dan pemeriksaan dokumen akhir.

Kalo lulus semua, paspor yang udah jadi bisa kita jemput 3 hari kemudian.

Ok, semoga tulisan ini manfaat walau dikitlah ya buat kalian yang pengen ngurus paspor sendiri. Selamat menunggu.. dan selamat mengitari bumi :)



Read More...

Jumat, 06 Desember 2013

hayu ngaBandung deui (2)

Leave a Comment
episode sebelumnya: disini

Hari 1
enam belas November dua ribu tiga belas jam 04.54, segala puji bagi Allah setelah 15jam terantuk-antuk akhirnya kami sampai di stasiun Kiara Condong, Bandung. Ngaso bentar trus langsung nungguin kakak yang langsung naik kereta lokal ke Cimahi (tiketnya murah bingit, 1500 perak, udah termasuk asuransi). Trus nungguin teh Sari yang katanya mau jemput jam 7. Lumayan lama nunggu, akhirnya teh Sari nelpon, katanya udah di parkiran depan stasiun. Nyari-nyari-nyari ga ketemu juga.. barulah ngeh kalo teh Sari salah jemput ke stasiun Bandung --'

Akhirnya saya inisiatif ngangkot aja, ngajak ketemu di Masjid Salman ITB, tempat yang paling saya rindukan sekota Bandung. Keluar area stasiun langsung nyari angkot putih Riung Bandung-Dago buat depan RS Borromeus dan jalan ke kampus ITB. Tebel muka aja sih, muka kucel, bawa backpack gede (yang liat pasti ngira abis turun gunung), masuk kantin Salman dan langsung makan, laper soalnya, hehee.. Ga lama teh Sari dateng, trus ketemu kang Pras juga yang langsung ngajak ke kantornya di gedung kayu, sekalian aja saya minta dicopyin foto-foto pas main ke Pulau Sempu setaun lalu. (baca disini)

Jadi rencananya hari itu teh Sari mau langsung ngajak kami ke Kawah Putih, sekalian ada mbak Lisa yang datang dari Jakarta juga. Karena ada 4 orang, berarti kami butuh 1 motor lagi, dan minjemnya yes ke mas Kurniawan Gunadi yang lagi ga di Bandung. Waaa... unbelivable banget lah... saya bawa motornya astrid (astrea idaman)nya mas Gun --"

Jam 1 kami berangkat ke arah Ciwidey.. ga disangka yah, ternyata tempatnya lumayan jauh, dan karena macet juga jadi yang awalnya estimasi nyampe cuma 1,5jam, jadinya sampe 3,5jam. Sampai di bawah kawah udah dingin banget, dan tips yah.. mending bawa masker sendiri deh, soalnya kami diwajibkan buat beli masker dengan harga 5ribu rupiah. Nah, naik ke kawahnya juga harus nyewa mobil. Harga sewa 1 mobil yang kapasitasnya 12orang 250ribu, tapi karena sudah sore dan ga ada lagi yang mau naik ke kawah -setelah proses negosiasi yang panjang- akhirnya kami berempat boleh nyewa 1 mobil dengan bayar 140ribu.


Hari 2
Hari ini teh Sari ada acara farewell party salah satu teman SIAWAREnya (dan berujung bisa liat mas Gun di dunia nyata) yang mau kuliah S3 di Belgia dan mbak Lisa ketemuan sama adik sepupunya, jadi sepanjang hari ahad ini saya dan Rani ngentang-ngentang di masjid Salman, ke Rabbani di depan UnPad, dan nyobain semua jajanan di depan ITB. Ga boring. Asik banget malah. Di Masjid Salman ini kalo pas Ahad rame banget.. banyak yang berkegiatan, mulai dari adik-adik PAS (Penitipan Anak Salman), KARISMA ITB di lapangan rumput dan yang belajar, ngaji atau halaqoh di sekitar halaman masjid. Well, boleh dibilang ini adalah masjid kampus paling 'hidup' lah menurut saya.















Hari 3
Kita bermain-main, siang-siang hari Senin.. (OST Laskar Pelangi)
Hari ini saya dan Rani berencana ke Trans Studio berdua aja, teh Sari kerja soalnya. Kenapa perginya hari Senin? Biar masuk pake tiket weekday, murah. muehehee.. abis selisihnya sampe 100rebu sih sama tiket weekend.
Dari Dago Atas kami naik angkot putih Dago-Riung Bandung sampe di pertigaan jl. Ibrahim Adjie, trus lanjut angkot merah Cicadas-Elang dan turun tepat di depan kompleks Trans Super Mall.
Ga mau panjang lebar ah ceritanya, asik parah pokona mah! Maenannya asik-asik semua (meski ada-beberapa yang ekstrimnya agak membahayakan kesehatan jantung), trus pertunjukannya yang juga OK banget, ada Kabayan Goes to Holywood yang ala-ala Broadway gitu, Putra Mahkota, sama yang di Special Effect Actions kuereeeeen banget. Trus sore-sorenya ada parade gitu...
Nyesel deh kalo ga nonton.





Hari 4
Mau nemenin Rani beli barang-barang titipan ke Pasar Baru. Motornya mas Gun masih ada sih.. tapi karena ga hapal jalan, kaya'nya enakan ngangkot aja. Naik angkot Dago-Stasion ke Pasar Baru (lupa warnanya apa). Saya ga banyak beli barang sih.. kan sesuai judulnya nemenin Rani belanja :P
trus pulangnya ke Salman lagi.. gatau ih, suka aja nongkrong disini.
Trus rencana malemnya mau nginep di tempat teh Ai, tapi ga jadi kerena mas Gun minta dianterin sama teh Sari ke stasiun, jadilah saya yang menemani (tentu saja karena harus bawa 2 motor). Dan baru ketauan kalo mas Gun itu di dunia nyata rame loh.. ga kebayang dari tulisan-tulisannya di tumblr deh, serius!

Hari 5
Hari ini sarapan special di Roti Gempol ditraktir teh Sari, trus teh Sari-nya langsung berangkat ke kantor dan pulangnya saya dan Rani nyasar-nyasar hampir sampai tol, hehehee.. kocak banget lah.
Malemnya nginep di tempat teh Ai di deket Monumen Perjuangan depan UnPad.
Serius ya, selama di Bandung, saya sering banget naik angkot dan motor sendirian, suka nyasar sih, tapi alhamdulillah... ujung-ujungnya bisa nemu jalan pulang juga.

Hari 6
teh Sari mendadak harus interview salah satu grup nasyid di Jakarta, dari pagi riweuh nganterin nyari travel karena travel yang udah dipesan hari sebelumnya udah berangkat. Yap, ketinggalan. Gatau saya dan teh Sari kena kutukan apa  ini, hehee.. gaaa, becanda. Emang dari pagi kita sibuk ga jelas sendiri sih, makanya telat.
Trus abis nganter teh Sari, saya dan Rani mau ke Paris Van Java (PVJ), naik motor sih, soalnya kata teh Wardah dan teh Zie, ribet banget kalo ngangkot, kudu ganti-ganti gitu. Akhirnya ± sejam ditambah nanya-nanya orang di Jalan, sampai juga kami berdua di PVJ di daerah Sukajadi.

Mallnya enak, maksudnya nyaman aja gitu, luas tapi masih keliatan adem, soalnya emang didesain mall berbasis taman gitu.. jadi ga berasa capek muterinnya meski luas. Tujuan kesini cuma mau beli Chocodot (cokelat isi dodol) aja sih, soalnya pas googling, adanya distro Chocodot disini doang.

Trus ketemu kerajinan lukis bara api. Keren ih, mau beli, tapi pas yang jualan lagi ga ada di stand :(

Hari 7 - pulang
Asli, ga terasa banget udah hampir sepekan disini... udah harus balik karena tiket pulang udah ditangan. Sebelum pulang, mau nyalman lagi, mumpung ada pasar Jumat di depan masjid.. eh, ga disangka ketemu sama kang Kasmita dan Kang Burhan yang lagi donor darah. Kocak banget! Kang Kasmita nya pake ekspresi kaget banget gitu, hehee.. *hapunten, kang :P*
Malemnya berangkat ke stasiun. Sebenarnya beneran belum mau pulang, tapi gimana ya.. tanggungjawab udah kelamaan ditinggal semenjak sakit kemarin. Yaudahlah... next time i'll be back :)

and finally, kereta Kahuripan mengantarkan kami membelah malam meninggalkan Bandung.

see u at nect adventures.
Ciaw :)


Read More...

Kamis, 28 November 2013

hayu ngaBandung deui (1)

Leave a Comment
masih sambungan sebelumnya: baca disini 

men, kakak saya mendadak muncul di Malang sehari sebelum ibu saya pulang. Usut punya usut ternyata dia hendak kursus dari kesatuannya di Cimahi. Okelah.. saya cariin dia tiket kereta yang sama dengan keberangkatan saya ke Bandung yang sudah saya pesan jauh-jauh hari, dengan syarat, dia ga boleh bilang ke ibu kalo saya mau main ke Bandung. Iya, ini pengalaman pertama saya pergi tanpa sepengetahuan dan ijin orangtua. Bandel, yes.. Tapi tenang saja kawan.. kelakuan saya sudah dicatat langit dan saya sudah menerima ganjarannya lunas tuntas. Plis, jangan tiru ini, selalu mintalah ijin orangtua kalo mau kemana-mana, apalagi kalo kalian belum ada yang punya #eh

Rabu sore ibu saya berangkat ke Bandara Juanda Surabaya dan Kamis paginya saya sudah nongkrong-nongkrong anggun di stasiun Malang Kota Baru bersama travelmate saya kali ini, Rani. Packingnya buru-buru pas malem sebelumnya. 

Kamis, 14 Nov 2013kereta Dhoho Penataran mengantarkan kami ke stasiun Kediri tepat jam 1 siang. Yup, tiket kami ke Bandung memang bukan dengan kereta langsung, tapi lanjutan. Karena perginya saya tanpa restu orangtua juga berarti tanpa sangu. Akhirnya dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, saya bertekad mbolang dengan uang sendiri dan harus hemat serta cermat termasuk soal duit transport. Jadi rencananya kami naik:
- Dhoho Penataran | Malang 08.00 - Kediri 12.33 (Rp, 5.500)
- Kahuripan | Kediri 14.00 - Kiara Condong 04.33 (Rp, 50.000)
total: Rp, 55.500

Kereta selanjutnya jam 2. Kami makan siang, sholat, dan ngobrol di ruang tunggu. Beberapa menit menuju jam 2 kami sudah pasang telinga untuk mendengar pengumuman, tapi dasarnya aja yang ngomong itu berasa kumur-kumur.. beritanya jadi ga jelas kedengaran. Di luar ruang tunggu, di jalur 1 sebuah kereta bergerak, dan sekelebat saya melihat papan nama kereta "KA KAHURIPAN" di bodynya.
"Kak, itu keretanya kok tulisannya Kahuripan, udah jalan?" Saya bertanya ke kakak saya, masih ga ngeh. Sekian detik kemudian, "astaghfirullah, kak.. kita ketinggalan kereta! itu kereta kita!!"
Kita panik. Heboh. Diliatin orang-orang 1 stasiun.
Keretanya udah jauh dan kami ga mungkin ngejar-ngejar kaya' salah satu adegan di film 5cm, bawaan kakak saya cukup banyak, saya sendiri bawa backpack 60L yang lumayan beratnya. Ini nyata, bro!
Kau pikir ini balasannya karena saya pergi tanpa ijin ortu? Belum kawan, itu baru kebodohan pertama. Cerita masih panjang.

Saya berusaha mempersiapkan segalanya sesempurna dan seefisien mungkin, termasuk menyiapkan printscreen jadwal berhenti kereta di stasiun-stasiun berikutnya. Di jadwal itu, kereta berhenti di stasiun Kertosono jam 14.33, saat itu masih jam 14.05. Saya langsung ngambil inisiatif buat nanya sama cleaning service yang lagi nyapu deket kami waktu tempuh dari stasiun Kediri ke Kertosono, jawab si masnya dengan pede dan tanpa dosa, "kalo ngojek bisa 20 menit tuh, mbak.. "

Okesip. Kebodohan kedua.
Keluar stasiun dan langsung dikerubuti bapak-bapak becak yang kepo nanya-nanya kemana. Terus dipaksa naik becak buat dianterin ke pangkalan ojek. Pangkalan ojek yang dimaksud adalah warung makan, dan ojekersnya masih pada entah dimana... mereka cuma teriak-teriak aja nyari A, nyari motornya B, minjem helmnya C dan saya bengong karena waktu udah kebuang sia-sia 10 menit.

Akhirnya kami bertiga naik ojek (masing-masing tentunya) menuju Kertosono, yang tanpa saya ketahui ternyata udah beda kabupaten, Nganjuk. Nyaaaak... itu jauh banget dah! Dan sepanjang jalan yang ngebut ala Pedrosa itu saya cuma bisa nanya, "Pak, masih jauh ga ya?", sampai bapak ojeknya bosen dan ga jawab pertanyaan saya. Saya cuma bisa doa doang dalam hati, doa apapun saya baca, berharap keretanya mendadak macet di stasiun atau masinisnya kebelet ke kamar mandi, tapi udah kerasa kalo ga bakal dapat itu kereta sih, apalagi tukang ojeknya pake gatau jalan lagi -.-"

Jam 14.50 baru nyampe ke stasiun Kertosono, tentu saja kereta udah berangkat. Disitu beneran shock, berasa banget begonya.. tiket hangus, harus bayar ojek 210ribu untuk sia-sia (bahkan lebih mahal dari tiketnya), dan kudu beli tiket baru ke Kiara Condong.  Saya udah nangis menyesali kebodohan saya saat itu, tapi kemudian kakak saya menghibur dan menasehati: tenang, jangan panik, jangan suka terburu-buru, buru-buru satu salah satu sifatnya setan.. pikirkan dulu semua konsekuensinya.

Kebodohan ketiga.
Setelah istirahat dan diketawain sama petugas stasiun.. akhirnya kami memutuskan untuk balik lagi ke Kediri, karena kakak saya ga suka di Kertosono, sepi banget dan ga ada penginapan katanya. Jadilah saya memesan tiket balik ke Kediri dan si travelmate saya memesan tiket ke Kiara Condong untuk besok siang, tapi ternyata dia pesan dengan keberangkatan dari Kertosono, bukan Kediri, dan saya baru tau keesokan harinya.


Malam itu kami balik ke Kediri, dan nyari-nyari penginapan dekat stasiun. Berdasarkan hasil googlingan saya, ada 1 penginapan murah dekat stasiun, hotel R.I.S. astagaaa.. penginapannya serem, kucel, dan banyak premannya. Tapi karena sudah malam dan tidak ada lagi penginapan lain terdekat, akhirnya kami check in dan pesan 2 kamar, bersih diri, trus langsung tidur.


Jumat, 15 Nov 2013 - Bangun dan kelaperan... beruntung sepanjang jalan stasiun banyak warung. Kami sarapan makanan khas Kediri, pecel sambel tumpang. Kata kakak saya sebenarnya kalo malam itu enakan ke jalan Dhoho.. disitu banyak banget pilihan wisata kulinernya. Pas sarapan itu baru ketauan kalo tiket ke Kiara Condongnya dari Kertosono, berarti kami harus naik kereta ke Kertosono dulu :(
Menjelang siangnya saya langsung beli 3 tiket ke Kertosono, yang tersisa hanya jam 12.30 siang.
Jam 11 saya dan Rani sudah membereskan barang-barang dan bersiap check out. Ternyata kakak saya sudah berangkat ke masjid untuk shalat jumat. Kamarnya malah dikunci, jadi saya ga bisa masuk untuk membereskan barang-barangnya. Parahnya, saat saya bertanya sama ibu-ibu yang jualan makanan di sekitar stasiun, ternyata shalat jumat disitu selesainya sekitar jam 12.45an...

Jam 12.15 saya check out dari kamar sedangkan travelmate saya sudah berangkat duluan ke stasiun. Saya masih di depan masjid nungguin kakak saya. Jam 12.20, kalo saja ga inget bahwa mendengarkan sidang jumat adalah wajib mungkin saya udah nelpon kakak saya. Jam 12.33 kereta Dhoho Penataran sudah datang, akhirnya shalat jumat selesai, saya dan kakak saya langsung lari-lari balik ke penginapan buat beresin barang-barangnya dan check out. Kita lari-lari ke stasiun, untung petugas stasiunnya tau kami sudah ketinggalan kereta kemarin jadi kereta yang sekarang masih belum dibolehin jalan. Naik, duduk, selamat. Alhamdulillah..

Jam 14.30 kami berganti kereta Kahuripan di stasiun Kertosono. Nah, kalo di postingan sebelumnya saya tulis pengasong, pengamen, dan pengemis ga boleh naik kereta ekspres, ternyata ga berlaku untuk kelas ekonomi di wilayah Jawa Timur. Kereta dari Malang yang kami naiki kemarin pun memang banyak pengasong dkk. Disini ternyata masih legal bagi mereka mencari duit di atas kereta. Sorenya, begitu kami memasuki wilayah Jawa Tengah, kami makin sulit menemukan para pengasong dkk. Ternyata petugas-petugasnya (Polsuska) sangat ketat mengawasi. Bahkan saat saya dan kakak saya ngobrol di bangku lain (saat itu kereta masih belum banyak penumpang, sehingga banyak bangku yang masih kosong), tiba-tiba datang seorang ibu yang duduk di samping saya membawa termos dan puluhan kopi sachet yang dibungkus kresek berlapis. Merasa belum cukup aman, ibu itu juga ngambil topi kakak saya untuk menutup barang dagangannya tadi. Saya akhirnya nanya, "ada apa, bu?" "Aduh, maaf ya mas, mbak.. ini saya lagi sembunyi dari petugas. Ntar sampean bilang aja ini punya sampean, haduh.. takut aku, mbak.."

Tanpa diminta pun ibu itu langsung curhat pernah dipaksa ikut sidang supaya ga jualan lagi di area stasiun dan kereta, juga ngeluh soal kebijakan PTKAI yang dirasa merugikan rakyat kecil seperti mereka. Ga pake lama, ibu-ibu ini manggil temen-temen asongannya yang lain, jadilah tempat saya dan kakak dikerubuti ibu-ibu yang kemudian merencanakan bakal sembunyi di WC begitu ada petugas yang memeriksa.

Semakin ke barat, kereta semakin penuh..akhirnya saya dan kakak balik ke tempat kami. Sempit sih, bertiga.. daaaan.. kami masih harus duduk selama 15jam,  tapi saya nyaman2 aja.. kalo ngantuk nyander ke kanan ada Rani, ke kiri ada pundak kakak saya, hehee..


nyambung (lagi) dulu yak..


Read More...

Minggu, 24 November 2013

my first train

Leave a Comment
3 minggu lebih ga nulis. Okesip! Jitak aja saya kalo ketemu ya...

Tapi sebelumnya, ijinkanlah saya untuk menuliskan kisah ini sebagai pembelaan diri #apalahini

Begini kawan, tau kan pas ibu saya datang waktu saya sakit itu? Nah.. sebagai anak yang berbakti (cih!) tentu saja saya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk beristirahat, menemani dan mengantar ibu saya yang sudah datang jauh-jauh dari penjuru timur sana. Saya ijin ga ngelesi, ijin ga ikut kegiatan dan rapat, termasuk mengurangi kemesraan dengan si Fikar, laptop saya ini.

Setelah masa-masa pemulihan, saya diminta ibu untuk ikut ke tempat mbah saya. Awalnya saya menolak karena semasa saya sakit itu sudah banyak sekali agenda dan tanggungjawab yang saya tinggalkan, tapi ibu saya bilang hanya dua hari, ditambah lagi ternyata saya sudah lebih dari dua tahun ga datang menyambangi mbah saya. ooke, saya setuju. Di luar dugaan, ibu saya ngajak naik kereta api, haaa.. ini surprise banget karena biasanya kami naik travel ke Solo.. 

Dan besoknya saya beneran naik kereta api! My dream comes true!! Hahaaa... ok, katakanlah saya udik, tapi ini benar-benar pengalaman pertama saya naik gerbong panjang yang ditarik lokomotif. Asik. Sumpah. 


Kereta yang kami naiki adalah Malioboro Ekspres, tujuan Malang Kota Baru - Tugu Yogyakarta. Kereta ini udah pewe banget... tiketnya lumayan mahal sih, tapi sebanding dengan kenyamanan dan pelayanannya. Pedagang asongan, pengemis, dan pengamen juga tidak diperbolehkan mencari nafkah di atas kereta ini.

Kami turun di stasiun Solo Balapan (padahal saya sempat dalam hati berharap kami ikut bablas sampai ke Jogja), lalu melanjutkan perjalanan ke rumah mbah. 


Oiya.. stasiun Solo Balapan ini keren loh. Selain bersih dan nyaman... (jadi terkesan romantis abis pas malem) wifinya juga kenceng bangeeeet... asik buat nungguin kereta.
I love this trip banget pokonya mah.. soalnya hari itu saya merasakan ngeteng, mulai dari naik kereta api, naik becak, naik bis.

Setelah 3 hari sampai di Malang, saya kembali ngeteng naik kereta api ke Bandung. Gimana ceritanya?
see the next post yes 


Read More...

Selasa, 10 September 2013

my Adventures Book

Leave a Comment
I'm working on my own book project. This is what I called "fun". Making something and being happy with it. Well, I got an idea for this book after watch UP, with a super cute little boyscout, Russel and an old man called Mr. Fredickson. And here I am, collecting my memories about my fams, my friends, my besties, and all of my journeys in a book. 

as a visual-kinesthetic person, I love to show the memories in a picture form. It's like a photo album, well.. 

Maybe I'll keep some pages for my future. I wanna fill this book not only about me, but us   


my homemates's part



I wrote dua Rabithah for tie our hearts up

my bad habits, bring sands from every beach I visited

I wrote friends name there, is it you?





It still has a lot of blank pages, would you like to help me to fill it?   


Read More...