Senin, 21 April 2014

Sosial Media

Leave a Comment
Cukup lama tidak mampir. Selain karena memang tidak disempatkan, saya lumayan gentar dengan betapa kuat efeknya ranah sosial media belakangan ini. One post, just one post and a thousand involved.

Sosial media mungkin bisa jadi benua terbesar jika seluruh penggunanya digabungkan. Jauh lebih banyak dari penonton televisi maupun pendengar radio. Penduduknya luar biasa beragam, dari yang berkulit putih, kuning sampai yang hitam. Rentang usia dari yang baru masuk taman bermain kanak-kanak sampai yang sudah tak sanggup berdiri. Tersebar dari segala penjuru timur, barat, utara dan selatan bumi. Semuanya berdiri di bawah bendera akses internet dan menjadi candu bagi sebagian yang lain. Apalagi dengan kemudahan akses dari telepon pintar atau smartphone, dicari saat bangun tidur dan tetap digenggam sampai mau tidur kembali. Mungkin pula ada yang sudah murtad dari dunia nyata dan memilih tinggal menetap di dunia maya. Internet sudah menjadi salah bagian kebutuhan primer.

Indonesia termasuk Negara paling bersahabat dengan social media. Satu orang bisa mempunyai 10 jenis akun social media yang berbeda, mulai dari facebook, twitter, tumblr, instagram, plurk, path, G+, historee, dan masih banyak lagi. Semuanya terhubung hingga satu postingan yang sama dari orang yang sama bisa kita baca dari seluruh akun social media nya. Yang ditulis pun beragam, dari yang super sepele seperti bingung mau makan apa sampai yang maha penting seperti bencana internasional. Satu aturan yang pasti berlaku: tidak ada privasi atau wilayah pribadi dalam sosial media.

Apa yang kita posting, tulis, maupun unggah akan menjadi konsumsi publik, walaupun kita bukan selebritis. Yup…  kita tentu masih ingat dengan kasus oknum D yang dengan ringannya menulis dia merasa di risih dengan ibu-ibu hamil di commuter line. Satu postingan pribadi di path, dan sekarang sebagian masyarakat sebuah negara yang punya lebih dari 250 juta penduduk sedang membully-nya. Ada pula kicauan ga penting dari oknum F yang malah selalu jadi bahan tertawaan seantero jagad twitter. Dari kasus oknum D dan oknum F ini tentu kita bisa belajar etika bersosial media, jangan gegabah dalam berstatement di sosial media. You’re what you post.

Banyak pula contoh lain yang bisa kita lihat. Seorang yang sebelumnya dipuji-puji bisa tiba-tiba dicaci maki karena sebuah postingan di akun sosial medianya. Memang tidak adil, tapi kita semakin mudah menghakimi seseorang dari apa yang dia posting. Jika kebanyakan posting foto makanan, berarti dia suka makan. Jika sering posting foto selfie berarti dia narsis. Jika banyak puisi-puisi berarti dia romantis. Selanjutnya semakin mudah, dia orang yang sering galau, dia omdo doang, dia bijak banget, tukang ngeluh, tukang pamer, dan seterusnya. Kita sering lupa bahwa social media sering menipu. Kepura-puraan. Apa yang diposting terkadang berbalik 1800 dengan keadaan sebenarnya. Yang paling keliatan ceria bisa jadi yang paling muram, yang kelihatan paling shalih bisa jadi malah yang paling brengsek.  

Adanya, semakin banyak orang-orang kesepian di sekitar kita. Menyendiri di tengah keramaian, senyum-senyum sendiri menatap layar gadgetnya. Benarkah itu “sosial” media?


Selamat datang di dunia maya.


- Malang, 21 April 2014 -


Read More...

Selasa, 08 April 2014

Bersyukur Lalu Berbahagialah!

Leave a Comment
"Bila masalah hidupmu masih seputar permasalahan patah hati, banyak tugas, dibenci orang, susah mudik, makanan tidak enak, sakit perut, kehabisan uang bulanan, tidak bisa ganti HP terbaru, tidak bisa jalan-jalan keluar kota, dan sejenisnya. Maka bersyukurlah, karena masalahmu adalah masalah sejuta umat. Dan karena berjuta-juta yang mengalaminya, berhentilah mengeluh. Karena mengeluh sama sekali tidak akan mengurangi semua itu.

Bila masalah hidupmu masih seperti tadi, mari saya ajak berjalan-jalan menemui sesuatu yang mungkin kamu kira hanya ada dalam novel, dalam cerita, atau sinema elektronik. Kalau kamu belum menemui hal-hal semacam itu, bersyukurlah karena mungkin Tuhan memang sengaja melindungimu.

Percayalah, hidup diluar dirimu tidak pernah baik-baik saja. Jika kamu bertemu teman-temanmu nampak begitu ceria. Mereka hanya tidak ingin orang lain tahu mengenai masalah hidupnya. Disimpannya rapat, ditangisinya kala sendiri di malam hari kesepian. 

Kau harus tahu sejenak, bahwa hidup di luar dirimu tidak pernah baik-baik saja. Di luar sana, di luar dirimu, terjadi di orang lain. Mereka mengalami hidup yang berat. Kehilangan keluarganya sejak kecil, tidak tahu siapa orang tuanya. Orang tua yang bercerai, keluarga yang broken home. Rumah tanpa lantai keramik dan dinding semen, melainkan tanah dan anyaman bambu. Perempuan yang direnggut kehormatannya oleh laki-laki. Laki-laki yang melihat adik perempuannya meninggal. Anak muda yang bermimpi sekolah. Anak-anak yang kehilangan matanya menjadi buta. Semua itu terjadi dan tentu saja di luar dirimu, dan terjadi di orang lain.

Percayalah, bila masalah hidupmu masih seputar patah hati, dicuekin laki-laki, dibiarkan perempuan. Lantas kamu merasa menjadi manusia paling merana di dunia. Pecahkanlah seluruh kaca cermin di rumahmu karena cermin itu tidak menjadi berguna. 

Diluar sana, kehidupan manusia begitu kompleks. Dan sekali lagi, bila kamu merasa orang-orang yang kamu temui itu baik-baik saja. Mereka telah belajar bagaimana menyembunyikan kerusuhan hatinya, masalah hdiupnya, dan apapun itu. Mereka berusaha membahagiakan dirinya sendiri.

Lalu, diwaktu-waktu tertentu mereka menjadi tidak berdaya. Dan kamu tidak akan pernah tahu itu kapan, karena kamu mungkin tidak pernah bisa menyaksikannya. Sebab, mereka akan selalu menyembunyikan.
Bandung, 30 Maret 2014  (c)kurniawangunadi"

Tulisan mas Gun yang iya banget lah ini, meskipun saya ga pernah merasa sebagai orang paling sedih, muram, merana, durja, se jagad raya. Bahkan sebaliknya, saya merasa sungguh-sungguh beruntung, punya fisik yang sempurna, akal yang sehat, mental yang aware, keluarga superb, rumah yang nyaman, teman-teman yang baik, dan semuaaaaa yang telah Allah pinjamkan pada saya saat ini. Masalah yang ada sekarang tu ga ada apa-apanya ketimbang nikmat yang Dia beri. Pernah denger, kalo kita dikasih masalah itu lagi, itu lagi.. mungkin tandanya karena kita belum mampu melewatinya, kita belum lulus. Sehingga Allah masih ngasih lagi ujian yang sama, sebelum ngasih ujian baru yang levelnya lebih tinggi. 

Kemarin pula sempat melihat dua super inspiring video, satu saat pagi di sini , satunya lagi saat kebangun tengah malam di sini . Give, and you'll be happier. Check them out, you'll cry, I guarantee!

Asli ga pantes banget buat mengeluh. Ah, mari menampar wajah sendiri. 

Be tough, you're stronger.

(source: http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/81182925864/tulisan-kehidupan-di-luar-dirimu)

Read More...

Sabtu, 05 April 2014

ini hanya fiksi (14)

Leave a Comment
Cermin

"Susah ya, Ri, demen sama sobat sendiri tapi ga bisa ngaku. Banyakan takut ditolaknya.
Ga enak banget gue kalo liat doi lagi suntuk dan ga semangat kaya' sekarang. Aslinya pengen gue cubit pipinya atau gue sumbangin energi buat bikin bola semangat, tapi takut doi tau gue punya perhatian berlebih trus doi malah menjauh dan temenan kita ga asik lagi. Yah, dan pada akhirnya gue cuma bisa ngirimin doa-doa aja buat doi. 

Semakin gue pikirin semakin gue ga paham dengan friendzone. Apa sih salahnya suka sama temen sendiri? Menurut gue, malah asli tuh, saling tau gimana dia sebenernya, saling tau sifat jelek masing-masing, bahkan udah tau apa yang harus dilakukan buat nenangin dia kalo chaosnya kumat. Iya ga? Gue tau banget kita punya mimpi dan semangat yang sama, maksud gue, kenapa kita ga bareng aja dari sekarang sampai nanti?

Gatau kenapa gue rasa kans gue buat doi terima itu kecil, Ri. Dia ga pernah cerita soal laki-laki lain atau idaman doi kaya' apa, tapi setiap gue liat matanya, gue udah kaya' bisa liat masa depan, Ri (hahaa.. sok tau ya gue) dan itu sepertinya bukan gue yang ada di sana. 

Kata orang perempuan itu perasa banget.. mungkin ga ya doi udah ngerasain tapi pura-pura ga tau?

Ri, menurut lu could perfect be a problem? Lu tau sendiri doi gimana. Cantik, pinter, lumayan berada, latar belakang keluarganya bagus, walaupun agak jutek sih, pemahaman agamanya yang sebenarnya bikin gue kagum berat. Dan itu yang bikin gue betah berjam-jam diskusi sama dia, yang gue harepin bisa terjadi long lasting sampe kita jadi kakek nenek ntar, sampe lu udah masuk kuburan duluan, eh sori. Tapi gue merasa ga mampu mengimbangi itu, Ri. I'm very ordinary. 

Jawab gue, Ri. Could perfect be a problem?

Posisi gue serba salah ya, Ri? Gue maju aja ga nih? Emmm.. gue rasa gue emang harus maju, Ri. Laki-laki macam apa yang merelakan saja perempuan yang dicintainya pergi tanpa usaha? Gue akan maju dulu, Ri.. apapun yang terjadi nanti :)
Doain gue ya, Ri."

Read More...

Jumat, 04 April 2014

Warisan: Nama Baik

Leave a Comment
Obrolan saya dan beberapa teman Jogja saya akhir pekan lalu ditambah renungan semalaman suntuk akhirnya berbuahkan tulisan ini. Waktu itu kami banyak berbicara tentang banyak hal, tapi satu hal, saya tertarik sekali dengan fokus kebanggaan salah seorang teman lama, anggap saja namanya W.

Kami berasal dari TK, SMP, dan SMA yang sama, sehingga hampir dipastikan saya cukup baik mengenalnya. Saya juga mengenal baik keluarganya. Yang paling mengejutkan saya setelah cukup lama tidak mengetahui kabarnya adalah keadaannya hari-hari ini. Akrab sekali sekali dengan hedon, begitu kesimpulan akhir saya. Memang, keadaan keluarganya cukup menjanjikan, sangat berkecukupan malah. Kali terakhir yang saya dengar, ayahnya sudah membelikan dia mobil keluaran terbaru untuk dipakai pulang-pergi kampus dan jalan-jalan. Bangga bukan main. Tentu tulisan ini tak akan pernah lahir jika segalanya wajar-wajar saja, tapi kebanggaannya membuat teman saya yang bercerita pun kesal saat mendengarnya. Apalagi saat oknum W sudah membicarakan hak warisnya yang berlimpah.

Bukan, saya bukan iri. Saya hanya tidak paham, bagaimana bisa seorang laki-laki, sehat dan normal, pada usianya yang menginjak 23 tahun berbangga dengan apa-apa pemberian orang tuanya. Pada umur sebanyak ini tentunya telah terbit kesadaran setidaknya untuk mencari pendapatan sendiri dan tidak lagi merepotkan orang tua, kalau lah bisa malah menyenangkan orang tua dengan hasil keringat kita sendiri. 
Pun, saya paham bahwa orangtua tidak ingin melihat anaknya menderita karena kekurangan uang, apalagi jika tinggal sendiri di tanah rantau. Tapi dengan memanjakannya? tentu saja tidak benar. 

Saya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari memang masih disponsori oleh orangtua dan kakak saya, tapi saya bertekad tidak menggunakannya untuk bersenang-senang dan harus menghasilkan uang sendiri (karena mandiri secara ekonomi adalah salah satu muwashofats -10 ciri pribadi muslim-).

Keluarga saya memang tidak sekaya materi keluarga oknum W, tapi saya juga mempunyai kebanggaan tersendiri tentang apa nanti yang akan diwariskan oleh kedua orang tua saya, yaitu nama baik. Kehormatan semasa hidup tentang bagaimana orangtua saya dikenal oleh orang lain. Keduanya dikenal jujur dan gemar menolong orang lain, dan saya sungguh berharap sifat-sifat baik beliau menurun juga pada saya. Saya ingin sekali menjaga nama baik beliau sekarang dan nanti.

Anak adalah sebaik-baiknya aset orang tua dan saya ingin menjadi investasi yang sangat menguntungkan untuk kedua orang tua saya, baik di dunia maupun di akhirat.


Read More...

Rabu, 02 April 2014

ini hanya fiksi (13)

1 comment
Salah

Aku melihatnya tergopoh memakai sepatu di serambi mushalla, rambutnya masih basah dan lengan kemejanya masih tergulung. Matanya merah kurang tidur, semalam sepertinya ia tak tidur cukup. Ada gurat rasa bersalah dalam keringat di keningnya, yang cepat-cepat dihapus saat tau aku mendekati posisinya.

"Sudah mau pergi lagi?" basa-basi, aku menyapa.

"Iya, sudah ditunggu. Saya duluan ya."

Aku mengangguk kikuk dan cuma bisa menatap punggungnya yang berbalut kemeja khaki menjauh. Mungkin lebih baik jika tadi aku pura-pura tak melihatnya. Entahlah, sejujurnya aku benci situasi ini. Palsu. Aku tau dia juga begitu. Tak mungkin dia tak lelah harus selalu pura-pura bahagia setiap melihatku. Tapi tak ada yang mau mengutarakannya langsung di hadapan masing-masing. Kami sama-sama bersembunyi di balik benteng, lalu memakai topeng. 

Aku dulu merasa kuat sekali, bertahan karena aku yakin hati tetaplah hati, bisa berbolak-balik. Tapi kini sepertinya aku mulai kehabisan energi dan harapan.  Hati dan kepalanya lebih kuat dari yang kuduga. Cinta bukanlah cinta jika hanya dari satu sisi, jika hanya satu pihak yang berjuang, dan kini aku tahu kenapa ibu masih belum memberikan restu atas pernikahan kami yang tinggal 1 bulan. 

Apa dibatalkan saja? Aku diserang ragu.
Aku menggeleng, memperkuat segala perasaan bersalah yang datang menghakimi. Aku yang salah menariknya sejauh ini. Aku bodoh sekali mengira cinta hanyalah masalah waktu. Maaf, maafkan aku yang telah membawa fisikmu sejauh ini, tapi tidak hatimu. Rasamu sepertinya tertinggal beberapa langkah di belakang. Aku kali ini akan membiarkanmu kembali dan memungutnya disana. Kembalilah hanya jika kau sudah siap.


Read More...

Jumat, 28 Maret 2014

Mr. Sherlock Holmes

Leave a Comment
Lucky me, pertama kali kenal Sherlock Holmes dari bukunya yang "Penelusuran Benang Merah / A Study in Scarlet" saat kelas VI. Memang buku kasus pertamanya, dan dari situlah saya tahu awal perkenalannya dengan Dr. John Watson dan kemudian deduksi-deduksi awal (yang katanya) sederhana namun sangat mengesankan. Bisa membaca kepribadian dan apa saja yang baru dialami seseorang setelah sepersekian detik cuma dari sepatu atau topinya, misalnya. 
Dari buku itulah kemudian saya benar-benar jatuh cinta pada sosok detektif, meski sebelumnya saya sudah berlangganan komik Detective Conan yang baru kemudian saya tahu, nama Conan samaran dari Kudo itu diambil oleh Aoyama Gosho dari pengarang Sherlock Holmes ini, yaitu Sir Arthur Conan Doyle.

Pertemuan dengan 2 sosok detektif ini pernah membuat saya juga bercita-cita detektif. Tapi satu-satunya kasus yang berhasil saya pecahkan dan mendapat apresiasi dari orang-orang adalah kasus hilangnya permen karet seorang teman di tempat ngaji, dan saya menamainya Gummy Case. Sukses besar, dan diingat oleh teman-teman ngaji saya selama... 2 hari. 

Ok, lupakan.

Oh, God.. saya kagum banget sama Sherlock Holmes ini.. keakuratannya dalam menyimpulkan kasus dan sikapnya sehari-hari sungguh menawan. Saya juga suka suasana London kuno pada masa 1880an yang penuh martabat, kelihatan dari penuturan cara berpakaian dan suasana jalan. Dia tinggal bersama Dr. Watson di Baker Street 221B London, dan mempunyai mata-mata anak-anak jalanan Baker Street yang sering disebut Bakers Street Irregulars. Hanya sedikit kekurangannya mungkin, salah satunya dia adalah perokok berat dari tembakau paling berat juga. Dan yang paling parah, pada saat hari-harinya tak diwarnai kasus, dia menggunakan suntikan kokain agar otaknya tetap terjaga dan bekerja. Kontras sekali dengan Dr. Watson yang orang medis dan melek kesehatan. Holmes juga menyukai musik dan dia cukup mahir bermain biola. Olahraganya tinju, dan satu-satunya perempuan yang bisa menariknya pikirannya lepas dari kasus di dunia ini cuma Irene Adler

Namun, beberapa kejanggalan yang belum saya temui penjelasannya adalah, Holmes ini mengenal Irene Adler dari permintaan yang dibawa Raja Skandinavia (kasus Skandal dari Bohemia), dan diakhir kasus, Irene akhirnya menikah dengan pria lain dan kabur. Tapi di filmnya, Irene ini diceritakan sebagai perempuan lajang. Ada yang tau ceritanya ga??

Musuh paling besar dan jahat Holmes adalah Prof. James Moriarty, seorang ahli matematika dan juga napoleonnya kejahatan Eropa saat itu yang juga membunuh Irene Adler dengan racun (Sedih banget akhirnya Holmes ga bersama Adler.. dan hidup sendiri saat Dr. Watson sudah menikah). Nah, belum lama ini saya menonton film kedua Sherlock Holmes yang berjudul the Game of Shadows. Sama seperti film pertamanya, film ini masih mengangkat Robert Downey Jr sebagai Holmes dan Jude Law sebagai Dr. Watson. Sebenarnya dari nonton film pertamanya, Sherlock Holmes (2009) saya cukup kecewa karena dimainkan oleh Downey Jr. Alasannya sederhana sih, dari fisiknya ga cocok sama gambaran Doyle tentang Holmes, padahal Holmes seharusnya lebih jangkung daripada Dr. Watson, dan pula Downey terlalu ekspresif, Holmes dalam novel lebih dingin dan serius. Mungkin lebih apik dimainkan oleh Benedict Cumberbatch seperti dalam serial BBC, seenggaknya dia orang Inggris asli kan? 













Pada akhirnya, di buku Memoar Sherlock Holmes, bab Kasus Penutup, Sherlock Holmes diceritakan berkelahi dengan Prof Moriarty dan keduanya jatuh ke air terjun di Swiss. Dr. Watson menyatakan sahabatnya itu meninggal, tapi di film keduanya, Sherlock muncul lagi di kediaman Dr. Watson. 

Aaah..saya tak ingin buru-buru menarik kesimpulan. Seperti kata Holmes, "Never theorize before you have data. Invariably, you end up." Baik Holmes akhirnya meninggal di air terjun itu maupun masih hidup, saya sudah mengikhlaskannya #loh , maksudnya cukup disayangkan kalo cerita kasus Sherlock Holmes harus berakhir, tapi dia juga tak mungkin hidup selamanya kan? Bagi saya. dia tetap detektif paling cemerlang di seluruh dunia.

Read More...

Selasa, 25 Maret 2014

(apalah) arti sebuah nama

2 comments
Dulu, saat saya masih SD sekitar kelas 2-3 gitulah, saya termasuk anak yang sering sekali sakit. Sebagian besar disebabkan karena amandel yang meradang setelah dilewati es. Yah, sedari dulu banyak sekali jajanan yang kata ibu harus amandel saya hindari, tapi dasar bocah, suka makan ice cream dan manisan diam-diam, apalagi kalo dikasih tetangga sebelah rumah. Begitu seringnya sakit hingga saya punya 2 mbah-mbah pijat dan 1 dokter langganan. 

Tukang pijat pertama saya adalah seorang mbah-mbah dari Manado yang punya panti asuhan, kami semua memanggilnya oma Manado. Seingat saya, beliau sudah meninggal saat awal kuliah saya dulu. Tukang pijat kedua adalah mbah-mbah jawa tulen, saya tidak begitu ingat beliau, tapi yang pasti saya ingat adalah mbah-mbah ini yang mengusulkan kepada ibu agar saya berganti nama. Sedangkan, dokter langganan saya itu adalah Pak Shaleh, seorang pensiunan dokter rumah sakit Angkatan Laut yang kemudian buka praktek sendiri di rumahnya. Setiap saya kesana, pasti dikasih obat-obatan yang diracik dan digerus halus -puyer- yang pahit sekali, tapi manjur. 

Nah, kembali ke tukang pijat kedua saya. Tukang pijat yang saya lupa namanya itu memang pernah mengusulkan kepada ibu agar nama saya diganti saja. Menurut beliau, mungkin saya sering sakit karena keberatan nama. Saya, yang saat itu masih kelas 2 SD, tentu saja tidak paham apa maksudnya 'keberatan nama', tapi saya cukup girang, bahkan saat itu saya sudah memilih nama yang akan saya pakai. Resti.
Yap, Resti adalah nama pertama yang terlintas di kepala bocah kelas 2 SD ini saat mendengar usulan mbah-mbah itu. Tidak ada alasan khusus tentang nama itu. Hanya saja, waktu saya TK, saya mempunyai teman baik yang bernama Resti, yang kemudian pindah ke Bojonegoro mengikuti ayahnya.

Tapi rupanya setelah ibu perbincangkan masalah ganti nama itu dengan bapak, urung dilakukan. Bapak merasa nama saya, Nursih, itu bagus. Sehingga akhirnya dari keputusan tentang nama saya itu adalah nama saya tetap, Nursih Dwi Hastuti, hanya saja nama panggilan saya yang berubah bukan lagi Nursih, tapi Hastuti. 
(dadaaah Resti, geli rasanya sekarang membayangkan ada yang memanggil 'Resti' dan saya menoleh)
Hastuti menjadi semacam nama kecil, karena yang biasa memanggil saya Hastuti selain keluarga saya adalah teman-teman semasa SD atau yang sekomplek dengan tempat tinggal saya kala itu. Hingga kini masih ada orang-orang nonfamily yang memanggil saya Hastuti, tetapi semakin sedikit. Karena saat saya SMP seorang teman memberikan nama Uchi yang kemudian lebih dikenal teman-teman seangkatan daripada Nursih --"
Nama ini bertahan cukup lama dan cukup pula merepotkan sampai saya lulus SMA.

Saat saya mulai kuliah di tempat yang tak seorang pun mengenal saya, saya kembali memperkenalkan diri saya sebagai Nursih. Saya lega, semua memanggil saya dengan Nursih. Apalagi saat tugas salah satu matakuliah yang mencari arti dari nama masing-masing dan harapan orangtua dibaliknya. Saya senang, karena arti nama saya bagus dan juga ada harapan orangtua saya di dalamnya. Nama saya juga dekat dengan nama kakak saya, dan saya bangga sekali dengan nama saya itu. 
Hi, I'm Nursih, and you?

Read More...

Jumat, 21 Maret 2014

Tinggal Dimana Nanti?

Leave a Comment
Belum saya jalani, tapi seringkali kepikiran: akan tinggal dimana saya setelah lulus nanti?
Orangtua pun telah sekali-dua kali menanyakan pertanyaan yang sama.

Saya belum menjawab, karena saya memang belum memutuskan.
Tapi saya berharap, semoga tidak di kota yang terlampau besar dan ramai. Malang cukup nyaman ditinggali, menyimpan sejuta kenangan yang cukup manis dan getir untuk tetap dikenang dalam lemari memori, tapi kadang harus menerus memacu hari hingga terasa lewat begitu saja. Melelahkan. 
Saya pendatang, tapi saya punya banyak teman dan kenalan yang baik di sini, tapi tentu saja tidak mungkin selamanya saya akan mengandalkan mereka. Malang telah cukup padat hari-hari ini, tidak seperti Malang beberapa tahun yang lalu yang masih sejuk dan banyak lahan terbuka hijau sepanjang jalan, bukan jejeran ruko-ruko yang bikin sumpek.

Teringat obrolan dengan seorang Manajer Edukasi Telkom saat menemani beliau bertemu para kepala sekolah di Batu, "Tinggal di Malang ga cukup cuma pintar, harus struggle dan kadang harus tega. Kalo cuma pintar, banyak orang yang pintar juga."

Benar, Malang sudah cukup keberadaan orang-orang yang pintar dan kreatif, mungkin saya harus ke kota lain, agar merata lah kemakmuran di negara kita ini. Di kota ini akan sulit sepertinya mempunyai rumah tinggal yang sederhana tapi berhalaman rumput luas untuk tempat anak-anak saya bermain. 

rumah Carl & Elli (dari sini)

Saya tak ingin selamanya dikejar-kejar waktu dan buru-buru memacu kendaraan tiap pagi. Terjebak dalam lautan kendaraan dan dipaksa mendengar puluhan klakson ditekan dalam semenit. Menuakan di jalan. Saya tidak suka.

Tinggal di luar negeri seperti kota kecil di selatan Jepang atau utara Inggris cukup menggoda, saat telah bersuami tentu saja.. tapi mungkin tidak untuk dalam jangka waktu yang sangat sangat lama. 

Mungkin saya akan memilih sub urban saja, tidak terlalu ramai dan tidak pula terlalu sepi. Lalu mungkin saya bisa bekerja di rumah, atau bisa pula menjadi guru di sekolah yang benar-benar membutuhkan saya, atau menjadi guru TPA di sore hari juga, mungkin.

Lalu,  kau akan tinggal dimana?


Read More...

Selasa, 18 Maret 2014

m.e.n.t.o.r.

2 comments

nahnu du'at qobla kulli syai'

(kita adalah dai -penyeru- sebelum menjadi apapun)

Menjadi seorang penyeru itu wajib, bagi siapapun. Tak pandang bulu pekerjaan dan konsentrasi keilmuannya. Setiap orang yang mencari ilmu dan mempunyai ilmu wajib menyebarluaskan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Tapi kali ini saya ingin mengerucutkan sudut pandang seorang dai ini menjadi mentor sahaja lah. 

Saya adalah seorang mentor di sebuah SMK Negeri sekaligus koordinator mentor di sebuah lembaga amal zakat. Menjadi seorang mentor dalam bayangan orang lain mungkin harus serba wah, harus imannya tebel dan terus terjaga, terus menjaga hati, dan bersih dari dosa #aduhmak saya belum seperti ituuuu...
Kapan merasa pantas menasihatinya kalo harus nunggu sempurna imannya? Sedang iman itu  terus-terusan yaziidu wa yanquus, naik dan turun. Menasehati orang lain sekaligus menasehati diri sendiri, mengajak orang lain berbuat baik membuat kita sungkan sendiri jika kita malah belum berbuat baik. Bukannya begitu?

Menjaga hati, itu kebanyakan alasan teman-teman saya untuk agak acuh terhadap perkembangan trend dan teknologi. Ga pengen tau dan ikut-ikutan. Wah.. hal ini mungkin yang kemudian membuat saya dipandang berbeda dan menimbulkan sedikit kericuhan di grup diskusi para mentor beberapa saat yang lalu. Gaul banget sih, itu kata mereka. Cuma gara-gara saya tau tagline "real men use three pedals" (apaan.. real men buy his car with his own money lah), suka nonton sepakbola dan dengerin Coldplay. 
Haduuuuuh,  menurut saya pribadi sih mentor itu justru harus gaul, harus update terus, harus paham apa yang menjadi trend di kalangan remaja sekarang. Sorry to say, but jangan sampai mentor itu dibilang kuno, ketinggalan info, dan malah ditinggalin adik-adik karena ga terbuka.
Jangan sampai saat adik-adik mentee kita nanya apa itu cabe-cabean, kita malah bengong dan ngelantur, "cabe? cabe yang bikin sambel?"

Hellooooow... how can we protect our sisters and brothers from something we didn't know?

Dan lagi ya, hidup kita itu udah akur berdampingan dengan yang namanya teknologi. Ada facebook, ada twitter, ada tumblr, etc yang dari dalamnya itu kita bisa dapat info-info baru cuman bermodalkan akses internet dan jempol buat scrolling. Gimana kita bisa ga tau? Apa emang kita yang ga mau tau?


Nah, kalo soal menjaga hati itu sih pinter-pinternya kita aja mawas diri. Cukup tau, ga usah di selami sampai dalam. Udah pada tau mana yang bener dan mana yang harus dibenerin juga. Itu aja sih.

Prinsipnya: Membaur tapi tak melebur, gaul tapi tetap menjaga hijab.


Read More...

Rabu, 12 Maret 2014

game online kills you

Leave a Comment
Kemarin sore akhirnya secara nyata saya melihat dan mendengar langsung efek (teramat) buruk dari keranjingan games online. Serius, ini seram sekali. 

Ada seorang anak remaja tanggung laki-laki yang saya kenal. Umurnya sekitar 17 tahun beberapa bulan yang lalu. Beberapa kali melihat interaksinya dengan ibu dan adik-adik perempuannya, saya berkesimpulan bahwa ia adalah anak yang berkecenderungan jadi family man, penyayang keluarga ringkasnya. Saya mengenalnya sebagai anak yang sopan sekali, dia juga sedikit pemalu dalam berhadapan dengan lawan jenis, termasuk dengan saya. 

Salah satu dari sedikit kebiasaannya yang saya ketahui adalah dia tidak pernah absen untuk main games online di kamarnya sejak sepulang sekolah. Sejak sore hingga malam. Tak jarang dia juga ketahuan melewatkan shalat magrib karena keasikan ngegames. Apalagi setelah dirumahnya itu dipasangi wifi, semakin asiklah dia bermain tanpa kontrol. Hingga kemarin sore, saya kaget sekali mendengarnya, dia memaki dengan kata-kata paling kasar di Tanah Jawa dari dalam kamarnya cuma gara-gara kecepatan internetnya berkurang. Dia juga membentak adik-adiknya, dengan suara yang sangat kasar dan keras. Tidak cuma sekali, tetapi berkali-kali dalam 10 menit.

Beberapa saat, saya cuma bisa tercengang, kaget. Pupuslah sudah bayangan saya tentang anak itu yang sopan dan lemah-lembut terhadap perempuan. Dan masih dalam kekagetan saya itu, saya semakin kaget dengan tidak adanya respon dari orang tuanya. Ditegur atau diingatkan? Tidak ada. Didiamkan saja. 

Wuuut? Lagi ada dimana saya ini?? Keluarga? 

Ga habis pikir saya saat masih disana. 
It's happened. Pengaruh dari game online saya memastikan dugaan diri sendiri. Saya emang ga tau banyak tentang game online, tapi sedikit banyak saya tau dampaknya. Dan melihat hal itu harusnya saya tidak kaget. Tapi, tetap saja saya kaget. Betapa cepat perubahan dan efeknya terhadap mental seseorang gitu ya. Belum lagi efek terhadap paparan pornografi yang banyak banget terkandung dalam games online tersebut. Dan tanpa dibarengi kontrol dan pengawasan oleh orangtua yang seharusnya berperan sebagai orang bijaksana terdekat.
Gila lah ini...

(untuk info lebih lengkap tentang perusakan otak dari efek pornografi, silahkan baca disini)

Sanggup ga ya saya ntar ngebesarin anak ditengah gempuran perusakan mental dan akhlak kaya' gini? 


Read More...

Selasa, 11 Maret 2014

ujian

1 comment
Kepikiran, iseng aja buat catatan ini. 
Bisa dibaca suatu hari nanti, sebagai penanda masa-masa ini pernah ada dan terjadi. Mungkin diketik sambil mewek, tapi kelak akan dibaca sambil tersenyum.

Bagaimana rasanya? 
Lega sekali ya?

Dua pertanyaan yang ingin sekali ditanyakan pada mereka tapi terlalu takut membayangkan jawabannya. 
Dan aku, yang memutuskan tidak akan bertanya malah selalu ditanyai, -kapan nyusul?-

Ah, kalau saja pertanyaan kalian membantu, sayangnya tidak.
Yang ada ini hanya akan menambah panjang dalam daftar pertanyaan.
Kali ini aku bicara pada diriku sendiri, Gezz.. kenapa dengan 'hal ini'? Tidak adakah sesuatu yang lebih menantang lainnya yang bisa menawan rasa percaya diriku? 

Dan pada suatu waktu yang lalu, aku bicara dengan seorang sarjana bimbingan dan konseling, dan it's like a investigation session, karena aku yang terus ditanyai dan bukan aku yang bertanya.
Pada akhirnya aku tetap menolak bercerita banyak, seperlunya saja aku kira cukup. 
Lalu mengalir lah sebuah pernyataan yang menurutku cukup menghibur hati: "iya, ya.. setiap orang kan ada ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan orangtuanya seperti ukh X yang masih dilarang berjilbab oleh ayahnya itu, ada yang diuji dengan lingkungan kerjanya hingga akhirnya harus keluar, ada pula yang diuji dengan uangnya.
Mungkin emang ujian Nursih sekarang itu disini, dengan hal ini. Hadapi dengan sabar dan syukur aja, insha Allah kamu bisa melaluinya."

aaarggh... aku benar-benar berdoa, semoga aku akhirnya bisa mengingat masa-masa ini nantinya, setelah semuanya selesai dan aku kembali dihadapkan dengan ujian yang lain, yang baru, yang akan menaikkan level di hadapanNya.



Read More...

Selasa, 04 Maret 2014

menghargai waktu

Leave a Comment
Bagaimana mungkin masih ada orang-orang yang tega membuat orang lain menunggu?
Saya ga paham. Apalagi jika disebabkan hal-hal maha remeh dan ga penting, "sibuk" nonton Dahsy*t misalnya, sehingga baru datang jam 9.09 padahal janji bertemu jam 08.00.

Sayangnya kesadaran orang-orang tentang betapa berharganya waktu dirinya sendiri dan milik orang lain masih minim sekali. Padahal penting banget buat menghargai waktu. Karena menghargai orang berarti menghargai waktunya. Kalo kita sudah menyanggupi dan berkesepakatan untuk bertemu pada jam sekian sampai sekian, berarti kita sudah meminta dan mengambil sebagian hidupnya. Dan itu bakalan ga bisa diganti dengan apapun jika kita datang terlambat dan membuatnya membuang (bahkan hanya) 5 menit kehidupannya. Diganti dengan waktu dari kehidupan kita juga ga bisa. 

Di zaman serba gampang dan instan ini pun kita dengan mudahnya mengandalkan bilang "ga bisa, sibuk" atau "ga sempat", padahal fasilitas banjir dimana-mana. Ada ratusan alat transportasi lewat di jalan per menit, kita juga punya jam sebagai penanda waktu yang bisa dibawa kemana-mana. Kenapa masih datang terlambat?
Mungkin benar, kita, orang Indonesia terlalu toleran terhadap keterlambatan. Kalo ada yang udah telat 15 menit, kemungkinan besar bakal ada sosok manusia 'berjiwa besar' yang bakal bilang, "kita tunggu lagi 15 menit yah.. baru kita mulai/berangkat"
Ini yang membuat saya yakin sekali orang-orang yang terlambat merasa dirinya penting dan ga masalah kalo terlambat. Kalo saya yang jadi pengambil keputusan, dan ada yang telat tanpa alasan penting dan syar'i, saya tinggal aja. Bodo amat. Sekali-kali ngasi efek jera itu perlu lho. Nyebelin banget asli nemuin orang yang telat, alasannya ga jelas, trus minta maap sambil cengar-cengir dan tanpa perasaan bersalah.

Yuk hargai waktu, waktu kita dengan diri sendiri, waktu bersosialisasi dengan orang lain, apalagi waktu kita beribadah kepada Allah. Islam juga ngajarin supaya kita disiplin kan? :)


Read More...

Jumat, 28 Februari 2014

Empat

Leave a Comment
Dari semua yang telah terjadi dan akhirnya sampai pula di inderaku, aku tau usahaku belum maksimal. Sekilas ada cerlang kecewa mungkin, tapi segera ku buang jauh-jauh. Aku tak ingin mendikte Tuhan, mempertanyakan kenapa hasilnya seperti ini, bukan kah seharusnya tidak begini? Seakan Tuhan tidak tau perjuanganku dalam menggapainya, seakan Tuhan tidak pernah mendengar doa-doaku. Tidak, aku tidak perlu mendikte Tuhan. Tuhan pasti lebih tau. 

Dan aku percaya, ini bukan akhir, ini bukan hasil. Aku masih berada dalam proses... 




Read More...

Jumat, 21 Februari 2014

fan+s

2 comments
Hih, NURSIHers... pernah dengar? Sounds like my name with adding ers in the end ya.. Hahaha... iya sih ini emang ada hubungannya dengan saya. Penjelasannya secara singkat, Nursihers ini adalah sebutan buat temen-temen yang (ngakunya) ngefans sama si Nursih ini. Enggak.. kamu ga salah baca. Edhun emang, saya juga baru tau istilah ini dari salah satu partner di lembaga tempat saya bernaung. Katanya, ada beberapa rekan -yah.. walaupun masih bisa dihitung dengan menggunakan beberapa jari tangan- yang katanya mendirikan secara aklamasi komunitas super ga jelas ini.

Yampuuuun.. apa ya ini? pertama kali denger sampai detik saya ngetik postingan ini masih ga bisa nyambung pikiran saya gimana akhwat-akhwat cerdas nan shalihah (thank's God setau saya mereka perempuan semua) ini bisa-bisanya ngefans sama saya. Sejauh ini saya masih berpikir mereka sedang khilaf. Itu aja. Atau kemungkinan kedua, Allah yang Maha Baik telah begitu rapat dan rapi menutup semua aib-aib saya. 
Subhanallah.. padahal, kalo saja setiap dosa dan aib yang pernah saya lakukan bisa mengeluarkan bau, pasti tak ada yang mau berdekatan sama saya.

(gambar dari sini)


Yaa... sudah barang tentu saya merasa ga pantas banget buat di-fans-kagumi-adore-amaze atau apapun bahasanya. Meeen.. saya cuma manusia biasa, banyak banget dosanya, shalihah masih belum, akademik juga biasa aja..  
Secara sikap pun masih sering banget annoyingnya muncul, apalagi kalo pas lagi mode hemat energi, hehehe :P

Btw, saya juga punya seseorang yang saya kagumi. Bukan artis lho. Udah 15 tahun sampai hari ini... hehehe, kalo hitunganmu bener, memang sudah sejak jaman saya ingusan di bangku SD. 
Dari mengagumi beliau ini lah beberapa persen kehidupan saya terbentuk dan juga saya terpacu buat menjadi sosok yang lebih baik dalam beberapa pencapaian hidup. 

Pesan moral tulisan ini: udaaaaah... bubarin deh itu Nursihers!


Read More...

Jumat, 07 Februari 2014

Semesta Berkonspirasi

2 comments
Tahukah kalian jika langit diam-diam suka membicarakan kita?
Tentu setiap saat dilihatnya kita kecil mungil jauh di bawah.. lalu dia membaca mimpi-mimpi dalam hati kita dan mengumumkannya pada seantero semesta. 

Dan kurasa, kali ini langit sedang heboh membicarakan sebaris mimpiku yang aku tulis di dream book-ku, mimpi dengan nomor urut ke-56 tepatnya: "Mengunjungi Jepang, Singapore, dan Thailand pada tahun 2014."

Ingat baik-baik nama negara pertama dalam barisan itu. Aku lupa tepatnya sejak kapan, tapi demi Allah... sungguh, aku ingin sekali pergi kesana. Entah rencana apa yang Allah tulis untukku dan tengah dimainkan semesta kali ini.. tapi tiba-tiba aku tergerak untuk membuat paspor dan kemudian sampai di hari ke-7 bulan ke-2 tahun ke-2014 masehi ini aku sudah mendengar kata Jepang dibawa-bawa lekat oleh 5 orang yang ku kenal dan lalu berencana untuk pergi kesana. 

Mereka adalah:
1. Dhiba Umarghanies, salah seorang komikus muslimah favoritku.. pergi ke Jepang dalam rangka pelatihan.
2. Kang Pras, ke Jepang akhir tahun 2013 kemarin untuk pelatihan bencana yang diikuti atas nama KORSA ITB.
3. Dita Oktaria, satu-satunya teman seperempuanku di KOLAM, masih berahasia dalam rangka apa.. tapi aku curiga semacam kuliah dan sejenisnya.
4. Seorang sahabat baik yang tidak bisa aku beritahu namanya, karena dia minta aku berjanji untuk tidak memberi tahu siapapun. #beingtrusted :)
5. baru saja tau ½ jam yang lalu, teh Sari, idola nyaris sepanjang hidupku ini juga akan ke Jepang akhir Maret nanti untuk study banding mitigasi bencana atas nama KORSA ITB juga (makanya dulu aku pengen daftar jadi relawan KORSA juga)

Dan seketika otakku bergemuruh, penuh dengan suara-suara dalam 1 kata, Jepang.
Aku senang sekali, tapi aku juga iri #duh

Aku harus kesana, dan aku akan kesana.
Aku yakin Allah sudah menyiapkan jalannya untukku.. tinggal aku sendiri yang mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuanku untuk menapakinya.
Atas izin Allah, semesta berkonspirasi untuk membantuku mewujudkannya. 

(gambar dari Google)

Jepang, 2014, tunggu aku!



Read More...

Selasa, 28 Januari 2014

how to make your own passport

Leave a Comment
Kali ini saya mau bagi-bagi pengalaman setelah mengurus sendiri pembuatan paspor saya pekan lalu. Iya, saya udah punya paspor!!! hehehee... belum tau akan pergi kapan dalam waktu dekat ini.. tapi bagi saya, paspor yang sudah jadi ini adalah salah satu pintu yang terbuka untuk pergi keluar sana. One step closer to go abroad :)

Nah, kalo kalian juga berencana untuk ngurus sendiri paspor, ga usah resah dan gelisah khawatir, bikinnya ga repot-repot banget kok, asal semua dokumen yang diperlukan sudah lengkap dan kalian punya waktu buat nongkrong-nongkrong cantik di kantor imigrasi. Ga perlu lah pake calo-calo gitu..
Yang pasti bakal dibutuhin buat bikin paspor itu cuma 4:
- KTP yang masih berlaku,
- Kartu Keluarga,
- Akta Lahir/Ijazah pendidikan terakhir/Surat Nikah,
- sama duit 260rebu rupiah.

Mungkin kamu bisa ngintip dulu prosedurnya di sini.
Sebelumnya sih saya juga udah nyoba buat daftar online dan mengupload semua copy dokumen ke website imigrasi itu.. tapi ga tau yah... emang webnya udah ga pernah di maintenance atau kantor imigrasi yang udah naik kelas (Kanim di Malang yang terdaftar di webnya itu klas II, sedang Kanim aslinya itu ternyata klas I), jadi ya ujung-ujungnya saya tetep harus datang ngumpulin berkas di kanim langsung.

Pertama, datang ke kanim di daerah kalian dengan membawa KTP, KK, dan akte lahir/ijazah/surat nikah dan fotocopyan nya, materai 6000 dan pulpen hitam. Semua copyan dalam ukuran A4, termasuk KTP. FYI aja ya.. kanim itu selalu rame banget. Tiap hari itu adaaaa aja ratusan orang yang ngurus paspor baru ataupun memperbaharui, entah itu mahasiswa exchange, TKI, calon jamaah haji pas musim, atau rombongan umroh, jadi lebih baik datang pagi-pagi bener kalo ga mau ngantri terlalu lama. Oiya, pastikan semua data termasuk nama kalian yang tertera di KTP, KK dan akte itu semua sama yah.. kalo beda spasi pun ga bisa soalnya.

Nah, begitu sampai di kanim bagian pembuatan paspor, kalian akan mendapat map hijau yang berisi formulir yang harus diisi. Setelah mengisi semua formulir dan menempelkan materai, selipkan copyan dokumen ke map itu dan kembalikan kepada petugas. Nanti akan diberi nomor antrian pemeriksaan dokumen dengan kode "P".

lalu, menunggulaaaah~~

Begitu dipanggil nomor antrian di loket, ada petugas yang akan memeriksa dokumen-dokumen copy dan asli sambil agak-agak kepo nanya-nanya kalian mau ngapain ke luar negeri. Kalo udah, kalian akan diberi kertas untuk pembayaran ke Bank BNI dan diminta kembali ke kanim lusanya untuk foto, cap sidik jari dan wawancara.

Setelah bayar biaya pembuatan paspor, datang lagi ke kanim pada hari yang ditentukan. Ambil nomor antrian dengan kode "K" untuk proses acc pembayaran. Setelah bukti pembayaran kita di acc, kita ngantri lagi buat foto, cap sidik jari dan wawancara. Kode antriannya "F".
Sabar yah.. emang di kanim itu nguji banget kesabaran kita buat ngantri. Kreatip-kreatip kita aja biar nunggu lama ga bikin bosen. Bisa sambil baca buku/tilawah, nulis, dengerin lagu, sarapan kalo belum sempat sarapan paginya, atau ngobrol sama orang yang ngantri juga disebelah.
Boleh nih sambil ngantri sambil benerin penampilan kalian. Males banget kan ya kalo ada foto yang ga kalian banget nempel di paspor selama 5 tahun?

Selanjutnya masuk ke bagian foto, nah.. disini ga begitu lama. Soalnya satu bagian ini udah sekalian foto, cap 10 sidik jari, sama wawancara dan pemeriksaan dokumen akhir.

Kalo lulus semua, paspor yang udah jadi bisa kita jemput 3 hari kemudian.

Ok, semoga tulisan ini manfaat walau dikitlah ya buat kalian yang pengen ngurus paspor sendiri. Selamat menunggu.. dan selamat mengitari bumi :)



Read More...

Sabtu, 25 Januari 2014

(katanya) ngansos

Leave a Comment
ngansos (padahal tetap ketemu orang-orang dan bersosialisasi)
ga usah buka fb, apalagi twitter dulu...
ntar malah runyam gara-gara transfer energi jelek.

men, plis.. sebenarnya ucapan "syukran/makasih ya udah dikerjakan sebaik-baiknya.." ditutup dengan senyum lebar 5cm yang ditahan selama 7 detik itu lebih priceless dari pada setelah nyampein laporan ga bilang apa-apa cuma disuruh ngambil duit bensin sama duit capek. se-pesuruh-kah itu kami di mata anda?

hidup kami juga bukan cuma guling-guling leyah-leyeh di kasur tiap hari ya.. banyak yang jadi prioritas.

Dan sekarang ngomongin profesionalitas. yaudah sih.. males nanggepinnya.


Serius nih, saya lagi ngansos. ga usah sms, wasap, ngemention kalo ga penting.
Tenang aja.. amanah tetap saya jalankan kok. Gausah dikejar-kejar juga, saya bukan buronan.



Read More...

Jumat, 24 Januari 2014

Rumah

Leave a Comment
*Mungkin ini yang namanya galau..
Ternyata seperti ini. Ga enak.. heran kenapa orang-orang begitu semangat menyebutnya.
SARIPUDIN = SAking RIndu, PUkul DINding :(
abaikan*
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk kesekian kalinya, aku merasa ingin pulang.
Sepi sekali rasanya...
Rumah, yang hangat dan nyaman.
Aku ingin punya rumah... tempat berpulang di kala lelah.

Tidak ada orang yang mampu hidup sendiri, setidaknya pasti ada seseorang yang dia simpan di hatinya.
Ada seseorang yang ia tunggu senyumnya.
Seperti itulah rasanya pulang.
Hangat dan menyenangkan.

Aku ingin menjadi rumahmu... yang selalu menjadi tujuanmu.
Rumah yang akan tetap kau datangi walau jaraknya separuh putaran bumi.
Rumah yang kau merasa tenang dan aman di dalamnya.
Bukan rumah yang gelap dan tak terurus.

Pun, bagiku.. kau adalah rumah.
Dimana pun asal bersamamu, aku di rumah.


Read More...

sepi

Leave a Comment
Pernah kau merasa terjebak hati yang lelah dalam tubuh yang bugar?
Mungkin itu, untuk saat ini.
Tanpa persiapan, kau kejatuhan amanah yang tidak bisa kau tolak.. lalu saat kau merasa, 'Tuhan, ini besar sekali...' semua sudah terlambat.
Lalu kau merasa lelah.
Kau lari kesana dan kemari, tak ada bantuan.

Hujan deras di luar jendela, tapi di dalam sudah banjir.
Kau sepi, sendiri.

Read More...

Jumat, 17 Januari 2014

ini tentang apa?

Leave a Comment
Adalah dia, yang selalu dibenci dan ditakuti oleh teman-teman di rumah tinggal saya. Setiap dia datang.. teman-teman saya yang menonton di ruang tengah langsung ngomel-ngomel, sebagian malah langsung melenggang cepat-cepat pergi masuk kamar dan membanting pintu. Tak ada yang suka padanya, kecuali aku. Entahlah, bukannya aku menyukainya, aku hanya tidak tau apa yang harus dibenci darinya. Hingga suatu hari, kami semua menyadari bahwa dia tengah mengandung, tanpa kami ketahui siapa bapak dari calon anaknya. Bertambah-tambahlah kebencian teman-teman yang lain.

Beberapa saat berlalu, dia melahirkan. Sendiri. Aku sedang tak berada di rumah tinggal saat itu. Tapi kata teman-temanku.. dia memekik keras sekali, seisi rumah mendengarnya. Dan dari hasil persalinan itu lahirlah 4 anak. Lucu sekali.. tapi, tak mengubah perasaan teman-temanku yang terlanjur membencinya.

Well, kita tinggalkan dulu kisah bunda kucing dan keempat anaknya ini.

Kali ini saya ingin diskusi tentang rasa takut. Salah satunya takut kucing itu tadi. Rasa takut yang irasional menurutku. Kenapa orang bisa takut kucing? Men, ditimbang-timbang deh.. kucing itu ga makan orang, ga berbisa, ga nggigit, ga bikin orang mati karena liat matanya *yakali Basilisk*
trus kenapa ini cewek-cewek pada takut?
Dari survey abal-abaltapiserius yang telah saya lakukan sejak tahun 2012, beberapa orang mengaku tidak mempunyai alasan saat takut. Ya takut aja sama kucing. Kemudian saya tarik kesimpulan yakin haqqul yakin kalo penyakit takut kucing ini emang sengaja ditumbuhkan atau diwariskan semenjak kecil. Oleh siapa? Biasanya sih oleh ibu-ibu yang kelewat protektif sama anaknya. Kebiasaan deh, coba liat.. pasti di belahan bumi bagian Jawa atau manapun, selalu ada ibu-ibu yang mulai teriak histeris saat ngeliat anaknya ngedeketin kucing.

Dan, sebagai calon emak-emak juga (wuahahaha..) saya merasa kalo ini ga bener. Mending lah.. kalo ditanamkan takutnya sama kucing, nah, temen saya (cowok) ada yang sejak kecil ditakut-takuti sama polisi. "Awas lho, kalo ga makan ntar ditangkep pak polisi" "Kalo bandel, nanti pak polisinya dateng nangkep kamu". Dalam 1 konteks kalimat 'ancaman' aja itu udah ada 2 hal yang menurut saya ga bener. Pertama, bohong. Kedua, oknum yang dijadikan tersangka atau tokoh jahat. Hasilnya? Bisa ditebak sampe sekarang dia takut asli sama polisi berseragam lengkap. Kasian kan kalo udah bawa-bawa oknum gitu. 

Ketakutan irasional itu menurut saya mengganggu banget lah. Ya ga irasional. 
Makanya men, kalo ntar punya anak.. jangan dibiasain diancam-ancam bohongan gitu deh.. udah bukan jamannya keles. Jangan heran ntar kalo anaknya jago ngibul, lah wong orangtuanya yang ngajarin langsung kok.

Ok, kita lanjutin roman bunda kucing tadi.

Pada suatu hari Ahad yang cerah ceria, beberapa teman berkomplot untuk mengusir induk beranak itu. Tapi sayangnya, saat itu sang induk tengah keluar mencari nafkah untuk anak-anaknya. Jadilah kedua teman saya hanya berhasil menangkap ketiga bayi tanpa dosa itu, seekor lagi lari menyelamatkan diri ke tempat sepatu di garasi. Dibuang anak-anak itu di suatu tempat yang jauh sekali dari rumah kami, tanpa induk. 

Aku sendiri yang kemudian tau peristiwa itu belakangan marah sekali kepada mereka yang tega memisahkan induk beranak itu. Bukannya anak-anak itu masih terlalu kecil? Mereka bahkan hanya masih minum ASI. Bagaimana kalau mereka kelaparan? Bagaimana kalau mereka sampai di jalan raya? Bagaimana kalau mereka bertemu anjing yang jahat? Ah, tak sanggup aku bayangkan. Kejam sekali.


Read More...