Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

ini hanya fiksi (15)

Leave a Comment
Move On


Elin mendadak meremas tanganku di atas meja dengan mata melotot, "Tono nembak lu? Kemarin? Lewat telpon?"

"Ya ga nembak juga kali, Lin.. 4 hari yang lalu. Doi cuma ngungkapin perasaannya pas dulu doang kok." Aku berkilah. "Awalnya sebenarnya doi nelpon buat nanya alamat gue, katanya mau ngebalikin barang gue yang doi ambil diem-diem pas sekolah dulu. Tapi gue ga merasa ada barang gue yang ilang, makanya gue ragu.. kan ga lucu kalo di suatu pagi tiba-tiba doi muncul di depan kostan gue. Nah, gue kasih aja alamatnya teh Inna, gue bilang kirimin aja ke alamat itu. Dan huwalaaa.. ini yang gue dapet dari teh Inna kemarin." Aku mengeluarkan sebuah kotak sepatu yang dibungkus kertas kado hijau daun. 

Elin dengan rakus membuka kotak itu. Matanya makin melotot mendapati isi kotak sepatu. "Gilaaaaaa...." komentarnya.

Ekspresi ku malah lebih kacau lagi saat membuka kotak ini kemarin. Bagaimana tidak, isinya adalah puluhan fotoku saat sekolah dulu, dalam berbagai pose, yang diambil diam-diam. Ada yang lagi minum saat masih pakai seragam drum band SMP (masih pakai kamera pocket fuji yang ada tanggalnya), ada yang saat aku kepedasan makan bakso di kantin SMA, ada juga saat istirahat latihan paskibra kelas X. Tidak hanya itu, aku menjumpai foto-fotoku semakin banyak saat aku memutuskan berhijrah dengan berkerudung di kelas XI. Foto saat rapat OSIS, rapat pengurus mushalla, foto ngobrol di kelas, foto ngehukum junior, dan masih banyak lagi. Dan semuanya diambil tanpa sekali pun aku sadari. Di dasar kotak sepatu itu ada tempat pensilku yang seingatku hilang saat ketinggalan di laboratorium bahasa. Ada sepotong kertas yang menempel pada tutupnya, "Ini milikmu semuanya, saya kembalikan. Maaf mengambilnya diam-diam. Tapi saya rasa kita sekarang impas, karena waktu itu kamu juga sudah mengambil hati saya diam-diam. Tono."

"Trus, lu udah confirm ke doi abis nerima ini?" cecar Elin.

"Enggak.. apa yang harus dikonfirmasi?" aku balik bertanya.

"Ya perasaan doi ke elu sekarang lah. Gila men.. ada cowok mendam perasaan suka sama elu selama 9 tahun dan ga ada yang tau. Lu ga penasaran sekarang doi masih suka apa enggak sama elu?"

"Gue rasa ga perlu, Lin.. Terus terang gue penasaran dia masih ada rasa atau enggak sama gue. Tapi ya ga mungkin lah gue mengkonfirmasi sesuatu yang sampai merendahkan martabat gue sebagai perempuan. Itu urusan doi. Gue cukup bersyukur aja doi begitu rapih menata semua perasaannya buat gue selama 9 tahun ini. Sampai gue ga tau dan ga kerasa terganggu. Dan gue apresiasi rapi banget hatinya dia itu."

"Maksud lu gimana, Ran? Gue ga ngerti... jelasinnya pake bahasa rakyat jelata dong." Elin merengut sebal.

"Hahaa Eliiin... maksud gue, sekarang ya lu liat aja deh.. banyak banget cowok yang begitu gampangnya ngegombalin setiap perempuan yang baru mereka temui. Dikit dikit bilang sayang lah, bilang 'I love You' lah. Lah, belum lagi ada yang ngaku-ngakunya ikhwan, ngaku-ngakunya shalih, tapi kerjaannya ngegodain perempuan mulu. Mirip sama abang-abang di pinggir jalan aja. Lu inget kan beberapa bulan lalu yang gue curhat gue lagi ketakutan gara-gara merasa insecure dimata-matain gitu?
Dikejar-kejar itu capek, ganggu banget. Perasaan "sayang" apa coba yang bikin sampai seorang perempuan merasa unsafe dan insecure gitu? Omong kosong lah kalo kata gue mah.. 
Nah, kalo kasus kaya' Tono ini, maksud gue.. selama doi ga ganggu gue, selama perasaan dia ga bikin gue merasa ga aman, gue fine-fine aja. Urusan perasaan dia ke gue ya urusan dia, hak dia, selama dia ga ganggu gue. Masalah kita berjodoh apa enggak mah udah diatur di Lauhul Mahfudz. Gituuu maksud gueee."

"Trus kalo besok-besok doi beneran datang ke sini, gimana Ran?"

"Siapa? Tono? Ya dateng aja lagi.. paling juga dateng-dateng mau nganterin undangan buat kita."

"Hah? Undangan apaan?"

"Jadi yaa.. dia ngebalikin semua foto-foto dan barang-barang ini karena dia udah muvon, dia mau nikah bulan depan, sama si Mira anak IPS2, inget ga lu?

Gantian Elin yang shock sekarang.


Read More...

Sabtu, 05 April 2014

ini hanya fiksi (14)

Leave a Comment
Cermin

"Susah ya, Ri, demen sama sobat sendiri tapi ga bisa ngaku. Banyakan takut ditolaknya.
Ga enak banget gue kalo liat doi lagi suntuk dan ga semangat kaya' sekarang. Aslinya pengen gue cubit pipinya atau gue sumbangin energi buat bikin bola semangat, tapi takut doi tau gue punya perhatian berlebih trus doi malah menjauh dan temenan kita ga asik lagi. Yah, dan pada akhirnya gue cuma bisa ngirimin doa-doa aja buat doi. 

Semakin gue pikirin semakin gue ga paham dengan friendzone. Apa sih salahnya suka sama temen sendiri? Menurut gue, malah asli tuh, saling tau gimana dia sebenernya, saling tau sifat jelek masing-masing, bahkan udah tau apa yang harus dilakukan buat nenangin dia kalo chaosnya kumat. Iya ga? Gue tau banget kita punya mimpi dan semangat yang sama, maksud gue, kenapa kita ga bareng aja dari sekarang sampai nanti?

Gatau kenapa gue rasa kans gue buat doi terima itu kecil, Ri. Dia ga pernah cerita soal laki-laki lain atau idaman doi kaya' apa, tapi setiap gue liat matanya, gue udah kaya' bisa liat masa depan, Ri (hahaa.. sok tau ya gue) dan itu sepertinya bukan gue yang ada di sana. 

Kata orang perempuan itu perasa banget.. mungkin ga ya doi udah ngerasain tapi pura-pura ga tau?

Ri, menurut lu could perfect be a problem? Lu tau sendiri doi gimana. Cantik, pinter, lumayan berada, latar belakang keluarganya bagus, walaupun agak jutek sih, pemahaman agamanya yang sebenarnya bikin gue kagum berat. Dan itu yang bikin gue betah berjam-jam diskusi sama dia, yang gue harepin bisa terjadi long lasting sampe kita jadi kakek nenek ntar, sampe lu udah masuk kuburan duluan, eh sori. Tapi gue merasa ga mampu mengimbangi itu, Ri. I'm very ordinary. 

Jawab gue, Ri. Could perfect be a problem?

Posisi gue serba salah ya, Ri? Gue maju aja ga nih? Emmm.. gue rasa gue emang harus maju, Ri. Laki-laki macam apa yang merelakan saja perempuan yang dicintainya pergi tanpa usaha? Gue akan maju dulu, Ri.. apapun yang terjadi nanti :)
Doain gue ya, Ri."

Read More...

Rabu, 02 April 2014

ini hanya fiksi (13)

1 comment
Salah

Aku melihatnya tergopoh memakai sepatu di serambi mushalla, rambutnya masih basah dan lengan kemejanya masih tergulung. Matanya merah kurang tidur, semalam sepertinya ia tak tidur cukup. Ada gurat rasa bersalah dalam keringat di keningnya, yang cepat-cepat dihapus saat tau aku mendekati posisinya.

"Sudah mau pergi lagi?" basa-basi, aku menyapa.

"Iya, sudah ditunggu. Saya duluan ya."

Aku mengangguk kikuk dan cuma bisa menatap punggungnya yang berbalut kemeja khaki menjauh. Mungkin lebih baik jika tadi aku pura-pura tak melihatnya. Entahlah, sejujurnya aku benci situasi ini. Palsu. Aku tau dia juga begitu. Tak mungkin dia tak lelah harus selalu pura-pura bahagia setiap melihatku. Tapi tak ada yang mau mengutarakannya langsung di hadapan masing-masing. Kami sama-sama bersembunyi di balik benteng, lalu memakai topeng. 

Aku dulu merasa kuat sekali, bertahan karena aku yakin hati tetaplah hati, bisa berbolak-balik. Tapi kini sepertinya aku mulai kehabisan energi dan harapan.  Hati dan kepalanya lebih kuat dari yang kuduga. Cinta bukanlah cinta jika hanya dari satu sisi, jika hanya satu pihak yang berjuang, dan kini aku tahu kenapa ibu masih belum memberikan restu atas pernikahan kami yang tinggal 1 bulan. 

Apa dibatalkan saja? Aku diserang ragu.
Aku menggeleng, memperkuat segala perasaan bersalah yang datang menghakimi. Aku yang salah menariknya sejauh ini. Aku bodoh sekali mengira cinta hanyalah masalah waktu. Maaf, maafkan aku yang telah membawa fisikmu sejauh ini, tapi tidak hatimu. Rasamu sepertinya tertinggal beberapa langkah di belakang. Aku kali ini akan membiarkanmu kembali dan memungutnya disana. Kembalilah hanya jika kau sudah siap.


Read More...

Senin, 09 Desember 2013

ini hanya fiksi (12)

Leave a Comment
Tolong, jangan asal nyeletuk, "aku tau yang kamu rasakan".
Tidak, kalian tidak benar-benar tau. Kalian tidak pernah melihat segalanya dari sudut pandangku. Kalian bukan tulang yang aku gerakkan, dan bukan pula daging yang dalam tubuhku. Kalian tidak menjalani hidup yang aku jalani. Kalian tidak pernah tau rasanya menjadi aku.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al Hujurat: 13)
Read More...

Jumat, 11 Oktober 2013

ini hanya fiksi (11)

Leave a Comment
Kau dan aku adalah orang asing awalnya. Kita saling tak tau menu makan siang favorit, bahkan secuil nama. Kau dan aku adalah orang asing di tengah deru semesta ini. Tak pernah saling kenal sebelumnya. Tak juga bertemu, apalagi saling memeluk rindu.

Matahari tetap saja terbit dan tenggelam, aku bosan dan mencari teman berkata. Suatu kali kau dan aku terjebak di tengah rintik di kota kita, aku bertanya, "saat hujan, apa yang sebaiknya dilakukan?"

Kau menoleh, memutar mata dan menyiapkan jawab.

"Aku suka menonton bulir-bulirnya menetes di jendela besar, sambil menyesap secangkir susu coklat panas. Aku suka mengeluarkan tanganku dari jendela bis untuk menangkap tetesnya. Aku juga suka berdiri diam di tengah hujan, membayangkan bumi tengah diguyur penyiram bunga raksasa. Tapi yang paling aku suka adalah melantunkan bait-bait doa, yang akan melaju ke langit bersama doamu, lalu seperti hari ini, kita bertemu."

Aku menunduk, malu merona merah beranakpinak di pipiku. Kau juga diam. Kita kikuk dalam rasa.

Hujan reda. Aku pamit mengatur langkah. Lalu kita menjadi orang asing dalam kehidupan masing-masing. Jalan masih panjang, dan mungkin, di ujung sana kita akan jumpa lagi.





Read More...

Selasa, 09 Juli 2013

ini hanya fiksi (10)

Leave a Comment
Peduli


Gilang meneguk sisa kopi terakhir di gelas plastik hingga tuntas tak tersisa, lalu meremasnya dan melemparnya ke tempat sampah kuning 3 meter dari bangkunya. Plung! Gelas plastik tadi masuk dan tenggelam dalam tempat sampah.
Gilang tersenyum bangga lalu melirik arlojinya. Dia sudah akan berdiri untuk membeli kopi lagi di kedai tepi jalan sana kalau saja tak ada suara pekikan seorang gadis.

"Whooooi, Gilaaaangg...."
Gilang menoleh ke sumber suara, tampak Indri setengah berlari menyongsongnya.

"Maap yak, aku telat lagi... habis tempat rapat tadi mendadak dipindah, sih..., mau kemana kamu?"
Indri sudah duduk di bangku sambil mengatur napasnya.

Gilang urung berdiri, "Beli kopi lagi. Nungguin kamu lama."

Indri merengut, "Iyaaa... maap lagi deh. Ih, ngapain beli kopi? Kamu udah habis berapa gelas tadi sambil nungguin aku tadi coba?"

Gilang mengangkat tangan kanannya, membentuk tanda peace dengan jari telunjuk dan tengahnya.

"Haaah, dua?" Mata Indri terbelalak lebar, lucu sekali melihatnya.

"Iya"

"Kamu jangan sering-sering minum kopi dong... ga bagus tuh buat kesehatan kamu. Ini nih, kamu minum jus aku aja deh..." Indri menyodorkan jus buah kemasan dari dalam tasnya.

Gilang bukannya mengambil, malah mengibas-ngibaskan tangannya, "Ga ah... kamu aja. Kamu haus kan habis lari-lari tadi?"

"Enggak apa-apa, kamu aja. Aku maksa. Aku masih punya air kok." Indri bersikeras menyodorkan kotak jus buah. Indri memang tak suka penolakan.

Gilang mengalah. Dia mengambil jus buah tersebut dan meminumnya. Wajahnya meringis sebentar, "aseeeem..."

"Ya kan emang jus jeruk... ga suka asem ya? Besok-besok deh aku bawain jus lain ya..." Indri berusaha menutup mulutnya yang tak bisa menahan tawa dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya memegang botol air.

"Ga papa ini aja. Ndri, kenapa sih kamu peduli banget sama aku? Dulu pas aku keranjingan makan mi instan, kamu bela-belain masak dan bikinin kotak bekal tiap hari, dulunya lagi pas aku masih merokok, kamu ngambek dan bilang ga mau ngobrol sama aku...."

"Itu karena aku emang ga tahan sama bau rokok, Laaaang..." Indri memotong, sewot.

"Trus sekarang juga. Jus ini dan susu kemarin juga." Gilang menatap lurus pada Indri, menunggu jawaban.

Indri tersenyum, mengayun-ayunkan pelan kakinya.
"Lang, aku udah kenal kamu lama. Aku tau gimana pedulinya kamu sama anak-anak jalanan di terminal pasar sana. Aku juga tau kamu peduli sama mbah Arip yang tinggal sendiri. Kamu juga peduli teman-teman yang lain, yang ga sungkan-sungkan menawarkan bantuan apa saja.. tapi kamu malah ga peduli sama diri kamu sendiri, ga aware sama kesehatan kamu. Iya kan? Waktu aku tanya kenapa kamu ga pernah ragu untuk selalu datang menghibur dan menolong mereka, kamu bilang ga ada alasan untuk itu, kamu hanya sayang sama mereka. Trus sekarang kalo aku peduli sama kamu, emang aku harus punya alasan juga ya?"


Read More...

Selasa, 18 Juni 2013

ini hanya fiksi (9)

Leave a Comment
Pernikahan Impian


Sehangat pelukan hujan saat kau lambaikan tangan, tenang wajahmu berbisik, ini lah waktu yang tepat untuk berpisah...
(SO7 - Waktu yang Tepat Untuk Berpisah)


13 Mei 2011

Sore ini cerah. Langit biru dan angin semilir berhembus. Aku duduk di bangku taman bersama seorang teman diskusi, Rian. Aku makan tahu crispy dan dia baca koran sore. Ada burung merpati yang hinggap di depan kami, aku melemparkan remah-remah terakhir tahu crispyku. Lalu entah bagaimana aku mulai bercerita teman pada yang duduk disampingku bagaimana pernikahan impianku nanti akan digelar. Mencoret-coret bungkus tahu crispy yang sekarang sudah jadi denah ruang pesta pernikahan impian. Rian menutup korannya dan mulai seksama mendengarkan. Kadang hanya manggut-manggut, kadang sesekali menambahkan detail acara, kadang pula hanya tersenyum memperhatikanku mengoceh sesuka hati. Lalu dia menutup ocehanku dengan sebuah pertanyaan ajaib mandraguna, "siapa yang bakal duduk bareng kamu di pelaminan?"

Aku langsung manyun, menatapnya dengan kesal... 'kenapa sih dia nanya itu?'
"Belum tau!" aku menjawab ketus. "Siapapun nanti yang duduk bareng gue, gue mau dia ga merokok, suka baca buku, dan bisa main sama anak-anak."
Rian tertawa, lalu bertanya "Kenapa?"
"Well, kalo dia merokok tandanya dia ga sayang sama gue dong... masa' iya gue diracunin tiap hari. Trus ya, kan enak gitu kalo punya suami suka baca, wawasannya luas, bisa sering-sering diskusi kan..."
"Kenapa harus bisa main sama anak-anak?"
"Ya biar dia ikut andil dalam ngebesarin anak-anak gue lah... emang sih, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya nanti, tapi tetep aja kepala sekolahnya sang ayah kan?
Rian tersenyum setuju. Lalu mengubah posisi duduknya sepenuhnya menghadap padaku. Berdehem dua tiga kali, lalu dengan lembut memanggil namaku.
"Rasti...."
"Hem... " aku masih sibuk dengan coretan di bungkus bekas tahu crispy.
"Gimana kalo itu aku?"
"Eh, apanya?" aku bingung.
"Darina Parasti, gimana-kalo-aku-yang-nemenin-kamu-duduk-di-pelaminan-?"ucapnya patah-patah.
Aku secara dramatis mengangkat kepala dan menatapnya. "Elo becanda jangan soal beginian dong.."
"Siapa yg becanda, aku serius kok. Aku merasa sudah memenuhi 3 syarat tadi. Pertama, aku ga pernah merokok. Kedua dan ketiga, kamu bisa tau sendiri lah, di rumahku ada berapa banyak buku dan adik-adikku, dan seberapa sering aku interaksi sama mereka.  Aku rasa kamu tuh harus dijaga dan sedikit diperbaiki, pelan-pelan dengan cinta pasti bisa. Dan aku mau ngelakuin itu, seumur hidup pun. Jadi, gimana... kamu mau jadi sekolah buat anak-anakku nanti?"

Merpati-merpati tadi sudah terbang pulang dan senja yang terbenam di sebelah barat sana sukses membuat pipiku semakin merona merah.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

20 Oktober 2013

Aku pelan-pelan menaiki tangga pualam putih menuju ruang resepsi.
Ruang resepsi itu megah,  dengan dekorasi dominan berwarna hijau-putih, seperti impianku.
Kain merah jambu panjang terpajang di pintu masuk, tempat para undangan bisa menuliskan doa dan harapan kepada sang pengantin, seperti impianku.
Ada rumpun bunga tulip putih segar di setiap sudut dan mengalun merdu lagu Teman Hidup dari Tulus, seperti impianku.
Semua tamu undangan yang datang duduk menikmati hidangan tersenyum bahagia, itu juga persis seperti impianku.
Ini sempurna resepsi pernikahan impianku... yang telah aku rancang dari bertahun-tahun lalu.

Rian terlihat paling bahagia. Tak henti-henti menebar senyum ke seluruh penjuru. Lalu saat melihatku, ia tertegun sebentar lalu senyumnya semakin lebar. Aku melambai sebentar ke arahnya dan bergerak maju menuju pelaminan.
"Selamat ya, Kin, Yan..." aku menyalami Kinar, adik juniorku di club sastra kampus dulu dan tersenyum pada Rian.
Kinar, yang tampak cantik sekali memakai gaun putih tersenyum, "Makasih ya mbak Rasti mau datang..."
"Iya, gue seneng banget Ras, elu dateng. Lu bareng siapa kesini?" tanya Rian.
Aku merasa ada jeda yang panjang. Aku mencoba tersenyum, dan menjawab, "Seperti biasanya lah... sendiri, Yan.. hhee.. gue seneng juga nerima undangan elu."

Tamu-tamu sudah banyak yang pulang. Aku yang ditahan agar tak pulang dulu oleh keluarga Rian akhirnya memilih duduk di kursi undangan dan membuka smartphone-ku, mengecek beberapa email yang baru masuk dari universitas tentang kepulanganku ke negara ini.
Kinar tampak sibuk meladeni teman-temen kuliahnya ngobrol di panggung, tertawa-tawa bahagia sambil sesekali membenarkan bouquet bunganya. Rian akhirnya memilih turun dari panggung dan duduk dua bangku di sampingku.

"Lu bakal lama disini, Ras?"
Aku tersenyum, memasukkan smartphone-ku dalam clutch toska yang kubawa dan menggeleng, "Nggak, Yan...kemungkinan gue bakal balik lusa, ga dapat ijin cuti lebih dari universitas nih.."

Rian ber-ooooh panjang. Lalu diam. Aku juga diam. Ada sepi panjang  dan dingin yang menerjang..

Akhirnya aku kalah melawan perasaanku, aku pamit pada Rian, pada Kinar, pada keluarga Rian yang menyerah membujukku tetap tinggal.
Aku tak mampu tetap di sana. Semakin lama melihat semua detil pesta pernikahan ini semakin getir dan sakit hatiku. Dan tentu saja fakta yang paling menyakitkan adalah, bukan aku yang duduk bersama Rian di pelaminan. Bukan aku.

Waktu dan jarak memang bisa merubah perasaan hati manusia. Perasaan hati Rian tepatnya. Dua tahun lalu aku memutuskan mengambil schoolarship S2 ke Finlandia. Rian juga ambil S2, tapi tetap di Indonesia sambil menjaga orangtuanya. Kesibukan kami di tahun kuliah membuat komunikasiku dengan Rian semakin renggang seiring waktu. Lalu berhenti sama sekali. Dan minggu lalu sebuah undangan tiba di flatku. Undangan yang membuatku berada di sini hari ini, undangan pernikahan Rian.

Setengah berlari aku menuruni tangga keluar gedung, menahan air mata yang hendak tumpah ruah sedari tadi. Pandanganku semakin kabur dan akhirnya aku jatuh di undakan tangga terbawah yang licin. Aku tak kuat lagi menahan air mata, ia lolos bertetes-tetes melewati pipiku. Aku bahkan tak sanggup lagi berdiri. Aku menangis sendiri di bawah hujan. Bahkan, menikah di musim penghujan seperti ini adalah impianku.


Read More...

Kamis, 30 Mei 2013

ini hanya fiksi (8)

Leave a Comment
Bolehkah Aku Tau Nama mu?


Hai, aku Ari. Boleh tau nama mu?

Namaku Ari. Malam Minggu ini aku memutuskan pergi ke bookfair di tengah kota alih-alih tinggal di kontrakan sendirian. Berkutat dengan buku dan komik jauh lebih menyenangkan dibanding ngapel di kostan anak gadis. Aku lebih suka berjam-jam membaca, main PES, nonton bola atau naik gunung bersama sohib-sohibku. 

Namaku Ari. Mahasiswa. Orang bilang aku jomblo, padahal tidak, aku ini masih single. Pacaran itu ribet menurutku, harus lapor-lapor ke orang lain segala macam setiap 5 menit sekali. Hubungan yang tidak dilindungi oleh pemerintah pula, males banget kan? Aku percaya pacaran bukan jalan yang baik untuk mendapatkan pendamping hidup. Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak pernah memikirkan tentang lawan jenis. Aku ini masih normal. Dan, ada seorang perempuan yang belakangan ini selalu mampir ke pikiranku, perempuan yang sangat ingin aku temui lagi, dimana pun dia sekarang berada, meski hanya untuk tau namanya.

Aku tengah berada di salah satu booth penerbit buku ketika melihatnya. Abu-abu. Kerudung dan roknya abu-abunya langsung menarikku ke arahnya bak magnet. Entahlah, dia bersinar. Matanya besar dan tajam. Aku ragu, jangan-jangan dia kesini dengan seseorang. ah tapi akhirnya aku mendekat pula ke padanya. Kini jarakku dan jaraknya tak lebih dari 2 jengkal, aku pun bisa lebih memperhatikannya diam-diam sambil pura-pura membaca buku. Dia begitu khusyuk menjelajahi sebuah ensiklopedia  hingga tak sadar aku beringsut mendekatinya. Seorang penjaga booth menjatuhkan buku tak jauh dari kami, menimbulkan suara gedebuk yang akhirnya membuatnya mengangkat muka mencari sumber suara. Saat itulah dia menatapku yang juga masih menatapnya. Dia tersenyum. Manis sekali. Itu senyuman termanis yang aku dapat seminggu terakhir ini, setelah senyum Dian Sastro yang aku lihat di sebuah iklan teve kemarin sore. Dia masih tersenyum ketika aku tiba-tiba gelagapan, sibuk membalik-balik halaman buku yang pura-pura aku baca.

Namaku Ari. Belum pernah aku segentar ini menghadapi perempuan. Dia kembali asyik dengan ensiklopedianya, dan aku saking gugupnya, hendak menyapa tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkonganku. Mulutku terbuka dan tak ada suara yang keluar. Ini aneh! Aku bergegas meninggalkannya menuju toilet.

"Assalamualaykum. Hai, boleh kenalan?
Hai, aku Ari. Kamu siapa?
Ari Dirgantara. Kamu?"

Aku berlatih berulang-ulang selama 10menit di toilet, berbicara pada dinding. Setelah memastikan suara dan penampilanku ok, aku keluar dan kembali ke booth tadi. Gawat!!! Tidak ada. Dia sudah pergi. Kemana ia? Sudah pulangkah? Pikiranku kalut, baru juga ditinggal sebentar padahal. Aku berputar dan mendapati kerudung abu-abu di deretan kursi depan panggung tak jauh dari booth tadi. Ah, ya... benar itu dia. Dia duduk sendiri membaca. Sebentar lagi acara talkshow dengan salah seorang traveller dimulai. Sang MC sibuk mondar-mandir menyapa para pengunjung. Aku mendekat dan tau-tau duduk sederatan kursi dengannya. Tujuanku duduk hanya ingin melihatnya lagi dan  bertanya siapa namanya, tak peduli dengan si traveller itu. Toh, kenal saja tidak. Deretan kursi itu terdiri dari 5 buah kursi kosong yang berjejer. Dia duduk di ujung kiri dan aku duduk di ujung kanan.

Ini saatnya, aku bertekad dalam hati.

Aku menggeser duduk dua kursi mendekat ke arahnya. Dia menoleh, tersenyum lagi. Dan lagi-lagi kekuatan yang aku kumpulkan di toilet tadi menguap bagai alcohol yang ditaruh di bawah terik matahari. Aku kikuk membalas senyumnya lalu lurus-lurus menatap ke depan.Tak berani berkutik.

Acara talkshow dengan salah seorang traveller dimulai. Dia menutup bukunya dan mulai menyimak obrolan MC dan sang traveller. Senyumnya semakin terkembang dan matanya berbinar-binar. Tampaknya dia sangat mengagumi sang traveller. Aku perhatikan ranselnya yang ditaruh di dekat kakinya, oh, pantas... ranselnya penuh dengan kain-kain tambalan bertuliskan nama-nama tempat tujuan travelling, Indonesia dan juga luar negeri. Semuanya dijahit acak hampir memenuhi tas. Ada beberapa gantungan kunci cinderamata dari Tangkuban Parahu, Malioboro Djogja, KarJaw, dan yang tak terlihat lagi.

Datang seorang ibu dan putranya yang berumur sekitar 10 tahun duduk disebelah kananku. Bisa saja ini aku jadikan alasan untuk menggeser duduk lebih dekat dengan perempuan bersenyum manis ini, tapi entah mengapa urung kulakukan. Aku takut mengganggunya. Beberapa saat kemudian, suami si ibu sampingku datang, berbicara dengan istrinya sembari berdiri. Perempuan itu menoleh ke kanan, ke arahku, tajam, tanpa berkata apa-apa. Aku terkesima, balas menatapnya. Lama, sekitar 2 menit yang aku rasa 2 tahun, lalu aku tersadar dia bukan menatapku, pandangannya melewatiku dan sampai ke bapak-bapak dan istrinya di sebelahku. Aaarrggghh...

Masa' iya dia tak menyadari kuperhatikan sedari tadi? apa sebenarnya dia sadar tapi sengaja mengacuhkanku? aku mulai berasumsi. Ya udahlah, langsung saja kusapa ya. Kebanyakan mikir nih malah ga jadi-jadi nih. Tepat saat itu ponselku berbunyi. Si Radit, teman kontrakanku memanggil.

"Halo.."
"Ri, dimana lo? Cepet pulang lah!"
"Di bookfair. ah, kenapa sih? gue lagi ada misi penting nih."
"Pulang sekarang dah! Kunci kontrakan gue ilang lagi, gue ga bisa masuk nih."
"Kebiasaan! Ga ah.. lo telpon Eko atau Panji sana! atau ga bobol aja deh.. "
"Gila! disangka maling habis lah gue. Eko kan pulang kampung. Panji juga lagi ngapel sama ceweknya. tolong dong, Ri..."
"Kampret lo! Ya udah, gue pulang nih!" aku berusaha mengecilkan suaraku.

Namaku Ari. Akhirnya aku pulang tanpa sempat berkenalan dengan gadis berkerudung abu-abu itu. Setelah hampir 1 jam mengintainya, ujung-ujungnya pun aku tak berani bahkan hanya untuk bertanya siapa namanya. Ini seperti udah nungguin ditraktir temen makan pizza sejak bulan lalu pas hari-H doi sakit, ga jadi nraktir, malah pinjem duit ke kita. Ngenes.

Yasudahlah. Kota tempat tinggalku ini luas, ditinggali oleh ribuan orang... tapi aku berkeyakinan kalo memang jodoh kita akan bertemu lagi kok. Sampai jumpa gadis berkerudung abu-abu, lain kali pasti akan kutanyakan siapa namamu.



Malang,
30 Mei 2013

Read More...

Jumat, 10 Mei 2013

ini hanya fiksi (7)

Leave a Comment
Aku bertanya-tanya pada diri, apa yang kucari? 


Setelah beberapa saat, aku mulai muak dengan semua rutinitas ini. Rupanya terlalu lama aku bersemayam dalam zona nyamanku. Hingga hari ini ada bosan dalam nyaman.
Aku capek. Bosan. Jenuuuuuh!
Seperti terhimpit di ruang besar nan luas, hanya ada aku seorang.
Seperti terpenjara dalam sarang emas, padahal aku adalah burung bebas.

Seutas pikiran dalam kepala berkata padaku, "Kau telah menjadi contoh nyata dari Hukum Gossen."
"Maksudmu?"
Pikiranku lalu berkicau, "Hukum Gossen bicara tentang tambahan kepuasan yang akan semakin menurun. Intinya, jika  suatu kebutuhan dipenuhi secara terus-menerus, maka akan terbit rasa bosan. Manusia itu, yah... manusia macam kalian itu terlalu manja, apa-apa minta dipenuhi, tapi tak pernah  merasa puas!"
Aku diam, pikiranku diam, semua diam.

Sudah, mari tinggalkan sejenak pikiranku itu, dia benar, tetapi aku tengah sebal, malas menanggapinya. 
Lalu datang sebersit perasaan menyapa, "Kau kenapa?"
"Aku capek berdiam, aku lelah berkeluh di pojokan, aku bosan dengan kenyamanan ini.... aku ingin terus berlari, terus menantang hidup, merasakan lagi ketidakpastian demi mencari kepastian. Aku tak ingin terus seperti ini, hanya berkutat dengan kehidupan dalam radius 15km, dengan semua orang yang aku kenal, dengan rumput dan pohon yang telah aku hapal. Aku ingin kembali merasakan degup jantung saat tak tau harus memilih jalan ke kanan atau ke kiri, penasaran dengan wajah-wajah asing siapa lagi yang akan aku temui, dan obrolan-obrolan tengah malam yang kaya hikmah." Aku meluber, menumpahkan semua uneg-uneg.
Perasaanku diam, tersenyum lebar, lalu bertanya pelan, "Kau sudah bersyukur untuk hari ini?"


Malang, 10 Mei 2012,
Pagi yang tak lagi dingin

Read More...

Rabu, 01 Mei 2013

ini hanya fiksi (6)

Leave a Comment
Kemana Ia? 


beberapa waktu ini tak menjumpainya.
Dia, yang biasa muncul hampir setiap hari, kadang pagi menemaniku melahap sarapan, kadang pula petang, bikin aku tersenyum riang.
Kemana ia?

beberapa waktu ini tak mendengar suaranya.
bikin aku rindu karena tak kunjung bertemu.
Dan aku pun bertanya-tanya, kemana ia?
Jikapun ia pergi, kenapa tanpa pamit?

Aku jadi tak sempat mengucapkan 'sampai jumpa kembali' padanya,
pada hujan di bulan April.

Read More...

Rabu, 27 Maret 2013

ini hanya fiksi (5)

Leave a Comment
Apa Kabar Hati?


*latar: sepanjang jalan sore itu*
*lakon: Hati dan Akal*

Ini adalah dialog fiksi antara hati dan akal. Tak perlu diambil hati, toh namanya juga fiksi.
Hati: ...................
Akal: kenapa kau? Sakit lagi?? 
Hati: tidak, siapa bilang? aku hanya sedang berpikir... 
Akal: hei, itu tugasku. tentang apa?
Hati: kenapa aku ini sering merumitkan segala sesuatu?
Akal: misalnya?
Hati: misalnya, kenapa mudah sekali aku berprasangka? menduga-duga yang belum pasti. Aku berandai-andai tentang kepastian, tetapi menyandarkannya kepada yang tak pasti.
Akal: tentang apa sebenarnya ini? hah, kau... kapan kau akan mulai menyadarinya? sudah aku bilang padamu sejak dulu, kalau mulai mencium hal-hal yang berbau manis, konfirmasi dulu denganku! Kau sih, tak pernah mendengar. Tak pernah kau dengar, hah? Perempuan itu lebih rentan kena diabetes, karena suka sekali mengkonsumsi yang manis-manis, termasuk gombalan dan janji palsu!
Hati: Apa deh...
Akal: Sudah, dengar... mulai sekarang, pasang pagar tinggi-tinggi. bersikap skeptis sedikit juga tak masalah... itu demi kebaikanmu sendiri juga nanti. Mari patahkan mitos bahwa perempuan hanya menggunakan 20% akalnya, karena terlalu tergantung pada perasaannya. Bersikaplah bijak dan cerdas, jangan bersemu jika digombali.
Hati: tapi kalo ada yang ngajak nikah?
Akal: apalagi itu, harus kita rundingkan dulu bersama... 
Read More...

Senin, 18 Maret 2013

ini hanya fiksi (4)

Leave a Comment
Perempuan


Mereka yang dengan suka hati menarik benang-benang merah,
lalu diam-diam menyimpulkannya sendiri, hanya pada asumsi.
Mereka yang bahkan bisa (pura-pura) bahagia dengan menipu diri sendiri,
mengatakan suka, agar menyenangkan hati.

Perempuan dan asumsi sepertinya memang berjodoh,
seakan roti dan margarin blueband seperti iklan di tivi.
Dan yang paling berbahaya tentu saja asumsi bahwa si dia suka,
lalu secepat mungkin terus menimbun harapan, lupa bahwa itu hanya asumsi
tak sadar ada pepatah lama "killed by assumption"

ah, perempuan... dalam diamnya pun ada harapan.
berharap benar dan kemudian membaca tanda-tanda semesta.
Bahwa bintang bilang 'iya' dan angin pun setuju.

Jika melihat perempuan yang lebih cantik, mereka merasa tak aman,
Pergi ke salon kecantikan untuk memalsukan diri
lupa bahwa dia cantik dengan caranya hidup
terlupa bahwa cantik itu tergantung mata yang memandang,
melupakan bahwa cantik itu memancar dari segumpal daging yang disebut hati.

Perempuan dan perempuan ini peka sekali akan perasaan,
tapi mungkin mengacuhkan bahwa ada juga yang namanya logika.

Selamat berbahagia, perempuan!
Read More...

Jumat, 01 Maret 2013

ini hanya fiksi (3)

Leave a Comment
Boleh?


Aku tak tahu harus mulai dari mana. 
Semua terlihat begitu berbeda jika aku melihat dengan kacamatamu. 
Selama ini aku cukup puas melihat dari jauh, cukup senang disapa pagi, cukup aman hanya dengan melihat punggung. 
Ketika kau berjalan, aku mengikuti. 
Kau berhenti, aku terdiam. 
Tapi begitu kau berbalik, aku linglung. 
Bilang bahwa ini boleh, meski hati bilang tidak. 
Tidak seperti ini seharusnya. 

Di jalan ini aku mengenalmu, cukup. 
Seharusnya memang tidak ada. 
Tapi kau bilang ini boleh, aku turut bilang boleh. 
Suram. 
Jika kau tanya mengapa, akan ku jawab mengapa. 
Ini berbeda. 
Dilihat dari mana pun. 
Ada rasa yang menyusup, tapi aku tahu ini belum saatnya. 
Ada hal-hal yang harus kita bicarakan kembali. 
Bolehkah? 
Aku ingin hanya satu. 
Sempurna sampai di akhir. 
Karena itu aku ingin memulainya dengan yang baik. 
Kau. Tapi tidak sekarang. 
Selesaikanlah apa yang telah kau mulai tanpa aku. Jika sudah, kau tahu harus kemana mencari.



Read More...

Jumat, 22 Februari 2013

ini hanya fiksi (2)

Leave a Comment
Menunggu


Kulirik jam digital di layar telepon genggamku, jam 4 lebih 7 menit. Aduh, sudah terlambat sejak janjiku untuk menemuinya. Padahal aku yang mengajukan jamnya. Dia yang memilih tempat. Aku tahu, waktu itu dia hanya pura-pura berpikir, berpura-pura mencari tempat, padahal dia selalu memilih tempat itu, selalu, selama setahun ini. Kupercepat langkahku menuju selasar masjid kampus. Setengah berlari sambil dalam hati berdoa supaya dia masih di tempat kerjanya, sedang ada rapat mendadak atau bosnya tengah girang lalu membagi-bagikan donat dan memaksa makan bersama seluruh karyawannya. Aku tidak suka ditunggu. Membuatku terlihat bodoh.

Tapi doaku memantul, dari ujung selasar sudah terlihat kemeja hitam kotak-kotaknya. Aku manyun. Dia tengah membaca entah apa dari smartphone-nya.
"Assalamualaykum. Mas, maaf... sudah lama?"
Dia menoleh, tersenyum lebar, "Baru juga datang. Sudah shalat?"
Aku menggeleng cepat. "Belum, tadi abis nempel pamflet langsung kesini. Sebentar ya, aku shalat dulu. Titip tas ya, mas."
Dia mengangguk. Aku berlalu.

Selesai shalat aku beranjak kembali ke selasar, tapi dia sudah tak ada disana. Hanya ada tasku tergeletak sendiri di lantai. Aku masuk kembali ke dalam masjid, melongok-longok ke arah jemaah ikhwan, tak ada.

20 menit aku menunggu sendiri di selasar masjid. Ada tanda pesan masuk di layar handphone-ku. 
"Maaf, aku mendadak harus pergi. Tapi aku serius, ada hal penting yang ingin kusampaikan. Bisakah datang lagi ditempat yang sama besok?"
Aku tersenyum.



Malang, 22 Februari 2013

#fiksi #malang #aku #masjid

Read More...

Rabu, 20 Februari 2013

ini hanya fiksi (1)

Leave a Comment
Kado


Aku ingat betul hari itu. Waktu itu sebuah hari di bulan Juni. Sore itu sedang hujan, aku duduk memandang ke luar jendela kamar, menghitung tetes-tetes hujan yang menetes di kaca. Lalu segalanya menjadi terang, kelewat terang, silau tepatnya. Ah, sebuah kilat yang besar. Aku mengalihkan pandangan untuk menyelamatkan mata, lalu mataku tertumbuk pada sebuah bungkusan di atas meja. Sudah lama berada di sana. Seminggu lalu kalau tak salah ingat. 

Dibungkus kertas coklat polos, tapi tak sesiapapun yang tahu, kecuali aku dan Tuhan-ku bahwa dibalik kertas coklat itu masih ada kertas kado berwarna krem, dengan motif bunga-bunga. Iya, itu adalah sebuah kado berisi buku yang tempo hari aku beli saat tengah iseng menyelinap di toko buku besar. Tahu-tahu aku sudah di berada di depan kasir, membayar harga 2 buku tersebut. Dua? Aku mungkin sudah gila. Terkena virus orang-orang itu, mungkin. Menganggap benda-benda yang couple itu romantis. Tapi toh, akhirnya aku bungkus juga satu dari buku itu. Hendak dikirim ke entah siapa yang mengganggu pikiran yang kebetulan tengah bersedih karena 10 hari sebelumnya jatah umurnya berkurang. Aku ingin menghiburnya, menelponnya dan berbicara lama-lama dengannya mungkin. Tapi tidak kulakukan karena aku sadar, aku perempuan yang masih memegang agama.

Keesokan harinya setelah sore hujan itu, aku pergi mengirimkan kado itu tanpa sebaris pun pesan melalui jasa pengiriman barang milik pemerintah. Biar saja sedikit lebih lama sampai disana. Jadi aku masih punya waktu untuk mengarang alasan seandainya dia nanti bertanya mengapa aku mengirimkan kado buku itu. 

Dan tahun ini, saat bulan-bulan mulai bergerak ke arah sana, aku memutuskan mungkin tidak mengirim apa-apa lewat jasa pengiriman barang milik pemerintah itu lagi.  Aku akan mengirim doa saja. Lebih aman kupikir, karena perantaranya langsung Tuhan Yang Maha Tahu.


Malang, 20 Februari 2013

#fiksi #malang #aku #jauh

Read More...