Kamis, 04 Juli 2013

Behind the Scene #22

2 comments

"Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai." 
— Rasulullah SAW (HR. al-Bukhari, al-Adab al-Mufrid) 


Rabu, 3 Juli 2013 dini hari... harusnya saya belajar, karena beberapa jam setelahnya ada ujian komprehensif yang menunggu. Tapi di tengah penelaahan, tiba-tiba saya gusar. Hari ini ada dua sahabat saya yang merayakan hari lahirnya mereka ke dunia. Harus merencanakan sesuatu yang bikin mereka mereka merasa istimewa dan beruntung..tapi ngapain ya? 





mau bikin ucapan aja dulu  ah... ngetik-ngetik kalimat ucapan, print. Sip selesai, lega, mari kembali belajar. Paginya lalu dibawa ke kampus. Selagi menunggu ujian dimulai, saya menodong beberapa teman yang baik hatinya dan suka menolong untuk memegangi kertas-kertas tersebut, lalu saya ambil gambarnya. 

lalu menjalani ujian dengan lancar, selancar melaju di jalan tol.


Setelah selesai ujian, saya pulang dan mengapload  gambar-gambar tadi di akun tumblr saya (disini). Yatta!


tanpa disangka, Firdaus mengundang tasyakuran via sms. loh, lagi? malam sebelumnya sudah padahal. ok deh, sambil ngasih kado.  mumpung ada bookfair, beliin mereka buku aja kali ya... tapi kaya'nya kemarin mereka udah pada beli buku deh. Apa ya? Yaudah, sambil jalan aja deh mikirnya. Baru saja mau mengeluarkan motor dari garasi, seorang teman kost teriak, "Nursih, pinjam motornya dong. Mau nganter ponakan-ponakan pulang nih." 
Hahaa, keduluan ternyata. Motornya baru balik jam 4 sore, udah kesorean kalo mau muter-muter dan milih-milih dulu, akhirnya saya memutuskan membeli sebuah kue yang cantik di sebuah bakery. 


dan, setelahnya berlangsung seperti yang telah kita ketahui bersama :D

ok, hal terakhir yang mau saya tuliskan di page khusus kalian ini adalah:
Halo Firdaus dan Helga, selamat berbahagia. Jangan lupa menyempatkan diri untuk berkontemplasi tentang arti diri. Oiya, hari lahir adalah moment untuk mengenang kembali saat ibu kita masing-masing menggadaikan nyawa nya tanpa tanggung-tanggung demi menghadirkan kita di dunia. Dan juga saat yang tepat untuk mengingat ayah yang mungkin membisikkan harapan-harapannya yang besar pada kita. Salam manis buat beliau berempat ya :)
Selamat menempuh umur #22, semoga kita jadi orang baik yang berkuasa dan rajin bersyukur


Read More...

Selasa, 02 Juli 2013

marry ..... who reads

Leave a Comment

"marry a woman who reads"

yah, kalau kau pernah dengar atau baca, memang ada salah satu qoute seperti itu, "nikahilah perempuan yang membaca".  Jelas, karena perempuan itu akan menjadi ibu yang berarti juga sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jauh sebelum itupun saat dia hamil dia harus cerdas karena di tangannya lah kehidupan-kehidupan lain akan terbentuk. Jauh sebelum itupun dia harus menjadi istri yang cerdas dan bisa dipercaya oleh suami. Dan, jauh sebelum itu pun (dalam fase seperti saya ini), dia harus cerdas dan bijak menyeleksi calon suami.

Aduhlah... kalau menikah hanya masalah 2 atau 3 tahun saja, mungkin saya akan memutuskan melakukannya dengan siapa saja yang mengajak saya menikah untuk pertama kalinya. Untungnya Allah memberikan saya sedikit kesadaran bahwa menikah adalah ibadah, saat memutuskan menikah, harus ada keyakinan akan membangun peradaban baru yang lebih baik dan mendekatkan surga tentu saja.

Ok, beberapa bulan yang lalu saya standar saja memberikan kriteria untuk calon suami: cukup lelaki yang beragama dan mengamalkan Islam, jujur, serta mau bertanggungjawab atas saya di dunia dan akhirat. Simple kan? 

kemudian belakangan ini saya menambahkan 1 (saja) prasyarat lagi, yaitu: membaca. Mungkin saya terinspirasi dengan qoute diatas, sehingga akhirnya terbit: "marry a man who reads". Yah, baca apa saja sih, HAMKA, Quraisy Shihab, atau J. K. Rowling sekalipun. Tidak baca Paulo Coelho tidak apa-apa, asal masih baca Salim A. Fillah. Tidak baca Shakespeare tidak apa-apa, asal masih baca Tere Liye. Tidak baca koran tidak apa-apa, asalkan yang  paling penting dan utama, menjadikan Quran sebagai bacaan wajib setiap hari!

Kalo perempuan sebagai sekolah saja harus cerdas dan berwawasan luas,  gimana dengan kepala sekolahnya coba?




Read More...

Senin, 24 Juni 2013

Sistem

Leave a Comment
Saya khawatir kalau saya ini termasuk tipe-tipe orang yang merusak tatanan semesta.
Sejak beberapa tahun lalu saya percaya bahwa kehidupan ini tersusun atas sistem-sistem, dari cakupan yang paling mikro sampai yang paling makro. Dari yang sepele seperti bagaimana mencegat angkot sampai yang rumit bagaimana negara ini tetap berjalan. Saya sadar jika salah satu sistem terganggu, maka secara efek domino akan merembet ke sistem-sistem yang lain... one system broken, and the other gone. 

Saya khawatir saya secara sadar dan tidak sadar telah mengganggu lintasan dan sistem yang telah berlaku di semesta ini. Mungkin saja akan... saat orang lain mau ga mau harus nurut sama peraturan tata berpakaian di institusinya, saya berontak. Tidak mau. Bisa saja kan? Saat orang lain seenak jidatnya melempar sampah ke sungai, saya merengut tidak suka dan tidak mau mengikuti. Eh, tunggu... ini sistem seperti apa? Salah, salah.... sori, yang 2 tadi bukan sistem yang benar. Contoh nih: si A yang mau naik/turun memberhentikan angkot di mulut gang, bikin kendaraan yang sama-sama mau belok kesulitan lewat dan akhirnya terjadilah macet panjang. Karena macet panjang, si B jadi terlambat masuk kantor, jadilah dia dipotong gajinya oleh si Bos. Dengan gaji yang tinggal sedikit, B jadi ga bisa bayar kontrakan dan beli susu buat anaknya, jadilah dia memutuskan untuk nyuri sepeda motor tetangganya. 

Ok, mungkin contoh tadi agak lebay. tapi toh yang seperti itu fakta lho, dan menurut kamu berapa sistem yang rusak dalam kejadian di atas? Sehitungan saya sih 5.

Saya ga mau bikin kesimpulan apa-apa, biar saja menggantung seperti nangka matang di pohon, toh.. kalian sudah cukup pintar untuk menarik kesimpulan sendiri. Saran saya sih cuma: kita selalu hidup dalam sistem. Kalo ga bisa bikin sistem yang lebih baik, jangan mengusiknya.. ikuti saja, atau keluar.


 n.b:
Sistem yang saya maksud disini bukan berarti 'kebiasaan' loh ya... sistem yang saya maksud adalah bagaimana seharusnya sesuatu berjalan.


Read More...

Selasa, 18 Juni 2013

ini hanya fiksi (9)

Leave a Comment
Pernikahan Impian


Sehangat pelukan hujan saat kau lambaikan tangan, tenang wajahmu berbisik, ini lah waktu yang tepat untuk berpisah...
(SO7 - Waktu yang Tepat Untuk Berpisah)


13 Mei 2011

Sore ini cerah. Langit biru dan angin semilir berhembus. Aku duduk di bangku taman bersama seorang teman diskusi, Rian. Aku makan tahu crispy dan dia baca koran sore. Ada burung merpati yang hinggap di depan kami, aku melemparkan remah-remah terakhir tahu crispyku. Lalu entah bagaimana aku mulai bercerita teman pada yang duduk disampingku bagaimana pernikahan impianku nanti akan digelar. Mencoret-coret bungkus tahu crispy yang sekarang sudah jadi denah ruang pesta pernikahan impian. Rian menutup korannya dan mulai seksama mendengarkan. Kadang hanya manggut-manggut, kadang sesekali menambahkan detail acara, kadang pula hanya tersenyum memperhatikanku mengoceh sesuka hati. Lalu dia menutup ocehanku dengan sebuah pertanyaan ajaib mandraguna, "siapa yang bakal duduk bareng kamu di pelaminan?"

Aku langsung manyun, menatapnya dengan kesal... 'kenapa sih dia nanya itu?'
"Belum tau!" aku menjawab ketus. "Siapapun nanti yang duduk bareng gue, gue mau dia ga merokok, suka baca buku, dan bisa main sama anak-anak."
Rian tertawa, lalu bertanya "Kenapa?"
"Well, kalo dia merokok tandanya dia ga sayang sama gue dong... masa' iya gue diracunin tiap hari. Trus ya, kan enak gitu kalo punya suami suka baca, wawasannya luas, bisa sering-sering diskusi kan..."
"Kenapa harus bisa main sama anak-anak?"
"Ya biar dia ikut andil dalam ngebesarin anak-anak gue lah... emang sih, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya nanti, tapi tetep aja kepala sekolahnya sang ayah kan?
Rian tersenyum setuju. Lalu mengubah posisi duduknya sepenuhnya menghadap padaku. Berdehem dua tiga kali, lalu dengan lembut memanggil namaku.
"Rasti...."
"Hem... " aku masih sibuk dengan coretan di bungkus bekas tahu crispy.
"Gimana kalo itu aku?"
"Eh, apanya?" aku bingung.
"Darina Parasti, gimana-kalo-aku-yang-nemenin-kamu-duduk-di-pelaminan-?"ucapnya patah-patah.
Aku secara dramatis mengangkat kepala dan menatapnya. "Elo becanda jangan soal beginian dong.."
"Siapa yg becanda, aku serius kok. Aku merasa sudah memenuhi 3 syarat tadi. Pertama, aku ga pernah merokok. Kedua dan ketiga, kamu bisa tau sendiri lah, di rumahku ada berapa banyak buku dan adik-adikku, dan seberapa sering aku interaksi sama mereka.  Aku rasa kamu tuh harus dijaga dan sedikit diperbaiki, pelan-pelan dengan cinta pasti bisa. Dan aku mau ngelakuin itu, seumur hidup pun. Jadi, gimana... kamu mau jadi sekolah buat anak-anakku nanti?"

Merpati-merpati tadi sudah terbang pulang dan senja yang terbenam di sebelah barat sana sukses membuat pipiku semakin merona merah.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

20 Oktober 2013

Aku pelan-pelan menaiki tangga pualam putih menuju ruang resepsi.
Ruang resepsi itu megah,  dengan dekorasi dominan berwarna hijau-putih, seperti impianku.
Kain merah jambu panjang terpajang di pintu masuk, tempat para undangan bisa menuliskan doa dan harapan kepada sang pengantin, seperti impianku.
Ada rumpun bunga tulip putih segar di setiap sudut dan mengalun merdu lagu Teman Hidup dari Tulus, seperti impianku.
Semua tamu undangan yang datang duduk menikmati hidangan tersenyum bahagia, itu juga persis seperti impianku.
Ini sempurna resepsi pernikahan impianku... yang telah aku rancang dari bertahun-tahun lalu.

Rian terlihat paling bahagia. Tak henti-henti menebar senyum ke seluruh penjuru. Lalu saat melihatku, ia tertegun sebentar lalu senyumnya semakin lebar. Aku melambai sebentar ke arahnya dan bergerak maju menuju pelaminan.
"Selamat ya, Kin, Yan..." aku menyalami Kinar, adik juniorku di club sastra kampus dulu dan tersenyum pada Rian.
Kinar, yang tampak cantik sekali memakai gaun putih tersenyum, "Makasih ya mbak Rasti mau datang..."
"Iya, gue seneng banget Ras, elu dateng. Lu bareng siapa kesini?" tanya Rian.
Aku merasa ada jeda yang panjang. Aku mencoba tersenyum, dan menjawab, "Seperti biasanya lah... sendiri, Yan.. hhee.. gue seneng juga nerima undangan elu."

Tamu-tamu sudah banyak yang pulang. Aku yang ditahan agar tak pulang dulu oleh keluarga Rian akhirnya memilih duduk di kursi undangan dan membuka smartphone-ku, mengecek beberapa email yang baru masuk dari universitas tentang kepulanganku ke negara ini.
Kinar tampak sibuk meladeni teman-temen kuliahnya ngobrol di panggung, tertawa-tawa bahagia sambil sesekali membenarkan bouquet bunganya. Rian akhirnya memilih turun dari panggung dan duduk dua bangku di sampingku.

"Lu bakal lama disini, Ras?"
Aku tersenyum, memasukkan smartphone-ku dalam clutch toska yang kubawa dan menggeleng, "Nggak, Yan...kemungkinan gue bakal balik lusa, ga dapat ijin cuti lebih dari universitas nih.."

Rian ber-ooooh panjang. Lalu diam. Aku juga diam. Ada sepi panjang  dan dingin yang menerjang..

Akhirnya aku kalah melawan perasaanku, aku pamit pada Rian, pada Kinar, pada keluarga Rian yang menyerah membujukku tetap tinggal.
Aku tak mampu tetap di sana. Semakin lama melihat semua detil pesta pernikahan ini semakin getir dan sakit hatiku. Dan tentu saja fakta yang paling menyakitkan adalah, bukan aku yang duduk bersama Rian di pelaminan. Bukan aku.

Waktu dan jarak memang bisa merubah perasaan hati manusia. Perasaan hati Rian tepatnya. Dua tahun lalu aku memutuskan mengambil schoolarship S2 ke Finlandia. Rian juga ambil S2, tapi tetap di Indonesia sambil menjaga orangtuanya. Kesibukan kami di tahun kuliah membuat komunikasiku dengan Rian semakin renggang seiring waktu. Lalu berhenti sama sekali. Dan minggu lalu sebuah undangan tiba di flatku. Undangan yang membuatku berada di sini hari ini, undangan pernikahan Rian.

Setengah berlari aku menuruni tangga keluar gedung, menahan air mata yang hendak tumpah ruah sedari tadi. Pandanganku semakin kabur dan akhirnya aku jatuh di undakan tangga terbawah yang licin. Aku tak kuat lagi menahan air mata, ia lolos bertetes-tetes melewati pipiku. Aku bahkan tak sanggup lagi berdiri. Aku menangis sendiri di bawah hujan. Bahkan, menikah di musim penghujan seperti ini adalah impianku.


Read More...

Senin, 17 Juni 2013

(.....)

Leave a Comment
Ini adalah sore paling weird yang pernah saya jalani. Hanya berniat keluar bermotor sebentar untuk beli makanan ifthar (berbuka puasa sunah). Seperti biasa, keluar kostan 1 jam sebelum adzan maghrib bergema dengan harapan bisa segera pulang setelah mempertimbangkan sore adalah jam sibuk jalanan dimana para pegawai pulang dari kantor dan para pelajar wira-wiri di jalan.

Tapi ekspektasi memang tak selalu sesuai kenyataan yah... jalan Gajayana - M.T. Haryono - Soekarno Hatta macet luar biasa. Stuck di jalan hampir 45 menit dan makanan belum terbeli.   Mungkin pengaruh lapar karena tak sahur, tangan mulai kram, pikiran sulit fokus, dan kadang motor pun terasa berat dan tak seimbang. Akhirnya melipir ke jalan Simpang Gajayana dengan harapan macetnya hanya di jalan arteri. Tapi harapan tinggal harapan. Simpang Gajanaya juga macet tak terkendali.. dan telinga ini menangkap kumandang adzan. Ah... I need some water and calories, mampir ke indomart Kalijaga beli minum dan coklat, ifthar di depan indomart seperti yang sering saya dan kakak lakukan dulu saat mudik lebaran ke rumah nenek. Karena benar-benar lemas dan dan haus, saya tak memperhatikan nota dan uang kembalian dari kasir. 

Setelah itu saya ke masjid Muhajirin untuk shalat maghrib, sekali lagi, makanan belum terbeli. Setelah shalat, barulah saya membeli makanan, saat akan membayar itulah baru saya menghitung uang kembalian dari indomart tadi. Kok selisihnya banyak ya? Ngecek notanya, Pocari Sweat dan..... SAMPOERNA. gilak!! Sejak kapan saya beli rokok??! ah, edhun lah... orang kelaparan gini jadi ga fokus dan ga teliti. Jadi ya saya balik ke indomart tadi buat complaint. Kalo terhitung barang lain mungkin saya juga males balik lagi cuma buat komplen, tapi ini tertulis rokok di notanya, dan saya ga terima, sungguh.

Sebelum pulang masih harus mampir ke SPBU karena macet tadi sukses nyaris mengeringkan tangki bahan bakar motor saya. Setelah itu pulang tapi ga ke rumah, ke kostan lah ya, dan baru masuk gang depan, muadzin masjid Tarbiyah sudah menggemakan adzan isya. Saya lemes. Mungkin baru saya ini orang yang keluar buat beli makanan untuk ifthar, tapi  baru dimakan setelah  shalat isya.

Sedih. Ini Malang ya? Malang sekali nasibnya, jadi sering banget macet dan banjir juga... :(
Ah, kalo kang Ridwan Kamil akhirnya pun tak terpilih di Bandung, jadi walikota Malang sajalah ya..
Read More...

Rabu, 12 Juni 2013

ketika... (sebuah Kontemplasi)

Leave a Comment
Beberapa lama menjalani kehidupan yang serba enak membawa kekhawatiranku pada mental sulit susah yang mungkin tengah aku rasakan saat ini..
Mungkin alam lah yang senantiasa bisa menyeimbangkannya..

Jika mau merenung sebentar, teringat kedua orangtua yang setengah mati mencari uang di puluhan ribu kilometer disana. Dan dengan satu kali telepon bilang perlu beli gadget terbaru, aku mendapatkannya.

Dulu dibelikan nasi goreng dan martabak pinggir jalan saja rasanya sudah sangat mewah. Saat ini jamuan hidangan makanan mahal mulai terbiasa memenuhi mulut ini.

ketika makan makanan mahal tak lagi terasa lezat.

ketika berdoa di sepertiga malam tak lagi terasa khusyuk.

ketika ifthar tak lagi terasa nikmat.

ketika mengeluarkan uang dengan jumlah tak wajar untuk sekedar merk tak terasa sayang.

ketika merasa tak sempat lagi mendoakan orangtua dan kawan.

 aku bertanya-tanya, kenapa aku ini?

mungkin karena makanan mahal sudah jadi langganan perut.

mungkin karena di sepertiga malam aku lebih sering terlelap.

mungkin karena aku tak tahan menahan nafsu saat shaum.

mungkin karena aku sering berbangga dengan apa yang nampak di luar.

mungkin karena aku lupa siapa yang tak pernah berhenti mendoakanku.

Aku ingin kembali. Hidup sederhana lagi..
Mengajarkan anakku akan kesederhanaan..

Dan tumbuh dalam kondisi mengerti keadaan mayoritas kehidupan masyarakat indonesia..
Ya Allah...perkenankan pikiranku tetap melangit namun jaga hatiku agar terus membumi..


Read More...

Jumat, 07 Juni 2013

why I love 'Hujan Bulan Juni'?

Leave a Comment
alhamdulillah... sudah masuk bulan Juni. Bulan yang saya percaya selalu membawa kebaikan, sama seperti bulan-bulan lainnya. 
Beberapa hari di awal bulan ke-6 tahun masehi ini hujan masih sering singgah, hampir setiap hari.... dan ini mengingatkan saya pada puisi paling keren dan membekas, puisi karya salah satu maestro  Indonesia, Pak Sapardi Djoko Damono. 


HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu                        

1989
(Hujan Bulan Juni  – hal. 90)


Indah ya....
Saya pertama kali membaca puisi ini dari buku perpustakaan sekolah yang saya pinjam saat jam istirahat saat saya duduk di bangku kelas VII Sekolah Menengah Pertama (info penting!). Sejak saat itu, saya langsung jatuh cinta pada Pak SDD beserta puisi-puisinya, dan sampai sekarang pun saat hujan pertama jatuh di tanggal 4 Juni 2013 kemarin, saya langsung teringat pada puisi ini. 

Kali ini saya mau mengungkapkan ketertarikan saya di balik puisi ini...yah, dengan keterbatasan ilmu saya tentang puisi dan sastra. Toh, ini cuma pengakuan pribadi mengapa saya jatuh cinta.
Yang pertama adalah dari makna puisi ini sendiri. Menurut pemahaman saya, puisi ini bercerita tentang cinta yang terpendam, cinta yang tak terkatakan. Cinta seorang 'hujan' kepada 'pohon berbunga'. Entah kenapa saya hampir selalu tersentuh dengan jenis cinta seperti ini, cinta yang sengaja tak disampaikan, karena memang merasa belum pantas, karena ingin menjaga perasaan masing-masing, dan karena ingin menjaga kesucian cinta itu sendiri. Dan di zaman sekarang, zaman dimana orang-orang bisa menyatakan cinta segampang beli teh gelas di indomart.. saya semakin aware dengan sikap dan prinsip ini. Ini memang ada dalam ajaran agama saya, dan saya yakin apa yang diperintahkan dalam agama saya adalah yang terbaik.  

Tau kan kisah cinta Ali dan Fatimah? Mereka yang memendam rapat-rapat perasaan, sampai setan pun tak tau, akhirnya pun bisa berjodoh. Kita sering lupa, bahwa masalah cinta dan jodoh tak hanya tentang 'aku dan kau', tetapi ada campur tangan Allah disana. Dan saya sangat percaya, skenario yang Allah tuliskan jauh lebih ciamik dan indah daripada roman sekelas Romeo and Juliet karya Shakespeare yang melegenda sekalipun.
Lah, ini saya nulis opo to?  ok, back to topic, puisi Hujan Bulan Juni.

Yang kedua adalah tentang pemilihan kata atau diksi dalam puisi ini. Hujan adalah kata yang sempurna untuk menggambarkan sosok seorang pecinta. Hujan itu sempurna menjadi pelaku. Dia selalu turun beramai-ramai (ya iyalah.. bukan hujan namanya kalo cuma turun setetes), bukti cintanya yang banyak. Selalu memberi dan tak mengharap balasan. Meski pohon berbunga itu tak pernah tau bahwa hujan yang menyokong hidupnya menaruh bibit rindu di setiap tetes rintiknya. Menjadikan hujan sesosok yang tabah, bijak, dan arif.

Dan yang terakhir adalah tahun kelahiran puisi ini sendiri. Puisi Hujan Bulan Juni diterbitkan sekitar tahun 1989, dan meski saya belum lahir saat itu, saya yakin bahwa pada zaman itu cuaca dan musim masih normal, belum kentara kena anomali cuaca akibat efek global warming. Musim hujan sekitar bulan September-April, dan musim kemarau terjadi antara bulan April-September. Pada waktu itu bulan Juni masuk pada musim kemarau, dan hampir tidak ada kemungkinan bakal turun hujan. Tapi pak SDD memilih hujan turun di bulan Juni dalam puisinya. aah..menurut saya ini cerdas sekali. 

Well, adakah kalian yang mencintai seperti hujan bulan Juni?  

Read More...

Rabu, 05 Juni 2013

(belum ada judul)

Leave a Comment
Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah obrolan yang lebih mirip curhatan antara 2 anak manusia, tercetuslah sebuah kalimat, "ya seenggaknya elu kan udah terbina, tinggal nunggu dijadiin bini kan?"

Lawan bicaranya tercekat, hah? maksud lu? 


Apa gara-gara gue rajian update tulisan tentang cinta dan pernikahan ya? Itu kah?

Yaelaaaah, brooooo... ini nih, susah ya ngomongin cinta sekarang... bawaannya pasti dikira galau nikah mulu.  Kaya'nya cinta udah mengalami spesialisasi atau penyempitan makna kata deh.

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia arti cinta adalah:
cin·ta a 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kpd kami semua; -- kpd sesama makhluk2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak -- kpd lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa -- nya akan kemerdekaan4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi -- nya ditinggalkan ayahnya itu;


Nah, keliatan kan... cinta itu ga terbatas pada cinta antara laki-laki dan perempuan (yang lebih suka gue sebut 'asmara') aja. Ada juga cinta kepada Allah (mahabbatullah), cinta kepada Rasulullah, cinta kepada orangtua, cinta kepada saudara/i, cinta kepada adik-adik binaan, cinta kepada alam, 
dll. 

Trus, kenapa juga gue sering ngetweet atau ngereblog hal-hal yang berbau pernikahan, sampai rajin ikut seminar atau sekolah pra nikah??
hahaaa, ini sih lain alasan. Mau tau? Keep calm, minum dulu gih teh nya...

Udah habis teh nya? Yaudah, berarti udah habis juga pertemuan kita kali ini... sampai jumpa lain waktuuuuu.... 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*dimutilasi yang baca* 

eh, ga jadi... becanda aja kali.

Sini, sini... mendekat. Gue kasih tau kenapa gue rajin ikut seminar dan sekolah pra nikah.
Emmm... sebenarnya gue ga menemukan sesuatu yang aneh sih, menurut gue wajar-wajar aja kalo umur-umur segini (apalagi buat perempuan) udah mulai membicarakan dan menyiapkan tentang pernikahan. Dan salah satu persiapannya ya itu tadi, cari ilmu sebanyak-banyaknya tentang kehidupan pasca pernikahan, bisa melalui buku, artikel, sampai seminar atau sekolah pra nikah.

Ya soalnya kan gue belum pernah nikah sebelumnya tapi menginginkan pernikahan yang berkah, yang kalau bisa cuma terjadi sekali dalam seumur hidup, padahal hampir setiap hari kita disuguhi berita-berita orang yang cerai di teve. 
Kehidupan nikah itu kan juga bukan hanya soal elo dan pasangan elo nantinya, tapi juga berkaitan dengan KUA, keluarga besar elo, keluarga besar pasangan elo, dan teman-teman kalian sekalian. 

Nah itu alasan pertama, yang kedua sih karena gue perempuan. Kata Quraisy Shihab, memang sudah menjadi fitrah perempuan untuk disayangi dan dijaga. Yah, bukan berarti gue sebagai kaum perempuan lemah sih... tapi ya memang kaum perempuan perlu dijaga, baik hati, iman, ataupun fisiknya. 

Yaudah sih, itu aja yang pengen gue sampaikan. Soalnya lucu aja liat orang-orang heboh dan mikir aneh tiap kali saya ngetweet atau ngereblog yang berbau pernikahan atau bilang mau ikut seminar pra nikah.

Pesan moralnya:
Nikah itu kan ibadah, seperti ibadah-ibadah lainnya juga yang perlu niat dan ilmu. Jadi ya wajib juga sih kita pelajari mulai dari menemukan jodoh yang syar'i, proses pernikahan yang Islami, dan menggapai kehidupan pasca pernikahan yang (insya Allah) berkah. Dan juga jangan suka membully temen elo yang mau belajar nikah ya... kalo dia ga kuat pendirian trus berhenti proses belajarnya, dan nanti ada masalah dalam kehidupan pernikahannya sedang dia tidak tau bagaimana menghadapinya, elo mau tanggung jawab??
*kyaaaaa... ga nyangka bisa nulis ini. gue kereeeeeen*



Read More...

Kamis, 30 Mei 2013

ini hanya fiksi (8)

Leave a Comment
Bolehkah Aku Tau Nama mu?


Hai, aku Ari. Boleh tau nama mu?

Namaku Ari. Malam Minggu ini aku memutuskan pergi ke bookfair di tengah kota alih-alih tinggal di kontrakan sendirian. Berkutat dengan buku dan komik jauh lebih menyenangkan dibanding ngapel di kostan anak gadis. Aku lebih suka berjam-jam membaca, main PES, nonton bola atau naik gunung bersama sohib-sohibku. 

Namaku Ari. Mahasiswa. Orang bilang aku jomblo, padahal tidak, aku ini masih single. Pacaran itu ribet menurutku, harus lapor-lapor ke orang lain segala macam setiap 5 menit sekali. Hubungan yang tidak dilindungi oleh pemerintah pula, males banget kan? Aku percaya pacaran bukan jalan yang baik untuk mendapatkan pendamping hidup. Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak pernah memikirkan tentang lawan jenis. Aku ini masih normal. Dan, ada seorang perempuan yang belakangan ini selalu mampir ke pikiranku, perempuan yang sangat ingin aku temui lagi, dimana pun dia sekarang berada, meski hanya untuk tau namanya.

Aku tengah berada di salah satu booth penerbit buku ketika melihatnya. Abu-abu. Kerudung dan roknya abu-abunya langsung menarikku ke arahnya bak magnet. Entahlah, dia bersinar. Matanya besar dan tajam. Aku ragu, jangan-jangan dia kesini dengan seseorang. ah tapi akhirnya aku mendekat pula ke padanya. Kini jarakku dan jaraknya tak lebih dari 2 jengkal, aku pun bisa lebih memperhatikannya diam-diam sambil pura-pura membaca buku. Dia begitu khusyuk menjelajahi sebuah ensiklopedia  hingga tak sadar aku beringsut mendekatinya. Seorang penjaga booth menjatuhkan buku tak jauh dari kami, menimbulkan suara gedebuk yang akhirnya membuatnya mengangkat muka mencari sumber suara. Saat itulah dia menatapku yang juga masih menatapnya. Dia tersenyum. Manis sekali. Itu senyuman termanis yang aku dapat seminggu terakhir ini, setelah senyum Dian Sastro yang aku lihat di sebuah iklan teve kemarin sore. Dia masih tersenyum ketika aku tiba-tiba gelagapan, sibuk membalik-balik halaman buku yang pura-pura aku baca.

Namaku Ari. Belum pernah aku segentar ini menghadapi perempuan. Dia kembali asyik dengan ensiklopedianya, dan aku saking gugupnya, hendak menyapa tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkonganku. Mulutku terbuka dan tak ada suara yang keluar. Ini aneh! Aku bergegas meninggalkannya menuju toilet.

"Assalamualaykum. Hai, boleh kenalan?
Hai, aku Ari. Kamu siapa?
Ari Dirgantara. Kamu?"

Aku berlatih berulang-ulang selama 10menit di toilet, berbicara pada dinding. Setelah memastikan suara dan penampilanku ok, aku keluar dan kembali ke booth tadi. Gawat!!! Tidak ada. Dia sudah pergi. Kemana ia? Sudah pulangkah? Pikiranku kalut, baru juga ditinggal sebentar padahal. Aku berputar dan mendapati kerudung abu-abu di deretan kursi depan panggung tak jauh dari booth tadi. Ah, ya... benar itu dia. Dia duduk sendiri membaca. Sebentar lagi acara talkshow dengan salah seorang traveller dimulai. Sang MC sibuk mondar-mandir menyapa para pengunjung. Aku mendekat dan tau-tau duduk sederatan kursi dengannya. Tujuanku duduk hanya ingin melihatnya lagi dan  bertanya siapa namanya, tak peduli dengan si traveller itu. Toh, kenal saja tidak. Deretan kursi itu terdiri dari 5 buah kursi kosong yang berjejer. Dia duduk di ujung kiri dan aku duduk di ujung kanan.

Ini saatnya, aku bertekad dalam hati.

Aku menggeser duduk dua kursi mendekat ke arahnya. Dia menoleh, tersenyum lagi. Dan lagi-lagi kekuatan yang aku kumpulkan di toilet tadi menguap bagai alcohol yang ditaruh di bawah terik matahari. Aku kikuk membalas senyumnya lalu lurus-lurus menatap ke depan.Tak berani berkutik.

Acara talkshow dengan salah seorang traveller dimulai. Dia menutup bukunya dan mulai menyimak obrolan MC dan sang traveller. Senyumnya semakin terkembang dan matanya berbinar-binar. Tampaknya dia sangat mengagumi sang traveller. Aku perhatikan ranselnya yang ditaruh di dekat kakinya, oh, pantas... ranselnya penuh dengan kain-kain tambalan bertuliskan nama-nama tempat tujuan travelling, Indonesia dan juga luar negeri. Semuanya dijahit acak hampir memenuhi tas. Ada beberapa gantungan kunci cinderamata dari Tangkuban Parahu, Malioboro Djogja, KarJaw, dan yang tak terlihat lagi.

Datang seorang ibu dan putranya yang berumur sekitar 10 tahun duduk disebelah kananku. Bisa saja ini aku jadikan alasan untuk menggeser duduk lebih dekat dengan perempuan bersenyum manis ini, tapi entah mengapa urung kulakukan. Aku takut mengganggunya. Beberapa saat kemudian, suami si ibu sampingku datang, berbicara dengan istrinya sembari berdiri. Perempuan itu menoleh ke kanan, ke arahku, tajam, tanpa berkata apa-apa. Aku terkesima, balas menatapnya. Lama, sekitar 2 menit yang aku rasa 2 tahun, lalu aku tersadar dia bukan menatapku, pandangannya melewatiku dan sampai ke bapak-bapak dan istrinya di sebelahku. Aaarrggghh...

Masa' iya dia tak menyadari kuperhatikan sedari tadi? apa sebenarnya dia sadar tapi sengaja mengacuhkanku? aku mulai berasumsi. Ya udahlah, langsung saja kusapa ya. Kebanyakan mikir nih malah ga jadi-jadi nih. Tepat saat itu ponselku berbunyi. Si Radit, teman kontrakanku memanggil.

"Halo.."
"Ri, dimana lo? Cepet pulang lah!"
"Di bookfair. ah, kenapa sih? gue lagi ada misi penting nih."
"Pulang sekarang dah! Kunci kontrakan gue ilang lagi, gue ga bisa masuk nih."
"Kebiasaan! Ga ah.. lo telpon Eko atau Panji sana! atau ga bobol aja deh.. "
"Gila! disangka maling habis lah gue. Eko kan pulang kampung. Panji juga lagi ngapel sama ceweknya. tolong dong, Ri..."
"Kampret lo! Ya udah, gue pulang nih!" aku berusaha mengecilkan suaraku.

Namaku Ari. Akhirnya aku pulang tanpa sempat berkenalan dengan gadis berkerudung abu-abu itu. Setelah hampir 1 jam mengintainya, ujung-ujungnya pun aku tak berani bahkan hanya untuk bertanya siapa namanya. Ini seperti udah nungguin ditraktir temen makan pizza sejak bulan lalu pas hari-H doi sakit, ga jadi nraktir, malah pinjem duit ke kita. Ngenes.

Yasudahlah. Kota tempat tinggalku ini luas, ditinggali oleh ribuan orang... tapi aku berkeyakinan kalo memang jodoh kita akan bertemu lagi kok. Sampai jumpa gadis berkerudung abu-abu, lain kali pasti akan kutanyakan siapa namamu.



Malang,
30 Mei 2013

Read More...

Rabu, 29 Mei 2013

abaikan

Leave a Comment
mendadak galau. serasa benar-benar sendiri. ditinggalkan semua orang naik perahu nabi Nuh dan cuma saya yang ga diajak. 
Ah... yasudalah... emang usaha saya belum ada apa-apanya, doa pun sekadarnya, niat juga kadang ga ikhlas kan?  
mari perbaiki diri. semangaaaaaaat!!! 

Read More...

Senin, 27 Mei 2013

Talkshow with bang Darwis Tere Liye

Leave a Comment
Yeayyy... belakangan ini benar-benar candu bertemu dan berdialog langsung dengan para penulis atau sesiapapun yang keren dan menginspirasi.

Beberapa waktu yang lalu saat mendengar bang Tere Liye akan berada di UnAir Surabaya, saya langsung galau, ingin ikut tapi tidak memungkinkan untuk berangkat kesana sendiri. Akhirnya mendapat rekomendasi dari seorang kawan untuk ikuti saja SGM4 yang diselenggarakan oleh mahasiswa FTP UB, ada bang Tere Liye-nya juga kok.

di tiket yang saya beli tertulis acara di mulai jam 08.00 , padahal saat itu saya masih membina pelajar di sebuah yayasan dan setelahnya pun masih ada rapat evaluasi. Akhirnya saya tiba di pelataran Widyaloka Universitas Brawijaya tepat setelah shalat dzuhur. Kata mbak panitia, sekarang sudah closing dari pembicara sebelumnya, saya pun memutuskan untuk menunggu talkshow di hall saja. Sayang juga sih beli tiket seminar mahal-mahal tapi cuma bisa ikut talkshow di akhir acara....tapi yah, gimana lagi coba. Wan Wan Emoticons 20

Beberapa saat berlalu, saat saya tengah memandangi novel-novel terbaru bang Tere Liye yang belum terbeli, muncul sesosok lelaki yang dirubungi panitia-panitia berseragam batik mendekati meja stand tempat saya berada. Haaaa... itu bang Tere Liye!! Pakai kupluk dan sweater kaos abu-abu, celana jeans, dan sendal jepit swallow... takjub lah saya. Serasanya pengen langsung nyodorin novel Bidadari-Bidadari Surga yang saya bawa buat ditandatangani langsung oleh penulisnya. Tapi saya berhasil menahan diri. Pikir saya, bang Tere mungkin capek, baru datang dari bandara, tuh.. masi pake sendal jepit. Masih mau berganti pakaian untuk talkshow nanti. Makanya setelah itu beliau masuk ke ruang tunggu.

Jam 1 siang setelah ishoma, saya masuk ke ruang talkshow...dan saat acara dimulai dan bang Tere Liye masuk ke ruangan pun ternyata masih pake atribut yang sama yang saya sebutkan tadi, termasuk sendal jepitnya. ahahaa... keren lah ini orang, sungguh!
Kemudian beliau mengawali bagi-bagi ilmu menulisnya dengan mengajukan sebuah pertanyaan, retoris menurut saya, "kenapa harus menulis?" yang dijawab sendiri dengan memberikan dua buah cerita. Pertama mengenai 3 dokter yang cantik hatinya, dan yang kedua tentang pohon kelapa yang tidak pernah kemana-mana. Baca sendiri ya.. ada kok ceritanya di fanpage Tere Liye ini. 




Secara garis besar saya tuliskan kembali tips menulis ala Tere Liye ya...dibaca saja dulu, saya tidak banyak mencatat soalnya, saya lebih suka merekam :)
Oiya, yang saya tulis tebel ini bener-bener dari bang Tere lho, kalo penjabarannya sih saya kembangin sendiri... maap kalo ngawur :P

  1. Menulis dengan sudut pandang spesial.
    Well, ini menarik. Pernah nonton Shrek? semua sekuelnya? sadarkah bahwa semua cerita dari yang pertama sampai keempat sama? ada seorang putri raja yang cantik jelita, ditawan  di sebuah kastil yang dijaga oleh naga buas yang bisa menyemburkan napas api, lalu ada ksatria yang datang menyelamatkannya, lalu mereka berdua menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. 
    Got it? yang membedakannya sehingga kita ga bosen nontonnya adalah sudut pandang yang special dalam melihatnya. Peran naga diganti ibu peri, kastil diganti gubuk, dan lain-lain. Dalam talkshow kemarin bang Tere Liye meminta kami untuk menuliskan tentang "Mulut". Sederhana. 1 kata saja. Sebisa mungkin jangan berpikir biasa dan lalu menuliskan yang biasa juga semisal, "mulut adalah tempat kita memasukkan makanan saat sedang makan. Di dalamnya terdapat gigi-gigi yang tersusun bla..bla..bla..."
    Tapi tuliskan sesuatu yang berbeda, yang tak terpikirkan oleh orang lain, out of the box. Contohnya? Cobalah pikirkan dan tuliskan sendiri, huehehee Onion Head Fanmade Emoticons 17
  2. Selalu punya amunisi
    Amunisi? mau perang nih? Maksudnya amunisi buat nulis lah... biar kamu selalu tau mau nulis tentang apa yang bagaimana, mau nulis tentang siapa yang bagaimana, mau nulis apa sajaaa...
    Ya aneh kan kalo kita mau nulis tentang Yuri Gagarin misalnya, tapi kita kenal dia aja nggak, tau kerjaan dia aja nggak...ya akhirnya ga nulis apa-apa deh.
    Jadi ya perbanyak amunisi, banyak-banyakin bahan buat nulis, memperluas wawasan juga. Caranya: sering-sering baca buku, baca artikel, baca apapun, termasuk baca semua kejadian dan tanda-tanda di sekitar kita, termasuk sering-sering melakukan perjalanan dan berinteraksi dengan orang lain.
  3. Mulai menulis itu mudah, gaya bahasa hanya masalah kebiasaan, menyelesaikannya lebih mudah lagi.
    Pernah ga kamu makan masakan rendang emak kamu yang super enak trus penasaran kenapa rasanya ga sama dengan rendang yang kamu beli di warung padang deket kostan? Saya sering, trus sering pula maksa ibu saya ngasih tau  apa bumbu rahasianya, tapi kata ibu saya ga ada, ya dimasak-masak aja itu daging sapi.
    Gitu juga sih sama kalo nulis, gimana ya bang Tere Liye bisa bikin kalimat-kalimat ajaib yang bikin air mata berderai-derai? ya ditulis-tulis aja... gaya bahasa dan diksi bisa menyesuaikan kok. Hahaa... walopun saya sendiri juga sering nulis dan banyak yang ga selesai karena tiba-tiba kehabisan ide *keplak kepala sendiri* Wan Wan Emoticons 54
  4. Tidak ada tulisan yang baik ataupun jelek, yang ada hanya tulisan yang relevan atau tidak relevan.
    Ternyata eh ternyata, novel Hafalan Shalat Delisa adalah novel yang belum selesai. Jadi, ketika bang Tere Liye menuliskannya sampai part Delisa menemukan kalung dan lalu terjatuh itu bang Tere juga males ngelanjutinnya, akhirnya naskah gantung itu dikirimin ke penerbit dan dibukukan lalu terjual ribuan copy. Nah, it means... suka-suka aja kalo nulis sesuatu. Hak nulis sepenuhnya ada di tangan si penulis itu sendiri, mau ditutup meski cuma satu paragraf, mau ditutup setelah setebal gabungan novel Harry Potter 1-7, sah-sah saja.
    Tapi ini cuma berlaku untuk tulisan fiksi lho... tidak berlaku untuk skripsi. Kebayang ga, lagi sumpek di bab III, mentok ga ada ide lagi trus nekat nulis TAMAT... hahaaa... eh, maap mendadak curhat.
    Oiya, masalah relevan-tidak relevan ini juga berlaku buat skripsi loh, kalo katanya Pak Anies Baswedan "skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai", nah.. kalo skripsi udah selesai cuma pas ujian kita dibantai habis-habisan, berarti dosen penguji itu yang ga relevan dengan skripsi kita, bukan skripsi kita yang ga baik, kan? hahaaa *dibacok dosen* 
    Miss Bone Emoticons 19
  5.  Latihan, latihan, latihan! Terakhir ya sering aja nulis buat ngelemasin tangan dan ngelancarin otak mikir, ngerangkai kata... sama kaya' MC yang asik dan ga garing karena sering bawain acara dan tinggi jam terbangnya, penulis yang semakin sering nulis juga bakalan bisa bikin tulisan yang ok kaya' bang Tere Liye kok, aamiin :)
Miss Bone Emoticons 105


Di akhir acara saya nitipin novel Bidadari-Bidadari Surga yang saya bawa kepada panitia untuk ditandatangani oleh bang Tere. sayang sih ga bisa minta langsung, tapi ga apalah... keempat novel bang Tere yang saya miliki sekarang sudah ditandatangani semua akhirnya 

 


Read More...

Sabtu, 25 Mei 2013

Talkshow with mas Agustinus Wibowo

Leave a Comment
Tepat setelah shalat Maghrib saya berangkat ke Skodam Tugu, sendiri. Malam minggu ini masih gerimis, titik-titik hujan yang jatuh bisa membuat jacket yang saya pakai kuyup juga sesampainya di sana. Well, berbeda seperti bookfair yang biasa, bookfair kali ini hanya menampilkan buku dari sedikit penerbit, diantaranya InDiva, Kompas, dan Gramedia sebagai penyelenggara utamanya. Banyak buku dan komik yang menggiurkan, salah satunya Ekspedisi Cincin Api. Laaaah... ini buku udah kaya' ensiklopedi, keren banget. Sayang mahal :(

Ok, tapi sebenarnya tujuan saya datang ke bookfair menembus gelap dan hujan ini adalah untuk mengikuti talkshow dengan mas Agustinus Wibowo, the author of Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Well, he's a traveller... that's why I'm so excited :')

Sekitar jam 19.00 talkshow dimulai. Awalnya cuma ada 2 MC di panggung lalu diputarlah trailer yang berisi foto-foto jepretan mas Agustinus Wibowo, saya sampai melongo dibuatnya. Itu asli keren bangeeeet... dan kata-kata penyandingnya pun pas banget, kena banget apa arti perjalanan sebenarnya.
Lalu, setelah trailer selesai, si MC manggil mas Agustinus Wibowo, dan yang bergerak maju adalah mas-mas berkemeja hitam dengan aksen batik yang duduk di sebelah saya. Omaigaaaaaad.... itu tadi yang duduk samping kiri saya mas Agustinus Wibowo gitu?? Astaga, saya sering melihat wajahnya, tapi saya benar-benar ga menyangka kalo beliau bakal maju dari kursi penonton, bukan dari belakang panggung seperti dugaan saya.



Dan butuh 10 menit mendengarkan bincang-bincang dengan MC saja saya bisa tau kalo mas Agustinus ini orangnya rendah hati dan santun sekali, pemilihan kata-katanya enak, tanpa ada nada untuk menyombongkan diri.

Mas Agustinus Wibowo memulai perjalanannya saat selesai kuliah di Beijing, China. Beliau memilih   perjalanan darat dengan tujuan negara-negara -istan (Afganistan, Uzbekistan, Tajikistan, Pakistan, dll). Kenapa perjalanan darat? Kenapa ke negara-negara Asia yang rawan perang, bukan ke Eropa yang bak surga? Biaya, brooo... masalah klasik, biaya. Mas Agustinus saat itu hanya mempunyai uang 20 juta rupiah di koceknya dan perjalanan dengan jalur darat ke negara-negara tersebut memang lebih murah biayanya. Beliau sempat tinggal 3 tahun di Afganistan sebagai wartawan perang, dan disitu beliau benar-benar merasakan keramahan orang-orang di sana.

Dalam talkshow tersebut saya juga sempat bertanya tentang beberapa hal; 
1. tentang bedanya 'the real traveller' dengan (meminjam istilahnya mas Agustinus sendiri) 'pencari eksotisme', 
2. suku Pushtun yang sempat heboh belakangan ini akibat isu-isu yang beredar lalu sempat ditweetkan oleh mas Agustinus, dan 
3. rencana ke depan mas Agustinus setelah menikah, kali saja beliau ada rencana untuk melakukan couple traveller seperti mbak Dina dan Ryan @DuaRansel :P

Akhirnya seluruh pertanyaan saya itu dijawab lengkap tuntas oleh mas Agustinus. Sangat memuaskan dibalut kalimat yang santun dan penjelasan yang tidak menjemukan. 
Dan saya pun dapat sebuah bingkisan berbentuk buku karena sudah bertanya, tapi yakin banget dah saya ini bukunya bukan dari mas Agustinus Wibowo, tapi dari pihak penyelenggara... kenapa? soalnya setelah dibuka ternyata isinya adalah buku "Dahlan Iskan Sang Pendobrak". Liat deh... nyambung di bagian mananya cobaaaaa?? 


Tapi, tetep dah bersyukur dapat buku gratis. Alhamdu.... lillaaaah :D

Beberapa tahun tinggal di negara-negara Islam membuat mas Agustinus Wibowo juga ikut menghormati para muslimah, buktinya saat saya bertanya soal suku Pushtun itu, mas Agustinus paham bahwa kaum tersebut sangat menjaga wanitanya sehingga hendak mengambil gambarnya saja harus meminta ijin kepada keluarganya dulu. 
Saat memberikan bingkisan buku ke saya juga kemarin mas Agustinus tidak menjulurkan tangannya mengajak saya bersalaman, melainkan langsung mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dan mendapat perlakuan seperti ini dari lelaki non muslim tentu saja membuat saya merasa sangat dihargai :D

Over all, seperti yang sudah saya tulis dan sudah kalian baca tadi, mas Agustinus itu orangnya keren, hasil fotonya keren, bukunya keren, dan obrolannya pun keren. Kesimpulannya, mas Agustinus Wibowo itu kereeeeeen!!

:D
Read More...

Kamis, 23 Mei 2013

Yang Ketemu di Jalan

Leave a Comment
Mahasiswi tingkat akhir, saya ini.
Beberapa lama jarang ke kampus karena memang tak ada lagi kuliah, padahal kostan saya hanya seplesetan dari kampus. Malah sebulan ini lebih sering nyelonong ke kampus tetangga ketimbang kampus sendiri.
Hingga siang kemarin, saat saya ke kampus untuk mengurus suatu ihwal persuratan, saya bertemu bapak-bapak.. eh, seorang bapak aja sih yang tugasnya membersihkan masjid kampus. Saya ga tau nama bapak ini, hanya saja sejak dahulu kala saat saya masih sering ke kampus, setiap ketemu bapak ini pasti saya senyum dan sapa. 
Kemarin itu, saat saya jalan santai sendiri menuju fakultas, ketemu lagi lah sama bapak ini... eh, ga disangka beliau yang duluan menyapa. 

"lama ga liat mbak ini... abis di rumah ya, mbak?"
saya kaget, lalu tertawa ringan... "Hehee, nggak kok, pak. saya disini-sini aja"

"udah selesai to, mbak?"
"belum, pak... masih ngerjain skripsinya" jawab saya, malu juga sih ditanyain gitu.
"semoga cepet wisuda ya, mbak..."
"aamiiin, makasih pak... saya mau ke fakultas dulu, pak.." saya pamit undur diri.

Sampai di fakultas lalu nunggu lift, ketemu pula sama Mr. Robert, dosen PKPBI saya saat masih semester 3 lalu. Dan ga disangkanya lagi, beliau juga masih ingat ke saya, haqqul yaqin karena saya dulu yang paling cerewet di kelas Bahasa Inggris nya dahulu, hahahaa :D

dan dimulai lah percakapan yang kurang lebih sama dengan percakapan sebelumnya.

Yah, inti tulisan ini memang ga jelas... tapi satu amanat penting yang mungkin bisa saya ambil dari tulisan ini adalah: "jika Anda adalah mahasiswa tingkat akhir, persiapkan mental anda untuk menangani obrolan-obrolan seputar status, skripsi, dan wisuda. Dan jangan cemburu jika orang-orang yang Anda temui akan lebih sering menanyakan kabar skripsi Anda ketimbang kabar Anda sendiri. Sekian."



Salam Super,

Malang, 23 Mei 2013

Read More...

Kamis, 16 Mei 2013

Lelaki itu...

Leave a Comment
Ini tentang lelaki yang kepadanya jatuh cinta saya yang pertama.
Ini tentang lelaki paling jujur dan bertanggungjawab yang pernah saya kenal seumur 22 tahun hidup ini.
Bapak.
Bagaimana tidak, saat saya pertama tiba di dunia benderang ini, suara adzan dari mulut beliau lah yang sayup-sayup pertama dikenal oleh pengindera ini.

Bapak saya itu orangnya biasa aja, tapi secara personal, beliau luar biasa.
Pernah suatu kali saya bertanya-tanya, kenapa hampir semua orang yang ada di kota kami mengenal bapak, selalu menyapa... kata bapak, teman saja sedari dulu. Hingga pada suatu hari, saat bapak mengantar saya ke bandara, salah satu supervisor yang baru keluar dari kantor yang melihat bapak langsung datang menghampiri dan menyalami bapak. Setelah ngobrol sebentar, orang itu pamit dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Siapa, pak?" saya bertanya.
"Pak X. Dulu Bapak yang ngajarin, sekarang sudah jadi orang gede."

Saya diam. Mikir. Setau saya bapak ga pernah jadi guru. Sejak dahulu sudah berprofesi sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ah, rupanya banyak hal rahasia yang belum saya ketahui dari lelaki hebat ini...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maret kemarin, keluarga saya pindah keluar dari rumah dinas karena bapak saya sudah hendak pensiun. Rumah baru kami jaraknya hanya sekitar 300m dari rumah dinas tersebut, dan pula masih berada di sekitar asrama tentara. 

Disini, saya sedikit gusar. Apa kabar bapak setelah tidak lagi ngantor? Pasti beliau kesepian...
Diam-diam saya sering menelepon ibu sekedar untuk bertanya apa kabar bapak, sedang apa. 

"Bapak lagi ke masjid."
"Masjid x (asrama dulu)?"
"Nggak dong, sekarang tiap hari ke masjid y, shalat 5 waktu. Biar ada undangan dan hujan sekalipun."

Jawaban ibu membuat saya tercengang dan bangga, bahwa setelah ini pun bapak saya semakin rajin ke masjid. Dulu, saat masih di asrama dan aktif bekerja, bapak saya hampir ga pernah ketinggalan berjamaah di masjid asrama. Subuh, dzuhur dan ashar saat masih jam kantor, lalu pulang jam 16.30, mandi dan menunggu magrib, lalu ke masjid dan tak pulang sampai isya.

Bapak juga sudah menjadi anggota DKM Masjid x selama  puluhan tahun, jadi bendahara masjid  selama dua periode karena ga ada lagi anggota lain yang dicalonkan. Masjid x yang notabenenya adalah masjid asrama, hanya ramai ketika shalat jumat, shalat tarawih, dan hujan saat waktunya shalat Ied.
Selain itu, sepi... paling banyak tak lebih dari 10 orang makmum setiap harinya. Pernah pun, bapak hanya seorang diri di masjid. Takmir masjid entah kemana sehingga tak ada yang mengumandangkan adzan walau sudah masuk waktu shalat. Akhirnya bapak adzan, menunggu, tak seorang pun yang datang. Bapak shalat sendiri lalu pulang.

See? Lelaki seperti itu mana bisa tidak membuat saya jatuh hati... 
Lelaki sederhana yang tak pernah macam-macam, sayang keluarga, dan hatinya selalu terpaut dengan masjid.
Bapak yang selalu ngajak saya lomba siapa yang lebih dahulu khatam bacaan Qurannya setiap Ramadhan. Bapak yang selalu cemas saat saya absen menelpon ke rumah. Bapak yang selalu mengajarkan dari tingkah lakunya bahwa kejujuran adalah barang berharga warisan agama ini yang harus selalu dijaga.
Semoga Allah masih menyimpan cadangan lelaki seperti bapak sebagai jodoh saya nanti :)



Untuk beliau, bapak juara satu di seluruh galaksi Bima Sakti...
Malang, 16 Mei 2013

Read More...

Jumat, 10 Mei 2013

ini hanya fiksi (7)

Leave a Comment
Aku bertanya-tanya pada diri, apa yang kucari? 


Setelah beberapa saat, aku mulai muak dengan semua rutinitas ini. Rupanya terlalu lama aku bersemayam dalam zona nyamanku. Hingga hari ini ada bosan dalam nyaman.
Aku capek. Bosan. Jenuuuuuh!
Seperti terhimpit di ruang besar nan luas, hanya ada aku seorang.
Seperti terpenjara dalam sarang emas, padahal aku adalah burung bebas.

Seutas pikiran dalam kepala berkata padaku, "Kau telah menjadi contoh nyata dari Hukum Gossen."
"Maksudmu?"
Pikiranku lalu berkicau, "Hukum Gossen bicara tentang tambahan kepuasan yang akan semakin menurun. Intinya, jika  suatu kebutuhan dipenuhi secara terus-menerus, maka akan terbit rasa bosan. Manusia itu, yah... manusia macam kalian itu terlalu manja, apa-apa minta dipenuhi, tapi tak pernah  merasa puas!"
Aku diam, pikiranku diam, semua diam.

Sudah, mari tinggalkan sejenak pikiranku itu, dia benar, tetapi aku tengah sebal, malas menanggapinya. 
Lalu datang sebersit perasaan menyapa, "Kau kenapa?"
"Aku capek berdiam, aku lelah berkeluh di pojokan, aku bosan dengan kenyamanan ini.... aku ingin terus berlari, terus menantang hidup, merasakan lagi ketidakpastian demi mencari kepastian. Aku tak ingin terus seperti ini, hanya berkutat dengan kehidupan dalam radius 15km, dengan semua orang yang aku kenal, dengan rumput dan pohon yang telah aku hapal. Aku ingin kembali merasakan degup jantung saat tak tau harus memilih jalan ke kanan atau ke kiri, penasaran dengan wajah-wajah asing siapa lagi yang akan aku temui, dan obrolan-obrolan tengah malam yang kaya hikmah." Aku meluber, menumpahkan semua uneg-uneg.
Perasaanku diam, tersenyum lebar, lalu bertanya pelan, "Kau sudah bersyukur untuk hari ini?"


Malang, 10 Mei 2012,
Pagi yang tak lagi dingin

Read More...

Rabu, 08 Mei 2013

Cermin

Leave a Comment
al-Umm madrosatul ulaa
Ibu adalah sekolah pertama.

Karena itu seorang perempuan harus cerdas, harus banyak membaca, harus berwawasan luas, dan tentu saja memiliki pemahaman yang baik. Apapun profesinya. Entah wanita karier atau ibu rumah tangga.

Sejak zaman dahulu, entah mengapa sudah tertanam dalam pemikiran bahwa seorang perempuan harus cakap dalam urusan rumah tangga, mulai masak, membereskan rumah, sampai mengatur manajemen keluarga. Mungkin karena budaya timur yang kita anut.

Anggap saja saya kenal seorang ibu rumah tangga, seorang ibu yang 85% waktunya berada di rumah, aneh saja melihat rumahnya tak tertata rapi. Buku-buku pelajaran anaknya berserakan di sana-sini, tas dan sepatu seenaknya menjajah ruang tamu.
Sedih rasanya jika melihat seorang ibu yang seharusnya mendidik budi pekerti sang anak malah asyik menyimak drama Korea di teve sore-sore, sementara si anak duduk bersama orang lain yang bukan siapa-siapa, mengajarkan doa hendak belajar sampai memimpin shalat berjamaah.

Dari ibu-ibu itu kemudian saya bercermin. Ada bayangan yang terpantul, tapi tidak seperti bayangan maya, diperbesar, dan terbalik yang dihasilkan lensa cembung... saya melihat dan mulai menandai apa yang harus saya lakukan jika saya menjadi seorang istri dan ibu nanti.

Sempurna-nya seorang perempuan bukan karena dia telah menjadi ibu. Saya rasa itu masalah kesempatan. Bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang belum atau tidak berkesempatan? Yang belum menikah, yang tidak kunjung hamil, yang karena suatu penyakit lalu diangkat rahimnya dan melayanglah kesempatan menjadi ibu?
Maaf, kalau kalian tidak setuju, tapi menurut saya, perempuan akan sempurna jika dia sadar 
kodratnya dan bisa melaksanakan sebaik-baik tugasnya sebagai perempuan.
Read More...

Rabu, 01 Mei 2013

ini hanya fiksi (6)

Leave a Comment
Kemana Ia? 


beberapa waktu ini tak menjumpainya.
Dia, yang biasa muncul hampir setiap hari, kadang pagi menemaniku melahap sarapan, kadang pula petang, bikin aku tersenyum riang.
Kemana ia?

beberapa waktu ini tak mendengar suaranya.
bikin aku rindu karena tak kunjung bertemu.
Dan aku pun bertanya-tanya, kemana ia?
Jikapun ia pergi, kenapa tanpa pamit?

Aku jadi tak sempat mengucapkan 'sampai jumpa kembali' padanya,
pada hujan di bulan April.

Read More...