Senin, 25 Februari 2013

Bagaimana Menyampaikan Taujih?

Leave a Comment
Minggu, 24 Februari kemarin setelah membina di YASA sejak pukul 06.00 sampai 08.15 pagi, saya langsung meluncur ke belakang pom bensin Jalan Bandung, tepatnya di tempat kursus Nurul Fikri untuk mengikuti Dauroh Muwajjih. Alhamdulillah, untung waktunya bersisian (karena biasanya pembinaan di YASA dimulai jam 08.00-10.00) jadi tidak ada agenda yang harus dikorbankan.

Kenapa saya pikir agenda ini penting sehingga saya harus datang dan menyimak? Karena seperti kata twit ust. Felix Siaw, apa yang disampaikan dalam dakwah itu penting, dan bagaimana menyampaikannya juga penting.
Sampai disana ternyata acaranya baru dimulai. Alhamdulillah lagi..
Saya lupa nama ustadz yang memberikan materi, trus diberi tau teman saya, ternyata beliau adalah ustadz Jamalullail Yunus.

intinya, materi yang sempat saya catet, simak, dan simpulkan antara lain:

Landasan Dakwah. Kenapa sih harus berdakwah?
a. QS. al-Fushilat ayat 33.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?

b. Hadist Rasulullah "Ballighu'anni walau ayah" yang artinya: "sampaikanlah dariku walau hanya 1 ayat.

c. Kita adalah Generasi Robbani (yang selalu mempelajari al Quran, lalu mengajarkannya kepada orang lain), seperti dalam QS al-Imran ayat 79.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ 

وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

d. Ahdafut Tarbiyah: Sholih wal Muslih
Dakwah bisa dikatakan berhasil jika bukan hanya bisa menjadi shalih, tapi juga bisa men-shalih-kan orang lain (muslih).

nah, untuk mencapainya, banyak hal yang harus disiapkan sebelum menyampaikan taujih. Yang pertama:
1. Persiapan Dasar


See? 
mulai dari kesiapan fisik, pikiran, dan apa yang akan kita sampaikan. tujuan penyampaian itu apa? siapkan semuanya dari sini.

2. Persiapan Teknis

    a. Audience
  • Kenali audience (tingkat pendidikan, usia, berasal dari kelompok sosial mana, latar belakang mereka apa, ...)
  • Perasaan dan harapan (apa yang sedang mereka rasakan, masalah apa yang sedang mereka hadapi, apa yang mereka harapkan setelah mendengar taujih dari kita).
  • Bicarakan apa yang mereka inginkan, bukan yang kita hendaki (bisa disesuaikan dengan masalah yang mereka hadapi dan penyelesaian yang mereka harapkan).

    b. Tujuan
         Berdasarkan tujuannya, taujih bisa dibedakan menjadi:
  • Taujih Informative: taujih yang disampaikan dengan tujuan untuk menambah tsaqofah atau wawasan baru.
  • Taujih Persuasive: taujih yang bertujuan untuk mendorong audience melakukan sesuatu,  memberi keyakinan, atau membakar semangat.
  • Taujih Recreative: taujih yang disampaikan untuk menghibur atau membuat audience senang.

    c. Jenis Penyampaian
  • Improptu; yaitu taujih yang dilakukan secara mendadak, biasanya untuk menggantikan seseorang, sehingga biasanya tidak sempat mengumpulkan dan menyiapkan materi.
  • Manuscript; yaitu taujih yang dilakukan dengan membaca naskah. Biasanya naskah disiapkan oleh orang lain, sehingga kita harus sudah membaca naskah tersebut minimal 1x sebelum tampil menyampaikannya.
  • Memoriter; yaitu taujih yang sudah dihapal
  • Ekstempore; yaitu taujih yang materinya sudah disiapkan berupa outline atau garis-garis besar, dan sudah disiapkan sebelumnya. Persiapan ini yang paling baik.

setelah tau hal-hal di atas, apa yang harus kita lakukan??

Cari Materi dan Kuasai
  • Sesuai dengan lata belakang pengetahuan pemapar
  • Menarik minat dan paling disenangi pemapar
  • Menarik minat publik/audience
  • Sesuai dengan pengetahuan pendengar
  • Sesuai dengan ruang lingkup dan pembatasannya
  • Sesuai dengan waktu dan situasi
  • Dapat ditunjang dengan alat bantu atau media lain

Susun Materi
     Sebenarnya susunan taujih yang baik hampir sama dengan susunan pidato pada umunya, antara          lain:
  • Pembukaan
  • Isi / Pesan yang akan disampaikan
  • Penutup


Performance
Well, ini penting... yah, ga bisa dipungkiri bahwa kesan pertama dan penampilan itu penting. Kita bakal sulit ngajak orang untuk melakukan kebaikan kalau mereka sudah memasang barrier atau pembatas gara-gara ilfeel liat penampilan kita yang berantakan. Nah, hal-hal kecil (yang berdampak besar) yang harus kita perhatikan sebelum tampil antara lain:
  • Pakaian, periksa.. jangan sampai ada bagian yang kusut atau bahkan robek.
  • Rambut khusus ikhwan.
  • Mulut, jangan sampai ada cabe yang nempel di gigi, cek juga bau mulut :)
  • Bau badan
  • Cara jalan dan duduk
  • Raut wajah
dan yang terakhir,

Cara Bicara
  • Pilihan kata / diksi
  • Artikulasi, jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lamban
  • Intonasi (kuat-lemah suara)
  • Speed
  • Jeda
  • Bicara melalui mata
  • Gerakan tangan
  • Mimik wajah

lalu setelah itu panitia membagi kami menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melakukan micro teaching dan mempraktekkan apa yang telah kami dapat sebelumnya. Asik, bener nambah imu buat penyampaian ke adik-adik lah ini. 

Jangan lupa, 
bila kita gagal dalam bersiap, maka bersiaplah untuk gagal.

makin hebat seorang pemapar, akan semakin cermat persiapannya.

mereka yang naik tanpa kelelahan, akan turun tanpa kehormatan.

Well, itu aja sih. 
Semoga bermanfaat! :D
Read More...

Sabtu, 23 Februari 2013

Pembentukan Karakter Anak

Leave a Comment
Ini pernah saya baca di sebuah buku psikologi yang saya lupa judulnya (sudah lama, sejak SMP). Dan sejak saat itu saya sadar, parenting itu ga gampang. Makanya saat sekarang saya berkecimpung ke dunia anak-anak dan remaja, saya banyak terbantu dengan ini untuk mengetahui dan sedikit-sedikit membentuk karakter mereka.

  • Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
  • Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
  • Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
  • Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar pengadilan.
  • Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan harapan, ia belajar cinta dan kehidupan.

Read More...

Jumat, 22 Februari 2013

ini hanya fiksi (2)

Leave a Comment
Menunggu


Kulirik jam digital di layar telepon genggamku, jam 4 lebih 7 menit. Aduh, sudah terlambat sejak janjiku untuk menemuinya. Padahal aku yang mengajukan jamnya. Dia yang memilih tempat. Aku tahu, waktu itu dia hanya pura-pura berpikir, berpura-pura mencari tempat, padahal dia selalu memilih tempat itu, selalu, selama setahun ini. Kupercepat langkahku menuju selasar masjid kampus. Setengah berlari sambil dalam hati berdoa supaya dia masih di tempat kerjanya, sedang ada rapat mendadak atau bosnya tengah girang lalu membagi-bagikan donat dan memaksa makan bersama seluruh karyawannya. Aku tidak suka ditunggu. Membuatku terlihat bodoh.

Tapi doaku memantul, dari ujung selasar sudah terlihat kemeja hitam kotak-kotaknya. Aku manyun. Dia tengah membaca entah apa dari smartphone-nya.
"Assalamualaykum. Mas, maaf... sudah lama?"
Dia menoleh, tersenyum lebar, "Baru juga datang. Sudah shalat?"
Aku menggeleng cepat. "Belum, tadi abis nempel pamflet langsung kesini. Sebentar ya, aku shalat dulu. Titip tas ya, mas."
Dia mengangguk. Aku berlalu.

Selesai shalat aku beranjak kembali ke selasar, tapi dia sudah tak ada disana. Hanya ada tasku tergeletak sendiri di lantai. Aku masuk kembali ke dalam masjid, melongok-longok ke arah jemaah ikhwan, tak ada.

20 menit aku menunggu sendiri di selasar masjid. Ada tanda pesan masuk di layar handphone-ku. 
"Maaf, aku mendadak harus pergi. Tapi aku serius, ada hal penting yang ingin kusampaikan. Bisakah datang lagi ditempat yang sama besok?"
Aku tersenyum.



Malang, 22 Februari 2013

#fiksi #malang #aku #masjid

Read More...

Rabu, 20 Februari 2013

ini hanya fiksi (1)

Leave a Comment
Kado


Aku ingat betul hari itu. Waktu itu sebuah hari di bulan Juni. Sore itu sedang hujan, aku duduk memandang ke luar jendela kamar, menghitung tetes-tetes hujan yang menetes di kaca. Lalu segalanya menjadi terang, kelewat terang, silau tepatnya. Ah, sebuah kilat yang besar. Aku mengalihkan pandangan untuk menyelamatkan mata, lalu mataku tertumbuk pada sebuah bungkusan di atas meja. Sudah lama berada di sana. Seminggu lalu kalau tak salah ingat. 

Dibungkus kertas coklat polos, tapi tak sesiapapun yang tahu, kecuali aku dan Tuhan-ku bahwa dibalik kertas coklat itu masih ada kertas kado berwarna krem, dengan motif bunga-bunga. Iya, itu adalah sebuah kado berisi buku yang tempo hari aku beli saat tengah iseng menyelinap di toko buku besar. Tahu-tahu aku sudah di berada di depan kasir, membayar harga 2 buku tersebut. Dua? Aku mungkin sudah gila. Terkena virus orang-orang itu, mungkin. Menganggap benda-benda yang couple itu romantis. Tapi toh, akhirnya aku bungkus juga satu dari buku itu. Hendak dikirim ke entah siapa yang mengganggu pikiran yang kebetulan tengah bersedih karena 10 hari sebelumnya jatah umurnya berkurang. Aku ingin menghiburnya, menelponnya dan berbicara lama-lama dengannya mungkin. Tapi tidak kulakukan karena aku sadar, aku perempuan yang masih memegang agama.

Keesokan harinya setelah sore hujan itu, aku pergi mengirimkan kado itu tanpa sebaris pun pesan melalui jasa pengiriman barang milik pemerintah. Biar saja sedikit lebih lama sampai disana. Jadi aku masih punya waktu untuk mengarang alasan seandainya dia nanti bertanya mengapa aku mengirimkan kado buku itu. 

Dan tahun ini, saat bulan-bulan mulai bergerak ke arah sana, aku memutuskan mungkin tidak mengirim apa-apa lewat jasa pengiriman barang milik pemerintah itu lagi.  Aku akan mengirim doa saja. Lebih aman kupikir, karena perantaranya langsung Tuhan Yang Maha Tahu.


Malang, 20 Februari 2013

#fiksi #malang #aku #jauh

Read More...

Rabu, 23 Januari 2013

Memorial Field

Leave a Comment

letaknya persis di seberang rumah, dengan luas 400mx400m + jogging track dari kerikil kasar disekelilingnya. mungkin bagimu itu hanya lapangan biasa, tapi bagi saya, lapangan itu adalah halaman bermain dan tempat saya tumbuh. tak terhitung hal yang sudah saya lakukan di sana, seingat saya, saya pernah:

- menggembala kambing bersama Bapak sejak saya SD
- mencarikan rumput untuk kelinci saya
- jogging minimal 3 putaran setiap minggu pagi
- jalan pagi tanpa alas kaki diatas kerikilnya
- belajar mengendarai motor di rerumputannya
- mencari bunga-bunga liar untuk dirangkai
- melarikan sepeda punya anak tetangga sebelah
- menerbangkan layangan  jika sedang musim angin
- latihan jadi pengibar bendera 
- main bola dan perang-perangan dengan anak-anak kompleks
- nonton bapak-bapak tentara upacara bendera kalo sedang libur sekolah
- nonton ibu-ibu latihan wayase dan yospan
- teriak-teriak dari ujung lapangan dan dibalas teman dari ujung lainnya
- mengumpulkan 1 botol embun dari rerumputannya
- balapan mobil tamiya di track yg kasar sampai mobilnya terbalik dan rusak
- nonton layar tancap
- liatin orang main sepak bola
- ngeliat bintang pas malam minggu
- terbirit-birit dikejar ular kaki empat

- and many more crazy things :)


hahahaa, dan kemudian saya bersyukur sekali pernah merasakan masa-masa itu, setidaknya masa kecil saya bahagia dan pernah bandel.

beberapa bulan lagi insya Allah bapak dan Ibu akan pindah rumah. Meski jaraknya cuma sekitar 700an meter dari rumah sekarang, tapi mungkin saya tidak lagi akan datang dan melihat lapangan itu. 
terima kasih sudah menjadi bagian teman main saya :) 
Read More...

A Note from My Little Island (2)

Leave a Comment

ini ditulis saat banjir tengah mengepung ibu kota kita, Jakarta. dan kemudian muncul selentingan tentang ketidaklayakan Jakarta sebagai ibukota, dan wacana perpindahan ibukota negara.

di linimasa, saya sempat membaca kicauan beberapa teman tentang usulan untuk memindahkan ibukota ke Malang. oh, pleaseee.. meskipun itu hanya gurauan, saya tidak setuju! yah, memang Malang sangat nyaman untuk ditinggali, dan cukuplah itu. saya sudah cukup nyaman dengan Malang yang sekarang, dengan orang-orang yang saya kenal, jalan-jalan dan gedung-gedungnya sekarang. tidak terbayangkan jika kemudian Malang menjadi ibukota negara: jalan-jalan bertambah macet, orang-orang bertambah padat, gedung-gedung pencakar langit didirikan, ... absolutely disagree!!

kalau memang ibukota akan dipindahkan dan sedang mencari lokasi barunya, dan kalau saya boleh berpendapat, boleh lah di Papua. 
mungkin kalian bertanya, "kenapa Papua?"
dan akan saya kembalikan, "kenapa tidak?"

well, Papua juga wilayah Indonesia, dan dengan wilayah yang luas dan belum terjamah. Dan mungkin lebih baik sekalian kalau perpindahan ibu kota itu juga beda pulau, as you know lah.. Pulau Jawa itu sudah sangat padat, kawan dan agar pembangunan itu juga merata ke seantero negeri. Biar masyarakat Papua juga bisa merasakan apa itu modernisasi dan metropolitan, seperti yang biasa didengung-dengungkan lewat media.
dan agar Papua tidak lagi dipandang sebelah mata.

yah, meski memang banyak yang harus dibenahi dan ditinjau ulang kembali, misalnya infrastruktur, kepemilikan tanah adat, jalur akses dan transportasi, kualitas SDM, ketersediaan SDA, dan lain-lain.
toh ini hanya opini saya sebagai salah satu dari jutaan masyarakat Papua dan Indonesia pada umumnya :)
Read More...

A Note from My Little Island

Leave a Comment

Hello, this is me again! this is about my 13 days in my hometown, Biak.

Saya tiba di pulau kecil di belantara Samudera Pasifik ini 11 Januari 2013 pukul 8.15 WIT, setelah terbang sekitar 255 menit dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya + 45 menit transit di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

dalam perjalanan pulang dari Bandara Frans Kaiseipo yang hanya memakan waktu 15 menit ke rumah, saya cukup melihat beberapa perubahan yang terjadi sepeninggalan saya selama beberapa tahun terakhir, antara lain:
1. pelebaran jalan dan pembuatan batas ruas jalan yang dilakukan sepanjang jalan utama, dan penggunaan solar cell dan sensor cahaya untuk lampu jalan.
2. tulisan "MESS GUNADI" (Mess TNI AU tempat saya tinggal selama dikarantina saat Paskibra dulu) telah diubah menjadi "AIR FORCE".
3. ATM Center di Swalayan Hadi yang bertambah banyak.
4. udah ada papan petunjuk jalan di setiap persimpangan, hahahaa keren :)

selain itu saya ngantuk, jadi tidak memperhatikan, hehee :D

keesokan harinya perihal pelebaran jalan itu saya tanyakan kepada ibu saya. karena saya merasa pelebaran jalan bukan sesuatu yang urgent untuk dilakukan, mengingat kuantitas kendaraan yang tidak begitu banyak di sini. Biak toh tidak pernah mengalami macet. dan jawaban ibu saya cukup satu kata: Pembangunan.

yah, tapi ini tetap Biak, kota kecil di pulau kecil di provinsi yang paling jauh dari pusat metropolitan Indonesia.. dimana semua bahan-bahan yang dikonsumsi penduduknya mulai beras sampai alat transportasi hampir semua didatangkan dari tempat lain, dengan jumlah dan pilihan yang sangat terbatas. Masalah pertama yang saya temukan adalah saya tidak bisa menemukan facial foam yang biasa saya pakai bahkan di swalayan terbesar kota ini. terus saya harus mencari kemana lagiiii?? ok, ini bisa jadi first world problem! :p

kemudian masalah kedua akibat pendatangan barang-barang dari tempat lain tadi adalah: harga. 
oh, meeeen... serius banget ini weh. kerasa sekali jika sudah beberapa lama tinggal di suatu tempat dengan harga segala macam yang terjangkau (dalam kasus saya, Malang) lalu kembali ke Biak: mahaaaaal!! expensive!! 
contoh kecil perbandingan harganya adalah: di Malang sayur hijau dihargai 500 rupiah per ikat-nya, sedang di Biak seikat sayur hijau harganya juga 500, tapi dengan tambahan 1 lagi angka 0 dibelakangnya, yups, 5000 rupiah.
barang lainnya selisihnya bisa 5000-10000 rupiah, dan untuk kendaraan bermotor roda 2 selisih harganya bisa sampai 7.000.000 rupiah.
nah, buat saya yang sedang pelit karena (pura-pura giat) nabung, akhirnya akan banyak seru-seruan "haaaa.. mahal! ga jadi beli deh, ntar aja belinya pas balik ke Malang!" hahaa..  kalo sudah begini biasanya Ibu yang ngebeliin :p

satu lagi, BBM adalah sesuatu yang sedikit langka di sini. FYI aja, saya pernah baca ini di status facebook seorang teman saat ramai-ramainya wacana kenaikan harga BBM oleh Pemerintah beberapa waktu lalu:
"Interesting view point dari Papua yang perlu dibaca oleh para pendemo BBM:
'Kami masyarakat Papua SETUJU kenaikan BBM Rp 8.500/liter pun tak jadi masalah yang penting POM bensin jangan kosong...
Toh kami sudah terbiasa membeli bensin eceran yang harganya Rp 18.000 lebih.
Hingga kalau kekosongan kami bisa beli bensin hingga Rp 70.000 per liter. Jadi kalian masyarakat Jawa, sebelum demo BBM naik, Coba pikirkan nasib kami yang tinggal di daerah.
Minyak kami kalian sedot untuk supply ke Pulau Jawa, sedangkan kami  kekosongan di POM bensin bahkan sampai berminggu-minggu sudah hal biasa. kalian di Pulau Jawa kekosongan di POM baru 1 atau 2 hari, sudah ribut luar biasa. Di liput semua media...
Ingat!! Indonesia bukan hanya pulau Jawa, ada 17,000 pulau lagi...
yang setuju silahkan sampaikan kepada yang lain...
Terima kasih.
qoute from Andres Yuliandi.' 

benar, saya setuju. di Biak ini hanya ada 2 SPBU, dan setiap hari antriannya membludak hingga ke jalan-jalan. bahkan tidak jarang SPBU itu sudah tutup sejak pagi karena kehabisan BBM setelah 2 atau 3 jam buka.
Indonesia itu yang mana? Jakarta sana? atau se-Pulau Jawa? atau yang seperti katanya nenek moyang kita, dari Sabang di ujung Pulau Weh sampai Merauke? 

but well, di luar masalah itu semua saya rasa masyarakat Biak adalah orang-orang yang qonaah atau nrimo. menerima segala kondisi kota Biak ini dan membangun zona nyaman mereka atas itu. mereka tetap nyaman dengan segala keterbatasan akses dan ketersediaan kebutuhan konsumsi, tetap nyaman dengan harga-harga yang selangit, tetap nyaman dengan pembangunan dan perkembangan teknologi yang sangat lamban, tetap nyaman dengan semua itu. 

dan ini sungguh membuat saya bersyukur sekali diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan di Malang, di mana semuanya tersedia dengan harga yang terjangkau. 
Alhamdulillah.. 
Read More...

Rabu, 09 Januari 2013

Kisah dibalik ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’

Leave a Comment
ini tulisan yang saya copy-paste dari sini dan kenapa saya pikir saya perlu meng-share kembali tulisan ini adalah karena tokoh utama di tulisan ini, alm. Chrisye adalah salah satu penyanyi favorit saya. 



Kisah dibalik ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’


Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Chrisye atau Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah sastra HORISON:
 Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah.

Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, “Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.


Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi ,A’udzubillahiminasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ’alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!


Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon, “Chris, alhamdulillah selesai.” Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.


Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.


Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye–Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:


Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.


“Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.


Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!


Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.


Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!


Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.


Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.


Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.


***


Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.


Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ’kan?”


Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.


***


Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.


(Source: eramuslim.com)



lirik lagunya sendiri:

Akan datang hari  mulut dikunci, Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita


Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya tanggung jawab, tiba…


Rabbana
Tangan kami, kaki kami, mulut kami mata hati kami
Luruskanlah, Kukuhkanlah, di jalan cahaya sempurna


Mohon karunia kepada kami, HambaMu yang hina


 coba dengarkan dan hayati lagu tersebut... kalo dengerin lagu ini ga bikin Anda menangis, ................. (silahkan asumsikan sendiri)

Read More...

Senin, 07 Januari 2013

φως' confession

Leave a Comment

Halo! Salam kenal, makhluk bumi.

kalian mungkin belum kenal siapa akika. Nama akika φως, akika adalah makhluk dari planet Anobiakrotos dari galaksi Dubipapuadem. Akika ditugaskan ke bumi untuk mengawasi kalian. Selama di bumi, akika terperangkap dalam tubuh seorang perempuan yang kalian biasa memanggilnya Nursih. Kali ini akika mau cerita tentang induk semang akika, si Nursih ini.
Nursih, gadis bumi yang aneh. Akika lihat dia suka memperhatikan tingkah laku dan remeh temeh dari orang-orang disekitarnya; mulai dari cara berjalan, cara makan, cara memilih kata dalam berbicara, sampai cara mereka ngupil. Lalu dia mulai berasumsi dalam diam, mencoba menarik benang merah dari segala penelitian tak berdasarnya, berusaha mengira-ngira sifat dan watak mereka.

Nursih ini payah, mengira dirinya perempuan tangguh, mandiri, bisa mengatasi semuanya sendiri… haha.. yang benar saja! Yah, dia memang hampir tidak pernah menangis di depan orang lain, tapi –sungguh, ini diantara kita saja ya saat dia sendiri, tak ada yang tau kan? 

Er, ya.. tapi akika rasa dia memang mandiri, setidaknya sekarang. Kalian tau, dulu saat kakaknya, Nurdin, masih di pulau sini… sungguh mati, dimanja benarlah dia! Akika rasa dia punya prinsip: untuk sekarang, hanya ada dua lelaki yang boleh dia repotkan: ayah dan kakaknya. Selain itu, tak ada lah, kecuali nanti, saat dia sudah menemukan seorang lagi, suaminya. Karena itu dia jarang meminta bantuan, bahkan saat pindahan kost, saat masang parabola di genteng lantai 2, saat harus ngirim 2 kerdus paket dengan naik motor, sungguh, akika tak habis pikir dibuatnya!

Setau akika nih ya.. Nursih ini suka sekali dengan gunung dan pantai, suka juga dengan coklat, keju, dan duren. Dan suka bunga juga, tapi bukan bunga potong. Kasihan katanya, bunga secantik itu harus dipaksa mati. Yang jelas selama menginang di tubuh Nursih, akika sering kelaparan. Jarang dia makan, sok sibuk benar dia. Tapi suka sekali dia ngemil, tapi juga tak bisa gemuk. Hahaa… sudah akika bilang kan, induk semang akika, si Nursih itu aneh!

Ah, ya… sudah dulu ya.. akika mau laporan sama boss akika di planet Anobiakrotos tentang kelakuan orang-orang bumi yang semakin apatis. Apatis pada keluarganya, pada alam lingkungannya, pada segala disekitarnya. Akika rasa bumi bukan lagi planet yang indah untuk ditinggali. Kalian mau pindah ke planet akika?

Read More...

Kamis, 03 Januari 2013

Gunung-Pantai

Leave a Comment
Gunung; meninggi untuk melihat siapa yang datang dan bersungguh-sungguh ingin bersahabat.
bukan menakhlukkan, karena kita-lah yang menakhlukkan ego dan sombong kita pada gunung, kita takhluk pada alam.

Pantai; merendah agar terjangkau sesiapapun. namun keindahannya tetap mengikat, seperti tapak yang kau tinggalkan di pasirnya.
Read More...

Minggu, 23 Desember 2012

hari Minggu ini terbuat dari:

Leave a Comment
well, ini random dan ga penting... jangan dibaca!

~ belum bisa membedakan antara Jl. Papa Biru dan Papa Kuning 

~ ngajar shift extra pagi + rapat evaluasi

~ "bicara yang baik, atau diam!"

~ "dengan begini pun insya Allah antum sudah melaksanakan butir pengamalan UUD 1945: ikut mencerdaskan kehidupan bangsa."

~ "biar ilmunya juga ga asal lewat telinga kanan ke telinga kiri, ukh.. jadi bisa jadi amal buat antum."

~ makan kue nagasari lagi setelah 7 tahun #InfoPenting

~ survey harga carrier, sepatu lapangan, dll. ke Cartenz Gajayana, Rei, Eiger1, dan Eiger2 di M.T. Haryono.

~ nemu carrier Consina 60L kuat, terjangkau.. tapi warna ungu terong -___-"

~ maen ke distro outdoor gears itu lebih menggoda iman dan kantong ketimbang maen ke distro baju.

~ mantengin duren sepanjang Dinoyo

~ "Allah sudah menggariskan rezeki setiap umatnya, kita hanya tinggal menjemput, bukan lagi mencari."

~ "ada banyak jalan menuju Roma, tapi mungkin pula Roma-ku dan Roma-mu juga berbeda."

~ "sudut pandang kita berbeda, mungkin kau melihat melalui teleskop, sedang aku mengintip dari sedotan."

~ "terserah kalo loe pikir gue kolot, tapi buat gue hal-hal kecil kaya' gitu prinsipil banget."




Malang,  23 Desember 2012



atas nama sebuah jiwa merdeka,
Nursih D. Hastuti
Read More...

Minggu, 16 Desember 2012

Variable Bebas

Leave a Comment

ini cuma iseng... jangan berharap banyak.

kau sudah mencoba berhati-hati... namun kau tetap ditabrak orang lain.
kau sudah mencoba cepat .. namun kau tetap dibuat menunggu oleh orang lain.
kau sudah mencoba antri... namun kau ditelikung orang lain.
kau sudah mencoba merencanakan semuanya... namun dibuyarkan orang lain.

nasib?
bukaaaan... saya tak sedang bercerita tentang nasib, takdir, ataupun apalah itu namanya
ini murni tentang variable bebas...

nah, ditilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, variable bebas sendiri artinya:
"faktor, hal, atau unsur yg dianggap dapat menentukan variabel lainnya; "

itulah.. setau dan sepengalaman saya, di dunia ini ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, hal-hal diluar jangkauan kita, sesuatu yang tak dapat kita atur... dan saya suka menyebutnya: variable bebas.

itu saja. terima kasih.
Read More...

Kamis, 29 November 2012

Itu Pilihan, Dek..

Leave a Comment
Malang, 29 November 2012
selepas Subuh yang tidak dingin..

telat 1/2 jam (sumpah, ini parah) datang ke Halaqoh gabungan kemarin sore yang ternyata hanya berisi 3 orang:
saya, Rohmah (FK UB 2009), dan Atifah.
lalu sambil nunggu mbak Iin menuliskan materi di whiteboard, kami bergantiian menyetor hapalan.

"Degg.. astagfirullah, ga siap.., belum hapalan :(" dalam hati, malu pada mereka, terlebih diri  sendiri.
akhirnya saya memutuskan untuk murajaah... dan yang saya takutkan terjadi...
salah satu surah yang dulunya saya hapal mulai mbulet di bagian tengah. astagfirullah... selanjutnya bacaan saya pun terus-terusan dibenarkan oleh Rohmah yang menyimak.
"kalo udah hapal, trus ilang itu dosa ya?" tanya Rohmah pada saya.
"iya..." jawab saya lemah.
"kalo sengaja ya dosa, dek..." timpal mbak Iin dibalik whiteboard. "Sebenarnya mau hapalan atau tidak, mau murajaah atau tidak, itu semua pilihan, dek... semua kan punya konsekuensinya. kalo mau dijaga oleh Allah, ya hapalan Qurannya juga harus kita jaga. Kalian mau tidak bikinin ortunya jubah kemuliaan di akhirat nanti?"
Saya dan Rohmah sudah berderai-derai. Atifah yang lulus murajaahnya tersenyum.

astagfirullah, astagfirullah, astagfirullaaaah...

hayoooo, Nursiiiih.... !!!!!
jangan sok sibuk sendiri untuk sekedar dunia!
Read More...

Jumat, 23 November 2012

November Ceria

Leave a Comment
Malang, November 2012

Bismillahirrahmanirrahim...


Apa kabar sahabat? sehat semua kah?? alhamdulillah... ini adalah bulan yang sangat menyenangkan buat saya. penyebabnya? teteh saya datang berkunjung. eemmm...aslinya karena beliau mau ke acara di Semeru yang diselenggarakan Avtech sih, tapi tak mengapa, bukankah bertemu saudara adalah kebahagiaan buat saya?

beliau dan rombongan datang Rabu lalu (14/11). dalam rombongan tersebut ada 2 akhwat (teh Sari dan teh Ai) dan 3 orang ikhwan (kang Pras, kang Burhan, dan kang Fery). teh Sari dan teh Ai sementara tinggal di kostan saya, dan yang ikhwan-ikhwannya alhamdulillah dapat tumpangan di tempat kenalan kang Pras, mas Mahya. setelah bebersih, malamnya kami wisata kuliner di Bakso Bakar lalu mencari tempat penyewaan tenda karena yang beliau bawa dari Bandung cuma 1. uniknya saat itu kami para akhwat sama-sama memakai kerudung hitam Rabbani, padahal ga janjian lho :)


Kamis pagi (15/11) beliau berlima langsung naik ke Semeru, sedih sih ga bisa ikut... pagi itu saya ada agenda bersama KOLAM, rapat BPH sekaligus piknik di kebun teh Wonosari, Lawang. tapi kemudian jadi watir sendiri, soalnya pas siangnya langsung hujan... kepikiran sama beliau2 yang sedang otewe ke Semeru.
Alhamdulillah... semuanya baik-baik saja sampai turun dari Semeru lagi hari Sabtu malam (17/11).  dan ketambahan lagi seorang pendaki dari Jogja, mbak Yuyun. Esok Minggunya (18/11) semuanya pada riweuh mau ke Pulau Sempu, mulai dari nyari sewaan motor lah, nganterin mbak Yuyun ke terminal yang langsung mau pulang ke Jogja, ngubek-ngubek FO Eiger nyari sendal buat teh Ai, sampai nyiapin kejutan buat milad kang Burhan...

Akhirnya kami jadi berangkat ke Sendang Biru-Pulau Sempu jam 11 siang, molor 3 jam dari rencana awal. kata ikhwannya, akhwat ga boleh bawa lebih dari 1 carrier, semua logistik ditanggung ikhwan.. heu...padahal biasanya kan malah para lelaki ga mau tau soal bawa makanan, taunya  pas makan aja kan? beda sekali sama ya :) jadi bawaan ikhwan termasuk tenda dan logistik jadi 2 carrier, total kami bawa 3 carrier. saya dibonceng teh Sari, teh Ai dibonceng kang Pras, dan kang Burhan sama kang Fery. er yah... kami berangkat ber-6, 5 anak Bandung dan saya, anak Malang (uhuk..ngaku-ngaku) yang juga belum pernah ke Sendang Biru. lalu, gimana? pakai GPSnya kang Fery.

awalnya lancar-lancar aja sih... sempat kelewatan jalan karena teh Sari yang ngebut... akhirnya diputuskan bahwa yang di depan adalah yang megang GPS, kang Fery + kang Burhan, lalu teh Sari dan saya di tengah, dan paling belakang kang Pras dan teh Ai. Sekitar jam 1 kami sampai di rumah saudara kang Pras di Talok. ishoma dan 'ngerampok' makanan buat dibawa ke Sendang Biru. lalu ngelanjutin perjalanan... yang kemudian ga tau gimana awalnya, akhirnya kami keluar dari jalan besar dan nyasar di perkebunan karet yang saya lupa namanya.. jalannya benar-benar setapak berbatu... dan orang-orang yang kami temui pada heran kenapa kami mengambil jalan tersebut.
















beberapa jam kemudian kami sampai pada jalan yang benar dan mulai melaju mengejar sunset dan  pemberangkatan perahu terakhir ke Pulau Sempu. tapi yah... pada akhirnya kami sampai di Sendang Biru jam 6.16 dan sudah tidak ada perahu lagi yang berangkat. setelah koordinasi ulang, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di tempat parkir. jadi itu ikhwannya tidur di dipan trus akhwatnya tidur dalam tenda.

sepanjang malam itu pula diberlakukan jadwal piket secara berpasangan. piket pertama teh Ai dan kang Burhan dari jam 20.30-23.30, lalu giliran saya dan kang Pras 23.30-02.00, dan terakhir teh Sari dan kang Fery 02.00-04.00.... (tapi yang terakhir curang nih, masih jam 3an lebih saya udah dibangunkan dan malah mereka yang ganti tidur) :P

akhirnya jam setengah 5, kita udah selesai shalat Subuh dan langsung bersiap menuju pulau Sempu. ngebongkar tenda, ngepacking carrier lagi, dipaksa minum vitamin B dan C sama kang Burhan, ngantri WC, nyari guide, dsb. nah, pas kita lagi nunggu sarapan ini, kang Pras minta kang Burhan supaya ngejagain barang-barang yang mau dititipin ke kantor perijinan. trus kita berlima nulis-nulis kartu ucapan buat beliau... hehhe... jahat ya?

akhirnya kami dapat perahu dengan harga sewa Rp. 100.000 untuk pp pulau Sempu, dan sewa Guide yang juga Rp. 100.000 untuk sehari perjalanan (tapi hati-hati, biasanya mereka akan minta tambahan pada pengunjung baru dengan alasan pantai yang dikunjungi banyak).

kami tengah berada di atas perahu sekitar jam 6.40, ternyata hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk menyeberang ke Pulau Sempu. setelah itu kami langsung treking ke tujuan pertama dan utama: Segara Anakan. kata kang Pras artinya 'anak laut'. butuh waktu sekitar 80 menit lah kalo treking santai sambil foto-foto. lumayan berkeringat sih jalurnya. tapi waaaa.... pas kamu lihat waaaa.... airnya itu lho, waaaa...... demi Allah, yang menciptakannya, itu asli indah banget!!






airnya jernih banget, pasirnya putih nan halus, lalu banyak geng-geng ikan-ikan kecil berenang. berhubung kami datang pada hari Senin (19/11) maka Segara Anakan itu sepi banget... serasa punya pulau pribadi lah... asik banget buat berenang, nyobain foto-foto pake underwater camera, lari-lari di pasirnya...
aaah...benar-benar secuil surga yang jatuh ke bumi :)

Kemudian dari Segara Anakan kami terus bergerak menyusuri pulau menuju pantai Kembar 1, Kembar 2, dan Pantai Panjang. Aiiiih... benarlah, Pulau Sempu itu aslinya ga bakal puas dinikmatin dalam sehari... Pulau seluas 277 hektar ini pantai-pantainya masih perawan banget dan hutannya juga masih fresh... sayang, di perjalanan kita sedikit banyak akan menemukan sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung. please deh... sampah kalian itu lho ya!!

Mengejar matahari yang semakin tinggi... kami cuma sebentar saja di tiap pantai, karena target balik ke Malang sekitar jam 1 siang. jadi ada waktu untuk makan siang dan bebersih dulu, lalu bisa sampai Malang sebelum gelap. Terakhir di Pantai Panjang, kami memberikan kejutan buat kang Burhan yang kemarinnya (18/11) berulangtahun. ah, walaupun cuma sepotong roti dan 6 lembar kertas warna-warni bertuliskan doa, tapi kalau diberikan secara ikhlas dan di pantai yang indah itu rasanya kereeeeen banget!!
belum puas di Segara Anakan-nya :( harus bikin Segara Anakan season 2!!!
#tekad #kepaltangan

other picts:







kita semua harus melewati tangga kayu lapuk ini lho... :)


Read More...

Sabtu, 17 November 2012

Kau Pikir Mudah Menjadi Perempuan, Nak?

Leave a Comment

Malang, 17 November 2012

Bismillah,
sedang hujan di luar sana dan uhuk-uhuk saya yang yang masih betah di tenggorokan. As usual, scrolling di dashboard tumblr dan nemu tulisan ini:
Kau pikir mudah menjadi perempuan, nak?
Ketika ada banyak kebaikan yang ingin kau beri tapi mereka yang centil menyalah artikan kebaikan menjadi semacam perhatian.
Kau pikir mudah menjadi perempuan, nak?
Ketika ada banyak ilmu yang ingin kau curi, tapi sekali lagi khawatir menjadi fitnah diri.
ya, sulit nak menjadi perempuan. Tentulah yang aku maksud disini adalah perempuan terjaga.
Mudah saja bagiku mungkin untuk foya-foya, pesta pora, dan mencari-cari cinta pada banyak pria. Tapi nak, aku tak mau menjadi bagian dari perempuan ahli neraka.
ya, begitulah, sulitnya menjadi perempuan. Tentulah yang aku maksud disini adalah perempuan beriman.
karena dari merekalah awal kehidupan mulia dimulai.
Kau tahu nak, hal yang paling menyedihkan adalah ketika kau menjadi sumber dosa bagi manusia lainnya. Perempuan adalah makhluk yag rentan menjadi fitnah. Ini jelas ada dalam al-qur’an sayangku. Kita ini bisa menjadi fitnah.
kau jatuh cinta, dia pun mencintaimu, tapi belum waktunya, ini fitnah. Ini bisa menjadi sumber dosa.
karenanya nak, tak usah peduli mereka yang mengataimu memutus silaturahim, kau tahu perempuan harus tegas atau nanti mati terlindas.
karenanya nak, tak usah risau jika mereka bilang kau perempuan galak, kau tahu perempuan harus berani atau mati tanpa harga diri.
karenanya nak, tak usah peduli pada dunia yang mencercamu tak laku, kau tahu mulia tidaknya manusia bukan pada mereka yang ahli merayu.
Karenanya nak, jangan marah jika penjagaan padamu begitu kerasnya. karenanya nak, jangan sedih jika larangan untukmu begitu banyak.
Itu karena kau indah. Itu karena kau begitu berharga.
Karenanya nak, bersyukurlah jika kau tak lagi menjadi fitnah bagi siapapun.
Karenanya nak, berdoalah agar segera kau terjaga, segera kau mempunyai penjaga yang setia.
Menjadi perempuan itu nak, mudah saja. Tapi tidak begitu untuk menjadi mereka yang sungguh benar-benar terjaga.
Karenanya sayangku, teruslah mendekat padaNya…
Ada cinta disana.

aaaa... tetiba kangen kakak yang sewaktu masih di Malang banyak banget ngasih petuah dan ngelarang saya ini itu. Overprotective kata saya. Galak kata teh Sari :P
Bapak dan Ibu yang dari SMP dulu udah mewanti-wanti macem-macem... awalnya saya merasa terkekang, temen-temen saya bebas main sepulang sekolah, pacaran, nongkrong di pinggir jalan, pulang malam, tapi saya ga boleh. Nah, beberapa tahun terakhir ini terasa sekali bahwa memang perempuan itu harus 'terjaga'.
Yaaah... dan kemudian kerasa sendiri, itu semuanya buat ngejaga saya.
:)

Ah, saya ingin menjadi perempuan yang terjaga.
#tekad #kepaltangan

sumber : 
http://aiziesharie.tumblr.com/post/35669839558/kau-pikir-mudah-menjadi-perempuan-nak
Read More...