Jumat, 25 Oktober 2013

di dunia ini, ada....

Leave a Comment
di dunia ini, ada orang yang dalam sekejap beli hape seharga nyaris 3juta sementara ada orang lain ngumpulin duit 3 tahun buat pulang kampung.

di dunia ini, ada orang yang bertaruh nyawa gali pasir di sungai deras seharian demi 5ribu perak sementara ada orang lain yang cukup ngebully di teve udah dibayar jutaan.

di dunia ini, ada orang yang bangga tiap akhir pekan makan di mall, sementara ada orang yang harus mengorek-orek tempat sampah untuk mengganjal perut yang sudah kosong 2 hari.

di dunia ini, ada yang ketawa-ketawa nonton acara orang saling menghina sementara ada yang nangis-nangis menyadari bobroknya mental pertelevisian.

di dunia ini ada yang asik dua-duaan berpegang tangan tanpa tanggungjawab, sementara ada yang dicap jual mahal karena mencoba patuh perintah Tuhannya.


Anda yang mana?


Read More...

Rabu, 23 Oktober 2013

Saat Ujian itu Datang...

Leave a Comment
All the things around stressed you now. When you feel nobody care, nobody said "here is my shoulder, lean it back" and you have to do it all alone.
You waiting for a hand, but it never comes. You feel so weak, and you don't know what you have to do. 

Sesungguhnya kau sedang dalam kondisi yang runyam, tertekan, bingung, dan tak tau harus bagaimana. Fisikmu dari luar keliatan baik-baik saja, tapi kondisi ruhiyahmu sedang sakit, tak ada yang tau -hanya kau dan Tuhan mu-. Kau tak apa maksud semua ujian ini, tapi, dibawah alam sadarmu kau tau bahwa ujian itu adalah tanda Tuhan sedang memperhatikanmu, perhatianNya sedang terfokus padamu. Inilah kesempatanmu, mungkin jika lulus kau akan mendapat hadiah, mungkin pula kau akan naik kelas, mungkin juga ini sebagai penggugur dosa.
Lalu kau teringat apa kata Allah bahwa semua muslim yang mengaku dirinya beriman pasti akan diuji:
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman” padahal mereka belum lagi diuji?" (QS Al-Ankabut: 2)
"Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang tabah?" (QS Ali Imran: 142)
"Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta." (QS Al-Ankabut: 3)
Saat segala macam cobaan silih berganti menerpamu dari arah mana saja, tetaplah berdiri tegap. Saat kau tak tau harus cerita ke siapa, karena orang tua berada jauh dan kau tak ingin membuat beliau-beliau makin khawatir dengan anak bungsunya yang sendirian di rantau. Ingin bercerita ke teman pun kau tak tau apa mereka bersedia meluangkan waktu dan hati untuk mendengarkanmu, kau terlalu takut untuk mencoba. Akhirnya kau memilih diam, mencoba tetap bersabar, dan tidak mengeluh kepada manusia.

Kalau kau penat, kau boleh menangis 1 atau dua kali.
Lalu teruslah tersenyum, kuatkan kembali ruhiyahmu, tegakkan kembali shalat di malam-malam, perbanyak tilawah sebagai asy-syifa', keluarkan sedekah yang kemarin sempat kau tahan, dan tetaplah berdoa meminta pundak yang jauh lebih kuat.

Jangan patah arang, percaya saja, apapun hikmah dari semua kejadian yang datang bertubi-tubi ini pasti akan ada ibrah yang diambil untuk makin mendewasakanmu. Kau adalah orang yang kuat dan kau percaya bahwa Allah ga akan memberikan cobaan diluar batas kemampuanmu. Tetaplah khuznudzan padaNya,


Read More...

Minggu, 20 Oktober 2013

let's talk and listen..

Leave a Comment
Komunikasi mungkin adalah seni yang paling sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana menyampaikan dan menerima informasi melalui bahasa teks, isyarat, atau yang paling mudah: verbal. Maka dari itu tak lepas pula dari berbicara dan mendengar.

Makin kesini di dunia ini, orang-orang merasai dirinya kelewat tinggi, merasa setiap kata yang dikeluarkannya penting maksimal dan harus didengarkan. Semakin banyak berbicara dan semakin sedikit pula mendengarkan. Hal ini yang sering menimbulkan kesalahpahaman atau misunderstanding. Padahal dam Islam, agama yang rahmatan lil alamiin, pun sudah diatur bagaimana adab-adab berbicara dan mendengarkan saat berkomunikasi dengan orang lain.

(gambar dari sini)

Berikut adab berbicara:
Berbicaralah yang simple. Gausah sok-sokan pakai istilah-istilah keren dan intelektual kaya' yang di teve kemarin-kemarin kalo emang ga cocok dan lawan bicara ga paham. Inget ya, apa yang dibicarakan itu penting, tapi bagaimana kita menyampaikannya juga ga kalah penting. 

Jangan mengulang-ulang kalimat, kecuali untuk benar-benar memberi penekanan makna dan pesan. Sebel kan ya kalo ada orang yang ngomongnya itu-itu aja. Ih, jangan sampai juga lah.. udah ngomong panjang lebar tapi ga kena-kena juga ujung pembicaraan itu apa. Makanya dalam hal ini kekayaan diksi dan keanekaragaman kata juga penting untuk dimiliki.
Sebaik-baiknya ucapan adalah yang singkat dan memberi arti, sedangkan seburuk-buruknya ucapan adalah yang panjang dan membosankan.

Apa yang diucapkan harus hasan, tidak boleh munkar. Cirinya gimana? Selalu membawa unsur kebaikan, meninggalkan pembicaraan yang tidak bermanfaat dan bukan hak kita semisal gosip atau ghibah, dan harus tetap menyebarkan salam.

sedangkan untuk adab mendengarkan yaitu:
Diam dan mendengarkan sehingga ucapan tak membaur dan bisa dipahami. Kalo sama-sama ngomong, siapa yang ndengerin kan?

Tidak memotong pembicaraan, apalagi hanya bermaksud untuk menguasai forum.

Menghadapkan wajah kepada pembicara. Kita tentunya senang apabila orang yang kita aja bicara dengan serius mendengarkan, tapi ada beberapa orang yang tidak bisa terlalu lama menatap wajah lawan bicara apalagi jika lawan jenis. Nah, tips untuk mengatasinya tanpa membuat lawan bicara merasa terabaikan adalah dengan menatapnya bukan di mata, tapi di dahi atau belakang kepalanya, ga perlu lama-lama, setelah itu alihkan pandangan, menunduk atau ke arah lain.

Tidak menunjukkan wajah lebih tau dari pembicara karena bisa lahir sifat sombong.


Yuk, perbaiki cara berbicara dan mendengarkan kita agar lebih santun, kan sudah ada tuntunannya dalam Islam. Islam itu dihidupi ya, bukan cuma ditunjukkan.


Read More...

Sabtu, 12 Oktober 2013

my Fav Films

Leave a Comment
MalAh... malam Ahad. Berdosa rasanya jika membicarakan sesuatu yang serius dan berat kan? Hahaa... jadi ceritanya sepulang tadi saya memeriksa beberapa berkas di harddisk. Lalu tanpa disengaja, terbukalah sebuah folder yang lama tak tersentuh. Folder yang menarik dan menghanyutkan. Bukaaaaan, bukan... bukan folder skripsi saya, kan saya udah bilang pamali ngomong seriusan malam Ahad gini, ini adalah folder berisi koleksi film-film saya, hehee...

Saya termasuk penggemar film, tapi tidak semua genre akan saya tonton. Saya termasuk orang yang ketat memilih dan memilah jenis film yang layak dan tak layak tonton. Nah, sekarang saya akan membocorkan sedikit rahasia beberapa film favorit saya sepanjang masa sampai Oktober 2013 ini.

1. Di urutan pertama, ada film Band of Brothers dari genre film action. 


This is a perfect war film. Film perang awesome garapan David Nutter. Ceritanya based on true story seputaran pasukan tentara Amerika di kancah Perang Dunia II. Saya suka banget sama penataan latar, effect, sampai soundnya. Keren. Dan yang paling saya suka adalah meski ini adalah film perang, tapi penampakan adegan berdarah-darahnya minimalis banget, tapi tetap seru dan greget. Adegan meninggal juga termasuk yang 'sopan' gitu, beda dengan film "Saving Private Ryan" yang agak-agak scrappy dengan perut terburai, darah muncrat kemana-mana, kepala kepotong, dll.
Trus sebelum film juga ada penuturan dari para veteran tentara perang, keren deh. Coba deh cerita kemerdekaan RI juga difilmkan kaya' gini.

2. Di urutan kedua ada film Life of Pi. Film India tanpa nyanyi-nyanyi dan joget-joget ga jelas. Langka. 

Pernah baca "The Old Man and the Sea" karya Ernest Hermingway (semoga saya tidak salah menuliskan namanya)?  Iya hampir sama, ceritanya lebih banyak berlatar dan fokus di laut. Banyak perenungan dan falsafah hidup yang akhirnya didapat dari situ.
Suka sama pesan yang disampaikan, mulai dari taktik si Pi mengubah nama panggilannya dari Pissin menjadi Pi, pencarian agamanya, sampai bagaimana dia bertahan hidup selama berbulan-bulan di atas sekoci bersama seekor harimau bernama Richard Parker. Effect animasinya itu juga lho... keren.   


3. Film ketiga ada UP. Film animasi lucu dan menghibur. Ada Russel si bocah pramuka nggemesin yang mukanya pipi semua dan Mr. Fredickson yang terikat janji dengan istrinya untuk pergi ke Paradise Falls. Animasinya bagus dan ga ngebosenin. Apalagi si Russel itu beneran menghibur deh...


4. Berikutnya masih film animasi, 5cm per Second.  Ini bukan tentang naik-naik gunung Semeru itu loh, beda. Ini film garapan Jepang tentang cinta pertama. Udah lama sih releasenya, sekitar tahun 2005 gitu, tapi sumpah ya, animasinya keren bangets. Beautiful view dari awal sampai akhir. 


5cm per second itu sendiri adalah kecepatan helai sakura yang jatuh ke tanah. Gegara nonton film inilah saya pengen ke Jepang liat bunga sakura dan naik kereta peluru (Shinkansen). Suka banget sama viewnya Jepang di film ini, lengkap dari perumahan, laut, padang rumput, sampai peluncuran roket dan ada milkiway-nya.


5. And jeng, jeng, jeng... film terakhir di postingan ini adalah Taken. It's like Finding Nemo for adults ya, hehe... tentang seorang ayah yang keren banget mau nyari putrinya yang diculik sampai ketemu. Ayahnya yang super keren itu memang bekas mata-mata (Saya juga penggemar film 007, Die Hard, dan Mission Impossible). Segala cara dia lakukan untuk menemukan putrinya. An awesome dad, huh?





Itu tadi 5 film keren sepanjang masa yang masih suka saya tonton berulang-ulang. Sebenarnya masih banyaaaaak banget film-film keren lainnya yang saya suka. Tapi cukuplah dulu ya untuk kali ini... Kalo kalian tau film-film ok dan layak tonton, boleh kok rekom di komen yah.. 
Matur tengkyuu~~

Read More...

Jumat, 11 Oktober 2013

ini hanya fiksi (11)

Leave a Comment
Kau dan aku adalah orang asing awalnya. Kita saling tak tau menu makan siang favorit, bahkan secuil nama. Kau dan aku adalah orang asing di tengah deru semesta ini. Tak pernah saling kenal sebelumnya. Tak juga bertemu, apalagi saling memeluk rindu.

Matahari tetap saja terbit dan tenggelam, aku bosan dan mencari teman berkata. Suatu kali kau dan aku terjebak di tengah rintik di kota kita, aku bertanya, "saat hujan, apa yang sebaiknya dilakukan?"

Kau menoleh, memutar mata dan menyiapkan jawab.

"Aku suka menonton bulir-bulirnya menetes di jendela besar, sambil menyesap secangkir susu coklat panas. Aku suka mengeluarkan tanganku dari jendela bis untuk menangkap tetesnya. Aku juga suka berdiri diam di tengah hujan, membayangkan bumi tengah diguyur penyiram bunga raksasa. Tapi yang paling aku suka adalah melantunkan bait-bait doa, yang akan melaju ke langit bersama doamu, lalu seperti hari ini, kita bertemu."

Aku menunduk, malu merona merah beranakpinak di pipiku. Kau juga diam. Kita kikuk dalam rasa.

Hujan reda. Aku pamit mengatur langkah. Lalu kita menjadi orang asing dalam kehidupan masing-masing. Jalan masih panjang, dan mungkin, di ujung sana kita akan jumpa lagi.





Read More...

Kamis, 10 Oktober 2013

ulang tahun

Leave a Comment
Rasanya selalu menyenangkan saat berbagi. Apalagi dengan orang-orang terdekat yang kau sayangi. Well, jadi sebenarnya saudari saya, Firda sudah mengulang tanggal lahirnya bulan September lalu. Tapi karena tercover beberapa kegiatan (maha penting :P) akhirnya saya baru bisa memberikan hadiah untuknya Rabu (9/10) kemarin.



Sederhana, tapi senang sekali rasanya jika kau tau bahwa dia sangat menyukai apapun yang kau berikan.
Turut bersedih atas jatah umur yang berkurang, dear. Semoga sisanya itu semakin bermanfaat dan berkah untukmu dan untuk umat.

Doa yang berselimut rapi bungkus kertas kado.


n.b:
spesial in this note: Firda Silvia


Read More...

Rabu, 09 Oktober 2013

sebal

Leave a Comment
Hari Raya Idul Adha hampir tiba. Temen-temen sibuk berencana jadwal pulang, dan aku sebal. Karena mereka dengan sengaja memamerkan apa saja kebiasaan mereka dirumah saat di depanku, lalu bertanya apa yang akan aku lakukan sendirian di sini.
Lalu mereka tertawa melihat aku sebal, dan aku makin sebal rasanya.


Read More...

Selasa, 08 Oktober 2013

Pedagang atau Pendidik?

Leave a Comment
Pagi ini terbuat dari secangkir susu coklat hangat dan "nyasar" di salah satu artikel yang menuliskan hal-hal keren dan mencengangkan tentang pendidikan. Lalu tersebutlah sebuah nama, Chris Langan. Karena penasaran, akhirnya saya googling dan berkenalan dengannya. 

Everybody pasti kenal Albert Einstein, ya kan? Yups, si bapak jenius dengan teori relativitasnya. Tau berapa IQnya? 150.
Sekarang, kalian tau Chris Langan? tidak tau? yasudah... tapi saya akan memberi tau bahwa orang yang ini mempunyai IQ 195. Sempurna! Lalu, kenapa dia tak semega dan semenyejarah Eintein?

Chris lahir dan besar di keluarga yang sangat miskin dan semrawut. Dan hal ini tentu saja membuat pendidikannya terbengkalai. Suatu kali ia mendapat beasiswa di sebuah universitas besar di Oregon. Semester awal nilainya bertabur A, namun semester berikutnya nilainya F semua, beasiswanya dicabut karena alasan yang ga masuk akal, ibunya lalai mengirimkan surat keterangan miskin dan mengaku bingung cara mengisi formulir beasiswanya. Akhirnya 2 kata: drop out. Kemudian dia pernah mencoba kuliah lagi, tapi lagi-lagi drop out karena masalah ekonomi. Akhirnya dia bekerja di pusat kebugaran dan terkenal karena ototnya, bukan otaknya.  

Nah, beda dengan Einstein yang meskipun pernah dicap (maap) tolol oleh gurunya saat bersekolah, namun ibunya selalu percaya anaknya bakal jadi orang besar dan memberikan semua perhatian dan apapun yang dibutuhkan sang anak untuk bereksperimen. 

Ada penelitian menarik seorang sosiolog Amerika bernama Annete Lereau, ini kutipannya: "Keluarga miskin biasanya membiarkan saja anaknya tumbuh sendiri. Akibat tekanan ekonomi, para orangtua miskin tak memiliki waktu dan uang untuk memberikan perhatian lebih pada kebutuhan anaknya. Mereka juga sangat percaya pada bakat bawaan. Jika anaknya memang cerdas, sang anak dipercaya akan menemukan sendiri jalannya menjadi insinyur atau profesor. Tetapi jika tak berbakat, mau dipoles seperti apapun juga tidak akan bersinar. Masalah lainnya mereka menularkan ketidakpercayaan diri, apatisme, dan kecurigaan pada lingkungan.
Keluarga-keluarga kaya justru sebaliknya, mendatangi guru untuk berdiskusi tentang nilai sang anak atau sekedar menunggui anaknya di pinggir kolam renang atau les piano. Ini bukan bentuk pemanjaan, tetapi pola pengasuhan terpadu (concerted cultivation). "

Kembali menyeberang ke negeri kita sendiri, Indonesia, dimana jumlah orang kaya dan miskin sangat jomplang bedanya. Baru-baru saya membaca tentang pernyataan om Jusuf Kalla yang keras mendukung UN tetap ada. Selepas itu saya setuju, karena bagi saya pribadi UN adalah bentuk evaluasi dari pendidikan formal di sekolah, tapi harusnya tidak menjadi filtering untuk menentukan siswa lulus atau tidak, atau bahkan yang ekstrim: pintar atau bodoh. Namun, pagi ini saya dikagetkan dengan pernyataan Om JK di sebuah gambar, yang berbunyi: "Bila tidak dipaksa maka anak tidak akan belajar. Jangan permisif! Lebih baik seribu anak stress daripada sejuta anak bodoh."


Khusus kalimat terakhir itu... insane.
Saya rasa om JK ngukur dari dirinya sendiri, tentu saja dia belum pernah merasakan pengalaman sekolah seperti Chris Langan, secara dia berkembang di keluarga kaya dan serba ada, mudah mendapatkan sekolah dengan fasilitas lengkap.
Yaudah sih, om JK memang bukan pendidik, toh dia pengusaha, makanya dia mendukung program mobil murah, soalnya dia yang jualan mobil.

Yang namanya pemaksaan tentu saja ga baik, apalagi di usia-usia dini. Itu bakal membelenggu kreativitas dan melahirkan manusia-manusia pemaksa seperti robot dan gemar menyelesaikan perbedaan-perbedaan dengan kekerasan.
Singa sirkus akan mau melewati lingkaran api jika terus-terusan dipaksa dan diancam dengan cambuk atau cemeti oleh pelatihnya, tapi tentu saja kita akan menyebut singa itu terlatih, bukan terdidik. Begitu juga dengan belajar, jika terbiasa menggunakan kekerasan untuk memaksa siswa belajar, yang akan diingat siswa tentang belajar adalah kekerasan itu sendiri, bahkan dia mungkin akan membenci belajar karenanya.

"Jangan melatih anak untuk belajar melalui paksaan atau kekerasan, tetapi arahkan mereka ke sana dengan sesuatu yang menghibur pikiran mereka, sehingga dengan demikian Anda menjadi semakin lebih mudah menemukan dengan akurat bakat kejeniusan mereka masing-masing."
(Platon)

"Semua orang terlahir jenius. Tetapi jika engkau memaksa seekor ikan harus punya kemampuan memanjat pohon, maka ikan itu akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempercayai bahwa dirinya bodoh."
(Albert Einstein)


Read More...

Sabtu, 05 Oktober 2013

Ibu Karier

Leave a Comment
Jumat kemarin (04/10) saya mempunyai 5 jam privat bersama AM Edukasi TELKOM Malang, Bu Tutik Sri Astutik. Jadi singkat ceritanya saya kemarin sebagai pengamat untuk sosialisasi internet pendidikan dari TELKOM di Kantor Pendidikan Batu, saya harus tau siapa saja audience-nya dan bagaimana menangani pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mereka ajukan sebelum nanti saya akan diterjunkan seorang diri ke lapangan.

Sebenarnya itu adalah pertemuan kedua saya dengan bu Tutik. Jadi banyak hal yang kami bicarakan sebagai perkenalan dalam perjalanan. Usai memberikan sosialisasi, kami mampir ke Bakso Damas SoeHat sebelum balik ke kantor TELKOM. Dan dari percakapan saat makan bakso itulah saya belajar banyak hal tentang jadi 'ibu berkarier' dari beliau.

Bu Tutik: mbak Nursih nanti kerja di Malang atau balik ke Biak?
Saya: Saya mau tinggal di Malang beberapa saat lagi, bu... setelah itu mungkin nanti saya akan balik ke Biak.
Bu Tutik: Disana masih banyak lapangan pekerjaan di bidang apa saja? Rekanku yang dipindah ke Papua kok pada ga betah ya..
Saya: sekarang disana itu masih butuh banyak tenaga pengajar sama tenaga medis, bu. 
Bu Tutik: oh iya.. bagus itu. Mbak Nursih kan orangnya sabar ngadepin anak-anak sih, jadi guru lak cocok mbak.. 
Saya: hehee.. enggak kok, Bu.. saya aslinya juga ga sabaran, tapi emang sehari-hari mainnya sama pelajar-pelajar semua.
bu Tutik: Anakku 3, mbak... laki-laki semua. Susah jadi orang tua, mbak... Waktu jaman-jamannya video Ariel itu, anakku yang paling gede aku tanyain dia ikut nonton apa tidak. Katanya udah nonton juga, tapi ya udah gitu aja. Ya aku percaya dan kalo dia udah ngaku gitu berarti kan dia udah jujur. 
Kita kan ga pernah tau ya mbak.. nanti saat besar anak kita jadi apa. Yang bisa kita lakukan sekarang sebagai orang tua ya berusaha agar kita bisa menjaga mereka tetep di track yang bener. 
Saya: yang gede itu kelas berapa, bu?
Bu Tutik: kelas 3 SMP. Kadang suka feeling guilty juga ninggalin mereka kerja dari subuh sampai maghrib, tapi gimana ya, mbak... aku udah kerja 16 tahun dan rasanya kalo ga kerja itu ga percaya diri sama lingkungan.
Lagipula dari dulu didikan dari ibuku itu perempuan harus kerja. Dua kakak perempuan ku juga kerja. Bukan karena ga puas sama gaji yang dikasih suami, yah, kita sih selalu mengharap yang baik-baik... suami sehat terus, karirnya bagus, ga selingkuh.. tapi kita kan juga harus mempersiapkan diri for the worst things kan? 
Saya: iya, bu... Ibu saya juga ngajarinnya gitu. Walaupun ibu saya ga kerja kantoran, tapi alhamdulillah ibu saya juga bisa berpenghasilan meski di rumah.
Bu Tutik: oh, jualan di rumah ya, mbak? Bagus itu. jadi anak-anaknya tetep kepegang. Tapi kalo aku sih dari dulu di didiknya harus belajar yang bener, kuliah yang bener, biar dapat kerjaan yang baik, makanya bisa jadi sampai kaya' sekarang ini. Ada temenku dulu... ga kerja, jadi cuma semata-mata ngarep gaji suami, trus ga disangka suaminya meninggal. Jadi tumbang kan, tiba-tiba ga ada masukan sama sekali, akhirnya ya mau ga mau cari kerjaan serampangan, jadi satpam sekarang.

(obrolan kami masih panjang, tapi secara garis besar dan penting, sudah terekam di atas) 
(gambar dari sini)

Saya secara pribadi setuju dengan bu Tutik, seenggaknya jadi perempuan harus mempersiapkan untuk hal-hal yang terburuk. Supaya kalo ada hal-hal buruk yang terjadi kita ga sepenuhnya limbung dan tetap bisa melanjutkan hidup. Tapi ya tetep, keluarga nomor 1. Ga boleh mengabaikan hak suami dan anak-anak jadi keteteran. Bahkan untuk bekerja dan keluar dari rumah nanti kita sebagai istri kan harus dengan seizin suami. 
Saya sih pengen punya cafe baca, dibikinnya deket rumah aja, jadi gampang ngawasinnya. Trus pengen juga jadi pendidik, pendidik anak-anak sendiri yang utama, tapi boleh juga sambil ngedidik anak orang lain. Hehee :D




Read More...

Senin, 30 September 2013

Dakwah

Leave a Comment
Say hello to the end of September. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Tak terasa sudah hampir 5 tahun saya berdiam di Malang, hingga saya kembali merenungkan apa saja yang telah saya beri dan dapatkan disini. Kembali ke masa-masa galau di tingkat 2 kuliah, apa yang bisa saya lakukan, apa manfaat yang telah saya berikan ke orang lain, ke mana arah hidup saya ini. Satu pertanyaan penting buat diri saya pribadi, "kenapa saya akhirnya memilih berjalan di jalan dakwah ini?".

Mudah saja saya menjawab pertanyaan orang-orang sekitar saya mengapa saya bersibuk-sibuk dan bercapek-capek mengurus anak orang. Teman bukan, saudara bukan, siapa sih mereka? Mungkin ada ribuan opsi kata yang bisa saya rangkai menjadi sebuah jawaban yang manis dan terdengar apik untuk meningkatkan citra diri yang bisa saya sampaikan ke orang lain tentang alasan saya mengapa saya memilih mengabdikan diri di jalan ini. Tapi betapa itu berubah menjadi sulit ketika yang bertanya adalah diri sendiri. Bahkan sampai setahun lalu saya sudah diamanahi beberapa kelompok mentoring, pertanyaan itu masih belum terjawab.

Perjalanan di jalan dakwah ini begitu panjang dan berliku. Perjuangan tetap berada di lintasannya adalah perjuangan hidup itu sendiri. Pernah merasakan tawa, tangis, haru, sedih, bahagia, bosan, marah, kecewa, semangat, bingung, penat, capek, ditolak, takut, prihatin, dan ribuan emosi lain dalam perjalanannya. Emosi-emosi itu yang akhirnya mengikat kami, para pelaku dakwah, sebagai pengikat yang lebih kuat dari apapun, hingga ukhuwah kami satu, sampai sekarang ini.

Dakwah, mungkin pun sudah tertanam jauh-jauh hari sebelum saya memilih untuk bergabung disini. Dakwah adalah cinta. Dakwah adalah sikap hidup bagaimana kita memperlakukan orang lain. Dakwah adalah kumpulan kesimpulan tentang pengalaman hidup dan akan kemana setelahnya. Dakwah adalah rasa takjub melihat perbedaan hitam atau putih. Dan secara sederhana mungkin inilah jawaban saya atas pertanyaan saya sendiri, karena dakwah adalah bukti aktualisasi diri. 


Read More...

Senin, 23 September 2013

dari Keracunan sampai Kerasukan

Leave a Comment
Kamis ceria. Setelah koordinasi dengan tim Solidaritas Peduli Jilbab regional Malang di GOR Pertamina UB untuk unjuk taring kami yang pertama di Kemuslimahan FISIP UB sore itu, saya langsung meluncur ke rumah Tyas. Seperti biasa, saya menemani Tyas belajar sampai ba’da maghrib. Snack saya sore itu adalah siomay yang dibeliin mamanya Tyas di pedagang siomay keliling. Saya pun makan siomay itu dengan santai tanpa menaruh prasangka apapun. Tak disangka, saat saya pulang dan melewati SoeHat- M.T Haryono – Gajayana yang  macetnya naudzubillah, saya mulai merasa pusing, disorientasi (halah), dan mual. Bahkan sesampainya di kostan saya langsung tergeletak tak berdaya. Satu jam kemudian akhirnya saya bisa lari-lari lagi, tapi larinya ke kamar mandi, trus muntah-muntah L.  Teman-teman saya yang watir menawarkan diri untuk membelikan air kelapa, tapi saya tolak karena sok tidak mau merepotkan, apalagi saat itu sudah malam. Yah, sulit untuk mengakuinya, ini ga keren sama sekali tapi saya tumbang, keracunan makanan oleh siomay.

Esok paginya, saya masih tergolek di kasur, lemes dan lapar, setelah malemnya muntah-muntah sampai tengah malam, tetapi hari ini ada 2 agenda penting (sebenarnya 3, tapi yang satu saya tinggalkan karena waktunya benar-benar beririsan dan lokasinya berjauhan). Merasa harus bangun akhirnya saya nelpon ibu dan menceritakan keadaan saya. Yah, emak-emak itu emang ruarrr biasa yah… selalu tau apa yang harus dilakukan dalam keadaan kritis.

Minum susu putih. Harusnya itu yang pertama saya lakukan sejak semalem untuk pertolongan pertama… ibu saya pun udah ngomel-ngomel karena saya baru bilang. Yah, my fool, mak… L Akhirnya subuh itu makan sereal+susu putih kental+pisang. Trus paginya langsung ke InBis UB. Masih pusing dan lemes sebenarnya, tapi pagi itu saya dapat amanah untuk jadi peraga tutorial khimar syar’i dan jaga stand jilbab wear , jadi ga bisa saya tinggal. Langsung gelar lapak dagangan. Trus nunggu giliran tampil setelah ust. Felix Siaw dan Mbak Peggy Melati Sukma.

Jam 13.30 langsung meluncur ke sekretariat buat syuro, pulangnya baru beli degan. Malemnya saya memutuskan untuk tidur lebih awal karena masih lemes. Tapi belum lama tidur, saya dikagetkan oleh temen-temen kostan yang teriak-teriak dan nggedor-nggedor pintu kamar. Rupanya, di sebelah kamar saya ada yang kerasukan. Ehem, ini pertama kalinya kejadian di kostan saya dan anehnya, yang kerasukan pun bukan anak kostan saya, melainkan saudara temen saya yang kebetulan sedang nginap disitu. 

Kampretnya teman-teman yang lain ga ada sama sekali yang berani,  akhirnya saya dan saudaranya itu yang mencoba ‘ngajak ngobrol’ si mbaknya. Awalnya saya ambil Quran sambil baca ayat Qursiy, trus saya pegangkan ke kedua tangannya, tapi tangannya sudah terlanjur kaku dan dia mulai teriak-teriak. Matanya nyalang. Saya coba berkompromi, saya akan berhenti baca ayat Qursiy kalo dia pergi, tapi dia nolak. Lalu dia mulai nunjuk-nunjuk kami dan teriak “panas, panas…pergi, pergi!!” dengan suara tinggi. Sialnya, saudaranya itu gentar dan ikut kabur keluar kostan, tinggallah saya sendiri.
Iya, gila mereka itu… 

Saya sendiri sadar, saya ga bisa gitu aja nyuruh ‘dia’ pergi apalagi dengan keadaan jasadiyah dan ruhiyah saya yang sedang ngedrop. Gimana kalo ‘dia’ tiba-tiba marah dan nyekik atau melukai saya? Nah, sebenarnya saya tau saya ga boleh ninggalin orang yang kerasukan sendirian, tapi ini gimana saya juga ditinggal sendirian…

Akhirnya saya ikut keluar kostan dan nunggu bantuan dari tetangga sekitar. Akhirnya ada ustad dari pondok deket kostan yang mau nolongin dan berhasil ngusir si ‘mbak’ keluar. Yah, bisa dibayangin sampai hari ini keadaan kostan masih belum stabil. Temen-temen yang lain masih minta dianter ke kamar mandi dan ga berani tidur sendiri di kamar masing-masing. Jadilah kami tidur beramai-ramai di ruang teve. Saatnya kembali mengeluarkan sleeping bag, yeaaah… 


n.b.:
saya merasa bodoh di beberapa adegan, misalnya saat saya tidak bersegera mencari penawar saat keracunan makanan, memaksakan diri berkegiatan saat tubuh lemas dan sakit, serta sok berani mengahadapi orang yang kerasukan sendirian. Er, yah… my fool, don’t try it ya L


Read More...

Senin, 16 September 2013

Random

Leave a Comment
"Perempuan itu bukan tentang apa yang dia katakan, tapi tentang apa yang tidak dia katakan."

Banyak yang ingin terkatakan, tapi tak tahu harus dimulai dari mana dan ragu apa memang harus dikatakan.
Aku rindu obrolan berat dan dalam tanpa tema hilang sadar hingga lupa waktu, lalu kita tertawa. Aku rindu masa-masa aku bebas menceritakan mimpi-mimpi yang aku punya tanpa takut akan ditertawakan atau dilecehkan. Aku rindu saat-saat menceritakan ide-ide gila dan terliarku tanpa khawatir aku akan dikira aneh dan tidak normal.
Aku menahan untuk tidak bercerita, agar aku bisa mendengar cerita.

Tirai khaki emas sempurna menutup jendela gelap tanpa cela. Lampu kamarku masih menyala. Dan aku pun masih terjaga. 
Kata-kata berlompatan di kubikel-kubikel otakku, dari satu cerita ke kejadian lain. Tak sepenuhnya aku pahami. Tapi ini jelas mengganggu.

Lubang hitam. Samudera Atlantik. Burung Merak. Roti panggang keju. Kue jahe. Pulau Kalimantan. Milky way. Asin. Skripsi. Mars. Rumah. Tulisan. Tanda tanya. Rumah baca. Buku biografi. Kawah Ijen. Kentang keju. Puding coklat. Hujan meteor. Anak jalanan. Seragam sekolah. Matahari terbit. Petir. Cinta. Padang rumput dan domba. Balon gas. Pasir pantai. Laptop. Penggaris bening. Tas rajut. Mobil 4WD. Sendal gunung. Risotto. Langit biru. Pipi merah jambu. Ikan remora. Kolam ikan. Rambut belah tengah. Bedug masjid. Google. Akad nikah. Alam semesta. Rumah singgah. Menara Eiffel. ........................... Kamu.

Malang, 16 September 2013
Selepas Tengah Malam.


Read More...

Jumat, 13 September 2013

Puisi: Tera Errau

Leave a Comment
Ini adalah puisi surayah Pidi Baiq. Pengen posting aja sih... dalem soalnya :)
Ga tau kenapa di part Nyala Api dan Perasaan ga ada nomor 2nya...
tapi, enjoy it ajalah! 

1
NYALA API
1. Buku ini adalah yang muncul dari dalam diriku untuk mengatakan tentang perasaanku kepadamu.
3. Perasaan halus dan bebas mengalir semenjak saat bertemu.
4. Menghisapku ke dalam pusaran waktu yang begitu manis.
5. Dan, aku tulis ini karena demikianlah menurut suara yang ada di dalam diriku.
6. Berbicara tentang dan hal-hal yang tertuang di antara aku dengan dirimu.
7. Mengenai diriku yang telah jatuh ke dalam semua pesonamu.
8. Dan tidak dapat dipertahankan lagi sampai waktu selanjutnya.
9. Nyala api cinta yang tumbuh besar ini, makin lama menjadi lebih kuat, lebih lama, lebih tinggi.

2
PERASAAN
1. Aku berikan ini kepadamu bahwa aku lebih suka berhubungan dengan mu, jika harus mencari kehidupan yang berbasis perasaan.
3. Karena dirimu adalah yang bergabung dengan pikiranku. Dengan ruang kosong yang aku sediakan sejak pagi.
4. Dan kuperpanjang waktunya hingga malam, sebagai rindu.
5. Mengatakan semuanya dalam gelombang kekuasaan perasaan.
6. Dan itu semua adalah karena kau. Tidak perlu jenius untuk mengetahui keindahanmu.
7. Orang yang menyenangkan bagiku, tidak aku ragukan lagi, adalah orang yang sepertimu.
8. Aku terlibat dengan urusan yang penting ini. 
9. Aku ingin punya tempat khusus bahkan hanya untuk sehelai rambutmu.
10. Dan sekarang, jika aku telah mengatakan semuanya, lakukanlah untuk mendukungnya seolah-olah ini sebuah puisi untukmu.

3
TERA ERRAU
1 Dia adalah dirimu, nama tentang perasaan purba, cinta dan kasih sayang.
2 Tanpa dirimu, kehidupan macam apa yang akan membuatku betah tinggal di bumi?
3. Bahkan jika semua tempat di bumi ini bagus, kukira masih perlu ada dirimu, untuk memberi penyegaran.
4. Mengapa, tuhan menurunkan kamu ke bumi, aku tahu sekarang, agar aku bisa merasakan jatuh cinta.
5 Atau engkau adalah hadiah buat aku di bumi, jika aku tidak bisa mendapatkan bidadari di sorga.
6. Aku mencintaimu, ini adalah urusanku, bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu adalah urusanmu.

 (BERSAMBUNG)
  

Read More...

Dream

Leave a Comment
Kawan, saya punya pertanyaan.
Seseorang yang tak  saya kenal pernah menuliskan dalam bukunya, "Dream doesn't have an expiration date. Take a deep breath and try again."
Jadi, apakah orang yang merasa mimpinya sudah tidak relevan dengan usaha dan doanya lalu sekonyong-konyong (meminjam istilah mbak Adenita di buku 23 Episentrum) mengebiri mimpi atau (bahasa halusnya) merevisi mimpinya sendiri adalah seorang pecundang?

Apa alasanmu?


Read More...

Tere Liye

Leave a Comment
Kalian tau Tere Liye? itu lho penulis novel bestseller asli Palembang, Indonesia...
Yang nulis Serial Anak-Anak Emak, Bidadari-Bidadari Surga, Moga Bunda Disayang Allah, sampai yang terbaru Negeri di Ujung Tanduk? 

Saya salah satu fans setia tulisan dan kalimat bang Tere. Sejak membaca Serial Anak-Anak Emak, Burlian tahun 2010, saya sudah jatuh cinta dengan bagaimana kelihaian bang Tere menggubah huruf dan karakter menjadi karya. 


Sebuah alasan kenapa saya selalu menunggu tulisan bang Tere adalah karena selalu ada pesan yang tersurat setiap bang Tere menulis. Pesan religi, moral, akhlak, dan sebagainya. Segala pesan yang baik dan membaikkan. Jangan galau, jangan pacaran, jangan merokok, jangan abai terhadap orangtua, belajar yang rajin, and more.
Di novel-novelnya pun tak ada ceritanya si Fulan berpacaran dengan Fulanah, yang ada hanya si A mencintai si B, karena cinta itu kan emang fitrah, dan pasti dirasakan oleh setiap manusia. Tinggal bagaimana kita menyikapi perasaan tersebut, menghinakan atau memuliakan.
Pokoknya saya percaya bang Tere sudah mempunyai pemahaman yang baik terhadap hidup. Dan selidik punya selidik, bang Tere pernah mengaku pemahaman itu didapatnya karena belajar dari berbagai perjalanan menyusuri berbagai negara di Asia secara backpack beberapa belas tahun yang lalu. Nah, traveller pula inih!

Pun, saya pernah 2 kali mengikuti pelatihan menulis dan talkshow bersama bang Tere Liye. Sebelumnya jika membayangkan dari gaya menulis dan penyampaiannya, saya berprasangka bang Tere ini orangnya rapi, berkemeja, bersepatu pantovel, dan rapi menyisir rambutnya, tapi begitu melihat bang Tere langsung, aaah... hilang sudah semua bayangan tadi.
Bang Tere bener-bener lowprofile, zuhud lah kalo saya boleh bilang. Berkaos, celana panjang jeans, kupluk abu-abu di kepala, dan bersendal jepit swallow.

Salah satu penjabaran yang saya sukai tentang aturan dalam talkshow atau seminar kepenulisan beliau adalah tidak bakal ada sesi foto bareng peserta, alasannya? Baca ini yah..
Akan saya jelaskan beberapa kesalah-pahaman:

1. Tanda tangan
Dalam setiap acara, saya selalu mewajibkan jika ingin request tanda-tangan harus di buku2 tere liye. Saya tahu, ada di antara orang-orang yg tidak menerima peraturan ini, bilang hanya orang punya uanglah yang bisa beli buku-buku tersebut, saya diskriminatif, lantas menilai macam-macam, bahkan menulis di jejaring sosial penuh prasangka.

Padahal alasannya simpel sekali: saya pernah datang ke sebuah sekolah, bayangkan saat semua murid bisa minta tanda tangan di kertas apapun, maka satu orang bisa membawa 10 lembar kertas minta tanda tangan untuk temannya A, kakaknya B, tetangganya C, dan sebagainya sampai J. Satu orang bisa begitu, maka peserta yang lain maksa begitu pula. Saya jadinya bisa menandatangani 1.000 lebih request tandatangan di buku tulis, kertas HVS, kertas robekan, dan sebagainya  Jika 1 tanda tangan itu membutuhkan 10 detik, maka saya butuh 10.000 detik, hitung saja sendiri berapa jam yang harus saya habiskan untuk menandatangani kertas-kertas tersebut. Lebih lama tanda tangannya dibandingkan sesi materinya. Peraturan itu bertujuan mengurangi dengan sangat signifikan request tandatangan.

Padahal apa sih artinya tanda tangan? Akan membawa kemuliaan? Menambah derajat? Pengetahuan? Tidak sama sekali. Kalau kalian tidak punya buku, dan tetap maksa minta tanda tangan  mudah. Temui saya di detik terakhir sebelum saya meninggalkan lokasi acara, saya bisa membuat pengecualian yang tidak mengundang protes peserta lain.

2. Foto bareng
Apakah saya itu tidak mau di foto bareng? Mau. Saya ini narsis sekali. Itu natur. Tapi saat saya tidak bersedia di foto bareng peserta dalam acara, lagi-lagi bukan karena saya sombong, tidak adil, sok, dan sebagainya.
Alasannya simpel: ikhtilat. 
Bayangkan ketika orang-orang merangsek ingin foto bareng, maka batas, jarak, bahkan prinsip yang baik bisa dikesampingkan demi foto bareng tersebut. Berebut. Dorong-dorongan. Jikapun tidak berebut, ketika foto, kita tetap saja berdekatan satu sama lain, nempel. Dan ini kadang tidak ada habis-habisnya. Satu orang bisa minta tiga kali pose, dengan gaya berbeda.
Padahal, lagi-lagi, buat apa sih foto bareng tere liye? Mending kalian foto bareng teman-teman baik, atau teman-teman peserta, biar saya yang motoin, pegang kameranya sini. Kan seru cerita ke teman, eh tadi saya ketemu bang tere di acara, dia motoin kami loh.

3. Request Interview
Di buku-buku saya tidak ada biodata, CV penulisnya. Pun menggunakan nama pena saja. Ada alasan baik kenapa saya melakukan hal tersebut. Alasan yang sama baiknya ketika penulis lain sebaliknya meletakkan biodata, dll. Profile saya pun tidak muncul di media massa. Terlepas dari memang tidak ada media massa yang mau pula meliput, wawancara, dan sebagainya,  saya melakukan hal ini karena alasan yang lagi-lagi baik. Seharusnya kalian bisa memahaminya bahkan tanpa perlu tahu alasannya. Karena jelas, semua orang punya batas privacy, alasan personal. Tidak perlu memaksakan diri, tidak perlu bilang saya sombong, pedit, kikir, bakhil.
Jadi ketika saya menolak request interview, wawancara, untuk keperluan apapun, tidak ada hubungannya dengan diskriminatif, keadilan sosial, kesejahteraan dunia, apalagi apresiasi dan kemakmuran ekonomi umat. Itu simply saya sedang terus berdisiplin menggigit pemahaman saya.
Kurang lebih begitu penjelasannya.
Keren sumpah!



Read More...

Selasa, 10 September 2013

my Adventures Book

Leave a Comment
I'm working on my own book project. This is what I called "fun". Making something and being happy with it. Well, I got an idea for this book after watch UP, with a super cute little boyscout, Russel and an old man called Mr. Fredickson. And here I am, collecting my memories about my fams, my friends, my besties, and all of my journeys in a book. 

as a visual-kinesthetic person, I love to show the memories in a picture form. It's like a photo album, well.. 

Maybe I'll keep some pages for my future. I wanna fill this book not only about me, but us   


my homemates's part



I wrote dua Rabithah for tie our hearts up

my bad habits, bring sands from every beach I visited

I wrote friends name there, is it you?





It still has a lot of blank pages, would you like to help me to fill it?   


Read More...

Sabtu, 07 September 2013

an Amazing Housewife

Leave a Comment
Beberapa waktu lalu di akun sosmed saya sempat men-share sebuah diskusi tentang seorang ibu home schooler yang luar biasa, Ibu Septi Peni Wulandani. Dan kemarin, saya ditujukan lagi sebuah link yang merujuk ke kisah hidup beliau dalam mendidik ketiga buah hatinya. Ini dia: 
Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.
Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.
Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?
Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk dan nangis, what I’ve done until my 22?
Beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan
2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai
7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta 
10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.
Photo: Kisah Inpiratif Seorang "Professional House Wife", mencengangkan


Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

 

Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta :P

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.

Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please,  housewife is the most presticious  career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi :) Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.

Setelah mengikuti sesi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?

Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil pelajaran. (http://dakwahmedia.com)

===============================

Like untuk berlangganan TIpsmenarik seputar pendidikan 

FP : https://www.facebook.com/TipsPendidikanAnak
 (cerita dan gambar dari sini) 

Well, gimana?  Housewife itu profesi yang keren banget kan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most presticious career for a woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi  Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Video diskusi Membangun Mimpi Bersama Keluarga, lihat disini.


Read More...