Tampilkan postingan dengan label poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poems. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Oktober 2013

ini hanya fiksi (11)

Leave a Comment
Kau dan aku adalah orang asing awalnya. Kita saling tak tau menu makan siang favorit, bahkan secuil nama. Kau dan aku adalah orang asing di tengah deru semesta ini. Tak pernah saling kenal sebelumnya. Tak juga bertemu, apalagi saling memeluk rindu.

Matahari tetap saja terbit dan tenggelam, aku bosan dan mencari teman berkata. Suatu kali kau dan aku terjebak di tengah rintik di kota kita, aku bertanya, "saat hujan, apa yang sebaiknya dilakukan?"

Kau menoleh, memutar mata dan menyiapkan jawab.

"Aku suka menonton bulir-bulirnya menetes di jendela besar, sambil menyesap secangkir susu coklat panas. Aku suka mengeluarkan tanganku dari jendela bis untuk menangkap tetesnya. Aku juga suka berdiri diam di tengah hujan, membayangkan bumi tengah diguyur penyiram bunga raksasa. Tapi yang paling aku suka adalah melantunkan bait-bait doa, yang akan melaju ke langit bersama doamu, lalu seperti hari ini, kita bertemu."

Aku menunduk, malu merona merah beranakpinak di pipiku. Kau juga diam. Kita kikuk dalam rasa.

Hujan reda. Aku pamit mengatur langkah. Lalu kita menjadi orang asing dalam kehidupan masing-masing. Jalan masih panjang, dan mungkin, di ujung sana kita akan jumpa lagi.





Read More...

Jumat, 13 September 2013

Puisi: Tera Errau

Leave a Comment
Ini adalah puisi surayah Pidi Baiq. Pengen posting aja sih... dalem soalnya :)
Ga tau kenapa di part Nyala Api dan Perasaan ga ada nomor 2nya...
tapi, enjoy it ajalah! 

1
NYALA API
1. Buku ini adalah yang muncul dari dalam diriku untuk mengatakan tentang perasaanku kepadamu.
3. Perasaan halus dan bebas mengalir semenjak saat bertemu.
4. Menghisapku ke dalam pusaran waktu yang begitu manis.
5. Dan, aku tulis ini karena demikianlah menurut suara yang ada di dalam diriku.
6. Berbicara tentang dan hal-hal yang tertuang di antara aku dengan dirimu.
7. Mengenai diriku yang telah jatuh ke dalam semua pesonamu.
8. Dan tidak dapat dipertahankan lagi sampai waktu selanjutnya.
9. Nyala api cinta yang tumbuh besar ini, makin lama menjadi lebih kuat, lebih lama, lebih tinggi.

2
PERASAAN
1. Aku berikan ini kepadamu bahwa aku lebih suka berhubungan dengan mu, jika harus mencari kehidupan yang berbasis perasaan.
3. Karena dirimu adalah yang bergabung dengan pikiranku. Dengan ruang kosong yang aku sediakan sejak pagi.
4. Dan kuperpanjang waktunya hingga malam, sebagai rindu.
5. Mengatakan semuanya dalam gelombang kekuasaan perasaan.
6. Dan itu semua adalah karena kau. Tidak perlu jenius untuk mengetahui keindahanmu.
7. Orang yang menyenangkan bagiku, tidak aku ragukan lagi, adalah orang yang sepertimu.
8. Aku terlibat dengan urusan yang penting ini. 
9. Aku ingin punya tempat khusus bahkan hanya untuk sehelai rambutmu.
10. Dan sekarang, jika aku telah mengatakan semuanya, lakukanlah untuk mendukungnya seolah-olah ini sebuah puisi untukmu.

3
TERA ERRAU
1 Dia adalah dirimu, nama tentang perasaan purba, cinta dan kasih sayang.
2 Tanpa dirimu, kehidupan macam apa yang akan membuatku betah tinggal di bumi?
3. Bahkan jika semua tempat di bumi ini bagus, kukira masih perlu ada dirimu, untuk memberi penyegaran.
4. Mengapa, tuhan menurunkan kamu ke bumi, aku tahu sekarang, agar aku bisa merasakan jatuh cinta.
5 Atau engkau adalah hadiah buat aku di bumi, jika aku tidak bisa mendapatkan bidadari di sorga.
6. Aku mencintaimu, ini adalah urusanku, bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu adalah urusanmu.

 (BERSAMBUNG)
  

Read More...

Senin, 22 Juli 2013

sesaat merasa...

Leave a Comment
sesaat merasa...
lelah ya, Allah... saat hampir tiap hari harus pergi pagi dan pulang petang.
bosan ya Allah... saat hampir tiap waktu ngurus itu lagi, itu lagi.
penat ya Allah... saat hampir selalu pergi dan ngurus ini-itu disaat teman-teman yang lain bermain dan bersantai.

lalu aku tersadar, ya Allah... bukan kah Kau tau semua, untuk apa dan untuk Siapa aku lakukan ini?
Kau selalu tau ya Allah... untuk apa kami bersusah menyebarkan agamaMu.
Kau pasti tau ya Allah... mengapa kami berpayah menegakkan dakwah ini.

Lalu aku merasa malu, sering berkeluh dalam perjalanan cinta ini, meski karuniaMu selalu indah.
Lalu aku merasa hina, cacat ibadahku namun pemberianMu selalu sempurna.

dan tempat istirahat memang bukan di di sini, bukan di dunia ini.
Nanti, saat kami menjejak dalam surgaMu, sebaik-baiknya tempat beristirahat.


---------------------------
Malang, 22/07/2013 11.05 pm, saat masih terjaga memikirkan ulang konsep acara dan mempelajari materi besok


Read More...

Jumat, 07 Juni 2013

why I love 'Hujan Bulan Juni'?

Leave a Comment
alhamdulillah... sudah masuk bulan Juni. Bulan yang saya percaya selalu membawa kebaikan, sama seperti bulan-bulan lainnya. 
Beberapa hari di awal bulan ke-6 tahun masehi ini hujan masih sering singgah, hampir setiap hari.... dan ini mengingatkan saya pada puisi paling keren dan membekas, puisi karya salah satu maestro  Indonesia, Pak Sapardi Djoko Damono. 


HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu                        

1989
(Hujan Bulan Juni  – hal. 90)


Indah ya....
Saya pertama kali membaca puisi ini dari buku perpustakaan sekolah yang saya pinjam saat jam istirahat saat saya duduk di bangku kelas VII Sekolah Menengah Pertama (info penting!). Sejak saat itu, saya langsung jatuh cinta pada Pak SDD beserta puisi-puisinya, dan sampai sekarang pun saat hujan pertama jatuh di tanggal 4 Juni 2013 kemarin, saya langsung teringat pada puisi ini. 

Kali ini saya mau mengungkapkan ketertarikan saya di balik puisi ini...yah, dengan keterbatasan ilmu saya tentang puisi dan sastra. Toh, ini cuma pengakuan pribadi mengapa saya jatuh cinta.
Yang pertama adalah dari makna puisi ini sendiri. Menurut pemahaman saya, puisi ini bercerita tentang cinta yang terpendam, cinta yang tak terkatakan. Cinta seorang 'hujan' kepada 'pohon berbunga'. Entah kenapa saya hampir selalu tersentuh dengan jenis cinta seperti ini, cinta yang sengaja tak disampaikan, karena memang merasa belum pantas, karena ingin menjaga perasaan masing-masing, dan karena ingin menjaga kesucian cinta itu sendiri. Dan di zaman sekarang, zaman dimana orang-orang bisa menyatakan cinta segampang beli teh gelas di indomart.. saya semakin aware dengan sikap dan prinsip ini. Ini memang ada dalam ajaran agama saya, dan saya yakin apa yang diperintahkan dalam agama saya adalah yang terbaik.  

Tau kan kisah cinta Ali dan Fatimah? Mereka yang memendam rapat-rapat perasaan, sampai setan pun tak tau, akhirnya pun bisa berjodoh. Kita sering lupa, bahwa masalah cinta dan jodoh tak hanya tentang 'aku dan kau', tetapi ada campur tangan Allah disana. Dan saya sangat percaya, skenario yang Allah tuliskan jauh lebih ciamik dan indah daripada roman sekelas Romeo and Juliet karya Shakespeare yang melegenda sekalipun.
Lah, ini saya nulis opo to?  ok, back to topic, puisi Hujan Bulan Juni.

Yang kedua adalah tentang pemilihan kata atau diksi dalam puisi ini. Hujan adalah kata yang sempurna untuk menggambarkan sosok seorang pecinta. Hujan itu sempurna menjadi pelaku. Dia selalu turun beramai-ramai (ya iyalah.. bukan hujan namanya kalo cuma turun setetes), bukti cintanya yang banyak. Selalu memberi dan tak mengharap balasan. Meski pohon berbunga itu tak pernah tau bahwa hujan yang menyokong hidupnya menaruh bibit rindu di setiap tetes rintiknya. Menjadikan hujan sesosok yang tabah, bijak, dan arif.

Dan yang terakhir adalah tahun kelahiran puisi ini sendiri. Puisi Hujan Bulan Juni diterbitkan sekitar tahun 1989, dan meski saya belum lahir saat itu, saya yakin bahwa pada zaman itu cuaca dan musim masih normal, belum kentara kena anomali cuaca akibat efek global warming. Musim hujan sekitar bulan September-April, dan musim kemarau terjadi antara bulan April-September. Pada waktu itu bulan Juni masuk pada musim kemarau, dan hampir tidak ada kemungkinan bakal turun hujan. Tapi pak SDD memilih hujan turun di bulan Juni dalam puisinya. aah..menurut saya ini cerdas sekali. 

Well, adakah kalian yang mencintai seperti hujan bulan Juni?  

Read More...

Jumat, 08 Maret 2013

Sebuah Kontemplasi

Leave a Comment
sebenarnya ini adalah rekaman Kak Yunus Kuntawiaji di Soundcloud. Pertama denger ini saya merinding lalu perlahan-lahan ada yang ngalir di sudut mata. Jujur sekali. Mengingatkan betapa lemah kita dihadapanNya, kita tak ada apa-apanya. Apalagi dengan backsound dari Alm. Chrisye yang 'Saat Tangan dan Kaki Berkata' #makjleb... T.T

Ya Allah,
BagiMu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya,
BagiMu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya,
BagiMu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya,
BagiMu segala puji, dan bagiMu kerajaan langit dan bumi serta seisinya,
BagiMu segala puji,
Engkau benar, janjiMu benar,
firmanMu benar, bertemu denganMu benar.
surga adalah benar, neraka adalah benar,
para Nabi adalah benar, Muhammad adalah benar,
hari kiamat adalah benar.

Ya Allah kepadaMu aku pasrah,
kepadaMu aku bertawakkal,
kepadaMu aku beriman,
kepadaMu aku bertaubat,
dengan pertolonganMu aku berdebat,
kepadaMu aku menjatuhkan hukum.
oleh karena itu ampuni dosaku yang telah lalu dan yang akan datang.
Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan.
Tiada Tuhan yang haq disembah kecuali Engkau.
Engkau adalah tuhanku,
Tidak ada tuhan yang haq disembah kecuali Engkau

Ya Allah tolonglah aku untuk selalu mengingatMu,
bersyukur kepadaMu dan beribadah kehadiratMu.
Ya Allah tolonglah atas keselamatan agamaku, keafiatan badanku, pertambahan ilmuku, keberkahan rezekiku, taubat nasuha sebelum ajal, dan ampunan sesudah mati.

Ya Allah selamatkan aku dari neraka dan maafkan dosaku ketika ditimbang nanti.
Ya Allah bimbinglah hati dan pikiranku,  agar selalu merasa khusyu' bersujud di atas sajadah panjang terbentang sampai ke pintu kematian.
Ya Allah dengan kasihmu, semoga di kampung akhirat nanti Kau masukkan aku ke dalam komunitas para anbiyaa' dan syuhada, meski pada barisan yang paling belakang.

dengar disini, semoga bisa kembali menghaluskan hati.

Read More...

Kamis, 22 Maret 2012

a poem for my future husband..

1 comment
Aku berdoa untuk seorang pria yang kelak akan menjadi bagian hidupku
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tau bagi siapa dan untuk siapa ia hidup,
Seorang yang memiliki hati bijak bukan hanya otak yang cerdas,
Seseorang yang tidak hanya memujaku, tetapi dapat juga menasehatiku bila salah,
Seorang pria yang mencintaiku bukan karena parasku, tapi karena hatiku,
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi
Seorang pria yang dapat membuatku merasa dihargai sebagai seorang wanita kala berada di sisinya,

Aku tidak meminta seorang pria yang sempurna,
Namun aku meminta seorang pria yang tidak sempurna sehingga aku dapat membuatnya sempurnanya di mata-Mu Ya Allah…
Buatlah aku menjadi seorang wanita yang dapat membuat seorang pria bangga
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMu, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMu,
Bukan mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah aku mataMu, sehingga aku dapat melihat banyak hal dalam dirinya
Berikanlah aku mulutMu yang penuh dengan kata-kata bijak dan pemberi semangat,
Sehingga aku selalu dapat mendukungnya setiap hari
Berikanlah aku bibirMu, dan aku akan selalu tersenyum kepadanya
Kami bersyukur kepadaMu yang telah mempersatukan kami
Telah memberi kami seorang yang dapat melengkapi hidup kami menjadi sempurna
Dan Tuhan akan membuat segalanya indah pada waktu yang Ia tentukan

( source sapista )
Read More...

Jumat, 27 Januari 2012

Aku Ingin Dicintai Karena Allah

Leave a Comment
“Jika kau mencintaiku kerana sifatku yang ceria
Menjadi semangat yang menyala di dalam hati mu
Kemudian aku bertanya
Bila keceriaan itu kelam dirundung duka
Seberapa muram cintamu kan ada?

Jika kau mencintaiku karena kecantikanku
Menyejukkan setiap mata yang memandangnya
Kemudian aku bertanya
Saat kecantikan itu memudar ditempuh usia
Seberapa pudarkah kelak cintamu padaku?

Jika kau mencintaiku karena ramah hatiku
Memberi kehangatan dalam setiap sapaanmu
Kemudian aku bertanya
Kiranya keramahan itu tertutup kabut prasangka
Seberapa mampu cintamu memendam praduga?

Jika kau mencintaiku karena cerdasnya diriku
Membuatmu yakin pada putusanku
Kemudian aku bertanya
Ketika kecerdasan itu berangsur hilang menua
Seberapa bijak cintamu tuk tetap mengharapku?

Jika kau mencintaiku karena kemandirian yang ku miliki
Menyematkan rasa bangga mu yang mengenalku
Kemudian aku bertanya
Jika di tengah itu rasa manjaku tiba menyeruak
Seberapa tangguh cintamu tuk tetap bersamaku?

Jika kau mencintaiku karena tegarnya sikapku
Menambatkan rasa kagum pada kokohnya pertahananmu
Kemudian aku bertanya
Andai ketegaran itu rapuh diterpa badai
Seberapa kuat cintamu bertahan?

Jika kau mencintaiku karena pengertian yang ku berikan
Menumbuhkan ketenangan karena kepercayaan yang ku tanam
Kemudian aku bertanya
Kelak pengertian itu tertelan oleh ego sesaat
Seberapa kau mampu mengerti cinta ini?

Jika kau mencintaiku karena luasnya danau kesabaranku
Menambah dalamnya rasa cinta semakin kau mengenalku
Kemudian aku bertanya
Mungkin kesabaran itu mencapai batas membendung kesalahanku
Seberapa besar cinta mampu memaafkan?

Jika kau mencintaiku karena keteguhan imanku
Bagai siradj yang benderang mengantarkan cahaya
Kemudian aku bertanya
Kala iman itu jatuh menurun
Seberapa berkurang akhirnya cintamu padaku?

Jika kau mencintaiku karena
Ku yang tlah kau pilih sebagai cinta yang kan kau pegang sepanjang hayat
Kemudian aku bertanya
Pun hati ini tergoncang
Seberapa mantap cinta ini tuk tetap setia?

Andai sejuta alasan tak cukup
Untuk membuat cinta ini tetap bersama diriku
Maka biar kupinta satu alasan tuk menjaga cinta ini….
Aku ingin kau cintai karena Allah..
Karena Dia kan selalu ada tuk menjaga
Maka cintaku kan tetap utuh dan setia
Hingga kelak, ku tak mampu lagi mencintaimu
Karena cintaku berpulang pada-Nya..”

  (via http://zafiruddin.blogspot.com)
Read More...

Sabtu, 31 Desember 2011

Mana Mungkin Aku Setia

Leave a Comment
Mana Mungkin Aku Setia… (B.J. Habibie for Ainun Habibie)

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.

“Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.”

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, Selamat jalan, calon bidadari surgaku….

saya ingin bisa seperti Ibu Ainun Habibie... menjadikan suami saya kekasih yang baik serta mengajarkannya tentang cinta dan kesetiaan. aamiin.
Read More...

Rabu, 04 Mei 2011

Hari Hari yang Sempurna

Leave a Comment
Hari hari yang sempurna
Ketika selalu melihat rembulan tersenyum
Ketika selalu berada di naungan sinar senja yang hangat
 
Hari-hari yang sempurna
Ketika hangatnya mentari mampu mengeringkan luka yang menganga
Ketika gelap merapat dipeluk hangat senyum manis bidadari
Ketika kebersamaan membuat jiwa ini dapat bertahan

Hari-hari yang sempurna
Ketika bersama

Hari-hari yang sempurna
Ketika selalu kalian bantu jiwa ini bertahan

Bertahan sampai sejauh ini ...
Bertahan sampai hari ini ...

Hari-hari yang sempura
Ketika rasanya semua masalah sirna
Ketika semua penuh tawa dan keceriaan

Hari-hari yang sempurna
Ketika kalian membuatku lupa dimana seharusnya ku berpijak
Ketika
kalian bantu untuk melupakan siapa diriku
Ketika
kalian bantu aku untuk menjadi manusia baru
Walau masih merangkak, tertatih, mencari jati diri baru
Walau masih banyak tabir yang harus disingkap satu demi satu

Kegetiran dalam jiwa yang hancur bergantung padaku
Gelap yang menggelayut resah,
Tergulung ombak... lepas terhempas dibatu karang yang menyayat tubuh

Hari-hari yang sempurna....
Read More...

Rabu, 22 Desember 2010

IBU, INI PUISIMU..

Leave a Comment
Jika bisa ku berikan jiwaku,Bu
Yang ini untukmu


Dan …..
Ibu bisa bilang pada semuanya, Ini Puisimu.
Mungkin sederhana
Tapi sekarang sudah selesai.
Kuharap Ibu tak keberatan kurangkai dalam kata-kata


Betapa indahnya hidup, karena Ibu yang mengajariku
Menatap ke langit biru, aku melihat surga untuk Ibu
Apa ini dosa pertama? membuatku bingung …...
Mentari berbaik hati saat ku tulis puisi ini ….
Orang seperti Ibu yang membuat dunia ini terus berputar.


Maaf aku menjengkelkan
Tapi ….. ini yang kulakukan.
Hingga aku lupa permen atau cola
Tapi yang Ku Ingat Ibu selalu mencintaiku.
Kau bintang tercantik yang pernah kulihat.
Ku bisa bilang pada semuanya, Ini Puisimu.


Mungkin sederhana tapi sekarang sudah selesai.
Kuharap Ibu tak keberatan, kurangkai dalam kata-kata.
Betapa indahnya hidup …..
Ada Ibu dalam duniaku..




Happy Mother's Day
and specially for my beloved mum, the best mum in the world..
Read More...

Sabtu, 06 November 2010

Karena Aku Mencintaimu..

3 comments
Puisi di bawah ini saya sadur (kata lainnya “coppas”, hehehe…ampun dah!!) dari note teman semasa SMP saya, mas Muhammad Faris Zaini Fuad yang sekarang kuliah di UGM Jogja. Entah di buat sendiri atau juga dapat dari mana…yang jelas saya suka sekali.


Karena Aku Mencintaimu

Wahai Ukhti…
Karena aku mencintaimu, maka aku ingin menjagamu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin terlalu dekat denganmu
Karena aku mencintaimu, aku tak ingin menyakitimu

Karena cintaku padamu,
Tak akan kubiarkan cermin hatimu menjadi buram
Tak akan kubiarkan telaga jiwamu menjadi keruh
Tak akan kubiarkan perisai qolbumu menjadi retak, bahkan pecah

Karena cinta ini,
Ku tak ingin mengusik ketentraman batinmu,
Ku tak ingin mempesonamu,
Ku tak ingin membuatmu simpati dan kagum,
Atau pun menaruh harap padaku.

Maka biarlah…
Aku bersikap tegas padamu,
Biarlah aku seolah acuh tak memperhatikanmu,
Biarkan aku bersikap dingin,
Tidak mengapa kau tidak menyukai aku,
Bahkan membenciku sekali pun, tidak masalah bagiku….

Semua itu karena aku mencintaimu,
Demi keselamatanmu,
Demi kemuliaanmu.



meskipun tujuannya malah untuk menjauhkan diri dan menolak memberi harapan…tapi (seandainya) jika ada seorang ikhwan (cowok, lelaki, red. ) yang mengatakannya, saya rasa ………………… (artikan sendiri). Karena, er…yah jarang ada lelaki seperti itu kan?
Read More...

Minggu, 25 Juli 2010

Then....

Leave a Comment
When you hold hands
there is no difference between your hand and hers,
they are not hands,
they are one hand
Then it is
When you are alone
and you both know you could
and you know that you want to
but you know you won't
Then it is
When time halts when you gaze
deep into her eyes
you see beauty
you see passion
Then it IS
Read More...

Sabtu, 12 Juni 2010

KELUHAN MALAM

Leave a Comment
Malam tersedu kala bintang mengayuh pergi.
dengan lirih berucap, akankah jumpa kau esok?
atau mungkin esok, esok, dan esoknya?
Oh… mungkin juga lusanya?

ingin kusanjung paras cinta selalu, keluh malam.
andai perasaan ini tertuang pada sang bintang……
tiap detik kerinduan mencekik leherku.
cemburu membakar hati hingga menghanguskan akalku…
bosan menyiksaku dengan kejamnya…mencoba membunuhku
Ah, bagaimana ini?, keluh malam

Melihatmu bagai air, mungkin juga obat bagi rentaku
mencium nafasmu juga bisa tenangkan jiwa.
saat mimpi membuai, asa bersemi melampaui mampuku….

Melewati tiga abad sendiri ini sudah tentu menguras rasaku, keluh malam.
Malam terus mengeluh hingga hatinya marah.
terus mengeluh hingga makin pekat.
terus mengeluh hingga kehabisan kata-kata.
Dan hanya malam…., terus mengeluh, meratapi sang bintang.
Read More...

Sabtu, 05 Juni 2010

KAU

Leave a Comment


Terjaga dari khayalku, ku tahu hanyalah malam

begitu larut untuk sadarkanku dari impian
dan bintang terlalu redup untuk mengira-ngira apa yang kurasa…

Tapi jarak takkan pernah jauh untuk mengenangmu dari sini.
Dengan nafasmu aku bertahan dan dengan helamu hidupku berlanjut.
Kau sesejuk embun pagi yang menyegarkan setiap letih jiwaku…
sehangat mentari yang membakar gairahku…

haruskah tanyaku tentang rasamu
pada angin malam yang menebarkan wangi tubuhmu?
atau biarkan saja seribu tanya mendewasakanku?

Aku bukan dewi…sadar akan mampuku.
coba merayu waktu tuk melambat bila ku di bahumu

Aku bukan ratu….tak kuasa atas dirimu.

coba meminta lindungan pedang cintamu
Read More...